Perbedaan Pekerja Keras Dan Workaholic #Goresanku 130


Cemas jika tidak bekerja
Anda menjadi workaholic ketika Anda akan melakukan apa saja demi pekerjaan. Anda akan merasa panik, cemas, atau bahkan merasa kehilangan ketika Anda tidak bekerja. Perilaku itu akan muncul terus-menerus, walaupun Anda sadar itu berbahaya bagi kesehatan maupun kualitas kerja.

Workaholic bagai kecanduan
Banyak opini yang berbeda mengenai hal ini, namun banyak yang menyamakan workaholic dengan perilaku tak sehat lainnya, seperti kecanduan narkoba dan alkohol. Workaholic ini juga disebut memiliki dampak buruk bagi mental dan fisik. Salah satu masalah mental para workaholic adalah mereka mengharapkan pujian dan penghargaan karena telah bekerja keras.

Pekerja yang perfeksionis
Para workaholic biasanya perfeksionis dan memiliki kebutuhan untuk mengontrol. Selain itu, bekerja terlalu keras juga bisa merupakan cara untuk ‘kabur’ dari sebuah hubungan buruk atau untuk mengisi kekosongan hidup.

Pekerja keras bukan workaholic
Pada dasarnya perbedaan keduanya terletak pada pikirannya. Pekerja keras mampu bekerja efisien dan efektif, serta masih mampu memiliki kehidupan di luar pekerjaan.

Sementara workaholic pada kenyataannya tak mampu melakukan manajemen waktu yang baik. Jika mereka bisa melakukannya, tentu mereka tak harus bekerja sampai melampaui jam kerja tiap harinya.

 

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: