Ironi Permainan Pikiran #06 Kuliah di Eropa


sambungan dari …Ironi Permainan Pikiran #05 Bekerja di Perusahaan Impian

Tahun 2011, saya diterima kuliah di Eropa, beasiswa penuh dari pemerintah Uni Eropa. Sebenarnya itu adalah satu hal yang amat sangat membanggakan, sudah sangat lama saya mendambakan beasiswa tersebut. Dari seluruh Indonesia, kurang dari 50 mahasiswa yang menerima beasiswa tersebut per tahunnya…Pokoknya di masa itu, kalau menyebut beasiswa ini, semua mahasiswa pencari beasiswa pasti bakal ngiler deh! Namun, saat itu saya ingat sekali, sempat sekilas terlintas di pikiran saya untuk tidak mengambil beasiswa tersebut, saya tidak rela meninggalkan PT Kaya Raya, tidak rela meninggalkan Rumput. Kehidupan sebelum pergi ke Eropa rasanya menyedihkan sekali, tapi akhirnya saya tetap pergi ke Eropa di bulan Agustus. Rasanya masih teringat deh, rasa sakitnya kangen akan Rumput, apalagi di awal2 komunikasi agak sulit, belum lagi ditambah adanya perbedaan waktu.

Saya ingat sekali, kehidupan saya di Eropa tidak membahagiakan…..sekarang kalau mau jujur sih, karena saya harus berpisah dari Rumput disana. Entah bagaimana caranya, kami berhasil menjalani kehidupan dari 2 benua yang berbeda, namun tetap terhubung seolah tidak ada jarak. Tidak ada 1 detail pun yang terlewat dalam hidup kami, kami tetap begitu terikat. Ingat bagian kuliah S1 dimana objektif saya adalah untuk pulang ke Jakarta setiap weekend? Sama seperti itu, sewaktu saya mengambil S2 objektif saya adalah agar bisa kembali ke Indonesia sesering mungkin.

Sekarang kalau mendengar cerita saya, saya yakin kok hampir 100% orang2 akan mengatakan kalau kehidupan saya di Eropa menarik sekali. Saya rasa di seluruh dunia ini, cuma ada saya sendiri yang bilang kehidupan saya di Eropa membosankan dan menyebalkan. Gara2 nya? Balik lagi, Rumput!

Program beasiswa yang saya ambil di Eropa intinya mempelajari bagaimana caranya mengembangkan pangan lokal suatu daerah, sehingga memiliki nilai jual yang lebih. Paham ini berkembang di Eropa, dan masih sangat jarang sekali diterapkan di Negara lain, apalagi Indonesia. Tadi di awal saya sempat bilang kata “lokal” kan? Nah, karena judul lokal inilah, saya harus berkeliling untuk kuliah di beberapa Negara di Eropa. Makanya, kalau ada orang yang bertanya dimana saya mengambil S2 saya, saya selalu menjawab…Eropa! Saya tidak bisa menjawab suatu Negara yang spesifik, soalnya kuliah saya memang diselenggarakan di beberapa Negara, bukan 1 saja….terus kalau saya menjawab saya kuliah S2 di Prancis, Spanyol, Itali, Rumania…pasti bingung kan orang2 dengan jawaban saya…jadi jawabannya selalu 1, Eropa😀

Pertama sampai di Eropa, kuliah diselenggarakan di sebuah kota kecil 1,5 jam dari Paris. Disana kami (saya dan 24 mahasiswa lainnya dari berbagai Negara) belajar tentang teknologi pangan. Awal2 kuliah saya sempat kaget, bukan karena pelajaran yang terlalu sulit, tapi karena saya sadar ternyata kuliah S2 yang saya pikir bergengsi tidak sekeren itu. Terbiasa bekerja di PT Kaya Raya dengan ritme kerja yang cepat, kuliah terasa membosankan sekali, hidup berjalan lambat. Selama kuliah, saya berteman cukup dekat dengan seorang mahasiswa dari Inggris, Pirang namanya. Sampai sekarang saya dan Pirang masih sering bertukar kabar, cek info tentang kehidupan setelah masa2 master berlalu. Oya, selama di prancis saya tinggal Homestay di rumah keluarga Prancis, cukup asik sih untuk merasakan gaya hidup orang Prancis asli.

3 bulan setelah kuliah di Prancis, kami pindah kuliah di Itali, di sebuah kota kecil di dekat Milan. Bagi sebagian besar orang, kedengarannya asik sekali kan kuliah pindah2 negara? Tapi coba deh, bayangkan harus pindah rumah setiap 3 bulan sekali sambil menarik koper 30 kg melintasi negara2 di Eropa, capenya bukan main. Apalagi ya, harus mencari sendiri akomodasi setiap 3 bulan sekali, itu benar2 bikin kepala pusing lho. Di seantero Eropa, kebanyakan akomodasi ditawarkan dengan kontrak per 6 bulan….jadi mencari akomodasi untuk 3 bulan itu susahnya amit2! Tapi keuntungannya 1, jadi amat sangat mudah beradaptasi, apapun situasinya. Saya ingat sekali, selama kuliah di Eropa itu satu hal yang saya pelajari, meskipun tidak tahu akan tinggal dimana bulan depan, tapi percaya aja deh, nanti juga akan beres ketika tiba waktunya.

Di Italia kami hanya kuliah selama 1,5 bulan, setelah itu pindah lagi ke Rumania. Nah, Rumania ini bagian favorit saya selama kuliah di Eropa. Saya tinggal sendirian di sebuah apartemen yang besar sekali, mewah, murah lagi. Kuliah seperti biasa mudah dan membosankan, tapi gak masalah, yang penting kan tetap bisa chatting dengan Rumput setiap detik, hahahahaha….Selesai dari Rumania setelah 4 bulan, pindah kuliah lagi ke Spanyol, lalu pindah lagi ke Prancis….lalu diwajibkan magang deh selama 6 bulan. Ketika magang, hampir semua mahasiswa magang di Prancis, tapi saya beda…saya magang di China. Aneh? Iya! Saat semua orang ingin punya pengalaman kerja di Eropa, saya tidak peduli dengan pengalaman Eropa, saya bisa bilang dengan lantang, saya benci Eropa!

Bersambung…..

 

Pengelana (siapapun itu)

One response

  1. […] Bersambung…..Ironi Permainan Pikiran #06 Kuliah di Eropa […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: