Psikodrama : Sebuah Perjalanan Memasuki Benteng Pertahanan Diri


 

Temanku sering kali berkata padaku, ”Hidupmu tu enak banget ya! Ga perlu mikir pusing-pusing besok mau kerja apa, orangtuamu udah punya lahan buat kamu. Kamu tinggal ngelanjutin aja ! ”. Mereka yang tidak tahu-menahu bagaimana sebenarnya hidupku, dengan seenaknya menyatakan keirian mereka. Ketika mereka mulai menggodaku seperti itu, aku hanya bisa tersenyum, pura-pura malu, padahal di dalam hati aku berusaha menahan tangis. Ya, aku menahan tangis keluar dari sudut mata.

Mereka hanya melihat topeng-topeng yang aku dan keluargaku tunjukkan kepada dunia. Alangkah lucunya. Ketika orang lain berkata bahwa keluarga kami begitu harmonis, orangtuaku begitu humoris, kami sangat akur, alangkah lucunya. Jika mereka mengetahui kebenarannya, mungkin mereka tidak akan pernah terbersit untuk mengatakan hal-hal itu.

Hal-hal yang berusaha aku sembunyikan, aku tekan, aku paksa masuk di suatu sudut diriku, mungkin sudah terlalu banyak dan akhirnya ia penuh. Beberapa minggu terakhir ini aku merasa lemas, tenagaku seperti terkuras. Entah karena pola makan yang kurang teratur, atau karena banyaknya tugas yang butuh untuk kuselesaikan. Tapi suatu ketika aku menemukan sebuah artikel yang mengatakan bahwa “seseorang yang sedang dilanda kesedihan akan cepat terkuras tenaganya dan mereka akan cepat lelah”. Lantas aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku sedang dalam keadaan sedih? Tapi apa yang aku sedihkan?”

Pertanyaan itu muncul setiap kali aku bangun dari tidurku. Beberapa pekan terakhir aku bahkan mengalami susah tidur karena alasan yang aku sendiri tidak pahami. Aku berusaha membaca berbagai buku untuk melelahkan mataku, berharap pada akhirnya aku akan bisa tidur sesuai jam tidur pada umumnya. Berkali-kali aku mencobanya, namun tetap saja nihil. Aku pasti terbangun tengah malam dan tidak akan bisa tertidur lagi hingga pagi. Betapa melelahkannya.

Sampai pada suatu siang, aku membuka pesan di grup medsos  angkatan. Ada ajakan untuk mengikuti suatu acara yang kebetulan sejak lama aku tertarik padanya. Aku akhirnya mendaftarkan diri untuk mengikuti acara itu, kelas Psikodrama. Dari namanya saja, mungkin akan ada bayangan mengenai kegiatannya. Ya, awalnya aku mengira bahwa kami akan memainkan suatu peran, entah itu nyata atau tidak, sebagai satu bentuk terapi. Tapi itu tentu saja hanya bayanganku, pendapatku. Dan pendapatku itu berubah drastis ketika aku mulai mengikuti setiap proses dari Psikodrama.

Fasilitator kami bernama Retmono Adi. Mas Adi, kami memanggilnya. Waktu itu ia masuk dengan mengenakan pakaian yang menurutku sangat santai, sampai-sampai aku tidak mengira bahwa ia lah sang juru drama yang akan membimbing kami (tanpa mengurangi rasa hormat, ini hanyalah pernyataan kejujuran). Kelas pun dimulai dengan susunan kursi melingkar, menghadap satu sama lain. Hal ini mungkin ditujukan agar kami lebih mengenal peserta lainnya, entah lah aku belum mengerti saat itu. Beliau pun mulai memperkenalkan diri, dengan gayanya yang khas. Seisi ruangan kemudian tahu, bahwa kelas ini akan menjadi kelas yang menyenangkan. Dengan perangainya yang easy going, beliau membimbing kami untuk memulai kelas psikodrama.

Tantangan pertama yang kami hadapi adalah pertanyaan besar mengenai kesediaan membuka diri, “Silahkan posisikan diri kalian pada satu rentang ini, mau 1% atau 100%?”. Hei, aku datang kemari dengan setumpuk rasa ingin tahu. Apa menurutmu aku akan berdiri saja di pojokan 1%? Tidak, bukan? Aku mengambil posisi 70%. Cukup banyak untuk mengeksplorasi, dan cukup aman untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan (tentunya karena ini adalah kelas pertamaku, aku masih butuh untuk mengobservasi). Kelas pun dilanjutkan dengan teknik sosiometri. Tunggu, sosiometri bukan hitung-hitungan seperti psikometri, tidak ada hubungannya. Sosiometri lebih kepada teknik yang melibatkan interaksi antar manusia yang bertujuan agar para peserta bisa mengungkapkan diri secara lebih dalam mengenai apa yang ada di dalam ketidaksadarannya. Dan percaya lah, teknik ini benar-benar menguras tenaga. Aku baru menyadarinya ketika kelas telah usai. Bahwa ketika melakukan sosiometri, otakmu secara sadar berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Fasilitator, sedangkan jiwamu secara perlahan mengangkat sisi ketidaksadaranmu ke permukaan. Lalu boom! Seperti orang yang terhipnotis, hal-hal yang kau sembunyikan jauh di dalam sana, akan perlahan-lahan terangkat ke kesadaran, bahkan keluar begitu saja dari bibirmu. Aku bukannya melebih-lebihkan, tapi ini memang benar terjadi.  Aku mengeluarkan sisi kerapuhanku ke publik. Gawat, batinku.

Aku mulai mengoceh, yang sebenarnya tidak aku maksudkan. Tapi entah mengapa, ada suatu dorongan dalam diriku yang membuat semua kata-kata itu keluar. Mereka keluar begitu saja bak menyemburkan air bah. Kemudian aku mulai menangis karena berusaha untuk menahannya keluar. Semakin aku berusaha menahan, semakin keras airnya keluar. Aku kemudian mengalah, dan membiarkan diriku untuk mengeluarkan apa pun yang aku rasakan. Aku ingat  benar kata-kata Mas Adi pada waktu itu. “Ketika kata-kata sudah tidak mampu lagi mewakili perasaan, saat itu air mata memainkan perannya. Ia bisa mengatakan apa yang tidak bisa kau katakan dengan kata-kata. Saat air mata mulai turun, biarkan. Lepaskan. Karena itu tanda bahwa sesuatu sedang berubah di dalam dirimu”, begitu kira-kira pesan yang aku tangkap ketika itu.

Awalnya, aku enggan untuk membuka diri karena aku tidak ingin dianggap lemah. Teknik sosiometri ini, dengan ajaibnya membuatku membuka diri tanpa ada paksaan. Ia membuatku bercerita mengenai kelemahanku, mengenai kerapuhanku. Sempat aku berpikir, “Nah, sekarang semua orang akan melihatku penuh iba. Dan aku benci dikasihani!”. Namun seiring berjalannnya sesi demi sesi, aku mulai menyadari bahwa mereka memandangku dengan tatapan penuh kepedulian. Tatapan peduli dari seorang yang pernah mengalami kesakitan dan tatapan seseorang yang ingin menolong. Aku menyadari hal itu, kemudian membiarkan mereka melihat diriku apa-adanya. Diriku yang tidak berseragam baja, diriku yang tidak memakai topeng, diriku yang menanggalkan semua riasan buatan itu. Aku menujukkan kepada mereka wajah asliku tanpa persona. Bahwa aku ini sebenarnya sedang dilanda kesedihan, namun aku tidak menyadarinya selama ini. Aku baru menyadarinya sekarang, saat aku bertemu dan berbagi cerita dengan mereka. Saat aku mengetahui kisah tragis yang dialami oleh sebagian dari mereka. Aku baru menyadari bahwa masalah adalah teman terbaik manusia, dan ia bisa datang dalam bentuk  yang bermacam-macam. Namun ia tetap memiliki satu tujuan yang sama, memberikan sakit untuk mendewasakan.

Aku belajar banyak dari sesi Psikodrama. Belajar dari pengalaman teman yang lain, yang ternyata jauh lebih menyakitkan dari apa yang pernah aku alami.  Bahkan mataku mulai berair ketika aku menulis bagian ini. Aku mendapat pandangan baru tentang manusia. Bahwa kita semua sebenarnya pernah mengalami masa-masa sulit di dalam hidup. Namun kita berusaha menyembunyikannya dari orang lain, dan memasang topeng penuh tawa untuk menutupi kesakitan yang kita rasa. Aku dengan jelas menyaksikan drama waktu itu, yang berasal dari salah satu protagonis, orang yang ingin kami bantu. Dari sekian banyak peserta, semua energi bermuara pada kami bertiga, aku, Anita, dan Deli. Kata Mas Adi, kami telah menyatukan hati yang akhirnya memunculkan tiga orang calon protagonis, orang yang nanti kisah hidupnya akan direka ulang dalam sebuah drama dengan tujuan agar sang aktor utama mengalami kembali emosi dari pengalamannya waktu itu. Dan akan lebih baik lagi ketika pengalaman menyakitkan itu kemudian bisa direka ulang lalu merubah emosi negatif menjadi emosi positif. Klise memang, pada waktu itu aku berpikir demikian. Bagaimana mungkin kau bisa merubah emosi negatif dari pengalaman burukmu menjadi suatu emosi yang positif? Tapi ternyata aku salah, emosi-emosi itu memang benar berubah.

Emosiku mulai membuncah ketika menyaksikan reka ulang pengalaman sang protagonis. Aku mulai mengingat masa kecilku, yang memiliki kemiripan dengan kejadian yang ditampilkan. Air mataku pun mulai berjatuhan. Sekali lagi, seperti orang terhipnotis, pengalaman-pengalaman buruk itu keluar ke permukaan, dan mewujudkan diri dalam air mata. Aku melihat peserta lain juga mengalami hal yang sama, entah pengalaman apa yang pernah terjadi pada mereka, namun mereka terlihat menangis, atau mata mereka berair berusaha menahan tangis. Kondisi kami waktu itu seperti sedang diputarkan film biografi diri.

Kami berbagi pengalaman, berbagi cerita tentang apa yang kami rasakan ketika drama dimainkan. Dari sesi sharing itu lah aku mendapatkan banyak hal. Bahwa masalahku ini jauh lebih ringan dibandingkan masalah-masalah  yang pernah mereka hadapi. Bahwa semua manusia akan mengalami kesakitan. Bahwa setiap orang di ruangan itu sebenarnya berusaha untuk menerima diri. Tapi hei, sayangnya proses menerima diri itu tidak semudah menerima amplop gaji. Kami semua yang ada di ruangan itu butuh berjuang keras untuk menerima kenyataan, dan menerima diri kami yang sekarang. Karena masa lalu sudah berlalu dan ia tidak akan bisa kembali.

Aku menyadari bahwa pintu menuju penerimaan diri itu sangat lebar dan kokoh. Aku butuh untuk mendorongnya dengan sekuat tenaga agar terbuka. Mungkin aku akan mengalami luka di sana-sini ketika berusaha membukanya. Mungkin aku akan kehabisan tenaga beberapa kali, saking  beratnya. Mungkin aku akan dilanda keputusasaan karena pintu itu terlalu kuat. Tapi aku sadar bahwa memang itu lah yang butuh untuk dilakukan. Karena perjalanan mengenali jati diri itu akan bermula ketika aku berhasil membuka pintu itu. Dan aku masih berusaha membukanya. Walaupun percaya lah, rasanya sangat menyakitkan. Kau bahkan akan sering menangis karena sakitnya. Tapi perjuangan itu akan membuatku menjadi orang yang lebih bahagia dan berharga, aku yakin akan hal itu. Dan aku akan terus berusaha membuka pintu itu. Mungkin ia tidak serta-merta akan terbuka. Tapi aku berharap dengan sesi Psikodrama selanjutnya, aku bisa belajar bagaimana membuka pintu itu dengan lebih bertenaga. Dan satu kata bisa merangkum kesanku akan kelas Psikodrama ini, “Nagih!”. Ya, kelas ini kan membuatmu semakin ingin untuk menyelami diri. Ia membuatmu seperti seorang yang kelaparan. Haus akan siapa dirimu. Aku yakin kau akan beranggapan bahwa aku ini berlebihan, tapi memang benar begitu yang aku rasakan. Kalau kau tidak percaya, kau bisa buktikan sendiri. Aku memang ditakdirkan untuk bertemu dengan mereka pada waktu itu. Aku memang ditakdirkan untuk ikut kelas Psikodrama. Karena Tuhan tahu, bahwa aku sedang mencari jawaban atas lelah yang aku alami akhir-akhir ini. Karena Ia selalu mengamati.

Tembalang, 2 Oktober 2014.

~ by Mita Undip

Pertama Publish pada 3 Oktober 2014 dengan judul : Sebuah Perjalanan Memasuki Benteng Pertahanan Diri 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: