SEPENGGAL KISAH ANTARA AKU DAN ANAKKU


Malam itu menjadi malam yang tak kan pernah terlupakan sepanjang hayatku. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan anakku untuk mengambil barang-barang yang Ia butuhkan untuk kegiatan camping yang akan diadakan pihak sekolahnya. Sudah hampir 2 minggu ini anak sulungku bersekolah di sebuah sekolah alam yang berada di luar kota tempat tinggal kami saat ini. Dalam kesempatan itu Ia masuk ke kamarku dan mengajakku bicara. Kutatap dalam-dalam ke arah wajah anakku yang terus bercerita tiada henti tentang pengalaman-pengalaman menakjubkan yang Ia alami ditempat barunya.

Sekali lagi kufokuskan pandanganku pada sorot matanya….yah..sorot mata itu menyiratkan sinyal-sinyal kegembiraan yang luar biasa. Di antara barisan kata-kata yang terlontar dari bibirnya, sebenarnya perihal yang paling membuatku terpana adalah ceritanya yang penuh semangat tentang target-target yang ingin dia capai disana. Wow….amazing…subhanallah….betapa ternyata anakku ini terobsesi untuk menjadi sosok yang luar biasa di masa depan. Rasa senang, kagum dan bangga telah berada ditempat itu tergambar jelas dari ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya. Seolah-olah ada euphoria yang maha dahsyat yang sedang bergemuruh dalam hatinya karena keberadaannya saat ini sudah mendekati jalur-jalur setrategis menuju cita-citanya. Dan aku bagaikan terhipnotis …aku makin tenggelam larut dalam lamunan bahagiaku saat mendengarkan ceritanya. Kurasakan makin lama pandangan mataku sudah makin nanar… sekuat tenaga kutahan bendungan air mata yang nyaris tumpah dari pelupuk mataku. Aku tidak ingin merusak suasana bahagia yang dirasakan anakku. Namun dalam kesempatan itu kusempatkan untuk mencubit tangan dan juga ketepuk kedua pipiku ..auww…ohh.. ternyata kurasakan sakit akibat stimulasi tersebut …ini artinya aku tidak sedang bermimpi.

Oh My God…ya Allah ya Rabbi…wahai Dzat Yang Maha Kuasa atas segala kejadian di langit dan bumi ….sungguh ini suatu kenyataan yang telah kunanti-nanti sekian lama…lebih dari 3 tahun lamanya aku tidak pernah lagi terlibat dalam obrolan hangat seperti ini dengan anak sulungku. Aku nyaris putus asa menantikan detik-detik membahagikan seperti ini. Akhirnya Engkau tunjukkan juga kuasaMu dihadapanku kini.

Lebih tepatnya sudah hampir 3 tahun ini aku merasa kehilangan anak sulungku itu baik secara fisik maupun psikis. Sejak musibah beruntun yang menimpa keluargaku terutama saat usaha suami jatuh pailit dan telah memporak-prandakan kestabilan finansial keluarga kami.

Dan musibah yang juga diikuti dengan kenyataan pahit yang membuat suamiku harus terpisah dari kami, telah menggoreskan luka mendalam di hati anak sulungku ini hingga membuatnya frustasi. Ia terus menyesali kondisi keterbatasan finansial yang kami alami, menyalahkan ayahnya atas penderitaan yang kami alami, tidak mau sekolah , melarikan diri keluar rumah dan mencari pergaulan bebas di luar sana yang membentuknya menjadi pribadi yang liar , beringas dan tidak mengenal tata krama.

Makin hari sikap dan perilakunya makin membuat batinku menangis…dia mulai merokok, pulang malam , meninggalkan sholat lima waktu yang sebenarnya sejak kecil sudah Ia lakukan dan berperilaku kasar kepadaku maupun kepada kedua adiknya.

Di antara ketiga putraku , mungkin memang dia yang paling lama merasakan kondisi kemapanan finansial kami dulu, dan saat musibah itu terjadi usianya sudah menginjak remaja, suatu tahapan usia yang potensial untuk mengalami pergolakan, konflik dan berbagai masalah yang muncul sebagai akibat dari proses pencarian jati diri seorang manusia. Di saat seperti itu , Ia justru mendapati lingkungan keluarga yang tidak kondusif terutama pada saat yang bersamaan anak-anakku harus kehilangan figur ayah yang sebenarnya teramat sangat dibutuhkan oleh ketiga anakku karena mereka semua laki-laki sehingga ketidakhadiran suamiku membuat anakku kehilangan model yang bisa mengajarkan dan membentuk karakter pria yang ideal.

Sementara aku yang menjadi single parent sudah disibukkan dengan pekerjaan kantor dan mencari side job agar dapur kami tetap bisa mengepul dan juga untuk memenuhi kebutuhan hidup ketiga anakku yang makin hari makin sulit kupenuhi jika diukur dari standar hidup yang layak.

Rasa lelah yang kurasakan sepulang bekerja, rasa penat yang membebani pikiranku terkait dengan konflik yang terjadi di kantor maupun kasus unfinished business yang ditinggalkan suamiku membuatku hampir selalu berada dalam kondisi psikis yang tidak sehat. Depresi,..yah penyakit psikis yang satu itu sempat menghampiriku…………….hingga akhirnya akupun sulit sekali menahan diri untuk bisa sabar dan bersikap bijak saat menghadapi perilaku anak sulungku yang makin hari makin membuat aku dan kedua anakku stres dan ketakutan.

Singkat cerita perilaku anakku makin hari makin tidak bisa ditoleransi bahkan banyak pihak yang menyarankanku baik dari keluarga, tetangga maupun sahabat untuk membawanya ke pesantren, panti rehabilitasi anak-anak nakal, dan bahkan sampai ada saran untuk melaporkannya ke pihak yang berwajib karena tindakannya padaku dan kedua adiknya sudah dapat dikategorikan KDRT.

Aku bukannya tidak menyetujui saran-saran tersebut…tapi sebagai seorang ibu..aku tetap menginginkan solusi yang terbaik untuk anakku itu. Sakit yang dirasakan tubuhku akibat sentuhan fisik yang pernah dilakukan anak sulungku itu padaku baik disengaja ataupun tidak karena dia seperti bukan dirinya lagi saat dia mengamuk , memang meninggalkan luka di tubuhku tapi luka yang menggores dan menganga lebar di hatiku lebih sakit daripada luka fisik yang ada ditubuhku.

Yah…hatiku perih sekali membayangkan masa depannya yang tidak mungkin bisa Ia rancang dengan baik jika Ia terus dalam kondisi seperti ini. Kusadari sepenuhnya …perilaku anakku jadi seperti ini tentu aku dan suamiku sebagai orang tuanya juga ikut berkontribusi tanpa kami sadari. Aku tidak ingin memilih solusi yang nantinya hanya akan menanamkan rasa kebencian dan dendam di hati anakku itu. Apalagi sejatinya anakku itu seorang anak yang cerdas intelektualnya dan juga memiliki multi talenta. Ia memiliki jiwa seni, Ia pandai bermain gitar, melukis, membuat animasi yang disertai meme komik, membuat kaligrafi, menguasai otomotif, dan bela diri terutama taekwondo pernah sampai ikut turnamen dan menang.

Sebenarnnya Ia juga seorang anak yang supel dalam bergaul hingga memiliki teman yang banyak. Namun sayang…akhir-akhir..ini semua bakatnya tersebut tidak tersalurkan secara produktif untuk hal-hal yang bermanfaat.

Aku sudah tidak ingat lagi upaya apa saja yang sudah kulakukan untuk mengatasi perilaku maladaptive yang dialami anakku. Suatu saat semangatku sangat berapi-api untuk mencoba suatu upaya dan ketika gagal untuk kesekian kalinya …aku mulai putus asa….aku mulai malas bercerita atau konsultasi dengan teman, sahabat ataupun keluarga tentang anakku ini karena ujung-ujungnya mereka menyalahkanku akibat tidak mampu bersikap tegas pada anakku, atau jika mereka memberikan saran ..saran tersebut sulit kulakukan karena bertentangan dengan hati nuraniku.

Aku sempat mengalami phobia sosial. Tanpa kusadari aku mulai menarik diri dari lingkungan pergaulan terutama menghindari event-event yang mempertemukanku dengan sahabat , teman ataupun kolega yang berpotensi untuk menimbulkan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan pribadiku. Keterpurukan finansial keluarga kami, terpisahnya suami dari aku dan anak-anak ditambah lagi dengan perilaku maladaptive anak sulungku ini benar-benar membuatku merasa hopeless dan unmeaning.

Perasaan dan pikiranku terus dipenuhi dengan gambaran-gambaran kegagalan peranku baik sebagai isteri maupun ibu bagi anak-anakku. Aku hanya bisa menangis dalam sujudku dan terus memohon agar Allah memberiku kekuatan dan ketabahan serta memberikan jalan keluar yang terbaik untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang kuhadapi tidak terkecuali permasalahan anak sulungku ini.

Aku sebenarnya sangat menyayangi anak sulungku itu dan hati kecilku meyakini bahwa suatu saat Ia akan menjadi kebanggaanku di masa yang akan datang. Aku tidak ingin bakat-bakatnya yang luar biasa itu sia-sia terbuang dan tidak menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun bagi orang-orang di sekitarnya.

Sejatinya, aku sempat berkali-kali berada dalam kondisi mental yang berada di titik terendah ….patah semangat…lelah dan merasa tidak berdaya untuk menyembuhkan anakku namun alhamdulillah di saat-saat seperti itu Allah mempertemukanku dengan seorang rekan kerja. Pertemuan yang sejatinya tidak direncana ini tanpa kusadari ternyata menjadi titik awal menuju perubahan yang menggembirakan terkait pencarian solusi atas masalah yang kualami terutama masalah anak sulungku.

Sebenarnya diskusi yang kami lakukan pada awalnya lebih banyak berfokus pada urusan pekerjaan karena institusi tempatku bekerja meng-hire-nya untuk memberi suatu pelatihan. Entah mengapa lambat laun diskusi kami merembet sampai ke ranah pribadi…akupun akhirnya menceritakan persoalan anak sulungku. Aku tidak tahu mengapa aku begitu mudah mempercayainya dan bercerita secara gamblang tentang anak sulungku padahal aku baru mengenalnya.

Aku tidak sempat mengamati cara-cara seperti apa yang Ia terapkan selama berdiskusi denganku. Yang jelas aku merasa nyaman, tidak merasa terancam dan secara spontan menceritakan masalahku lengkap dengan pemikiran dan perasaanku terkait masalah tersebut.

Padahal seperti yang kuceritakan sebelumnya, akhir-akhir ini aku sudah malas dan tak ingin lagi menceritakan problemku pada orang lain. Meskipun sejatinya aku sedang berdiskusi dengannya tetapi sebenarnya Ia sedang memfasilitasi aku untuk berdiskusi dengan sisi-sisi lain dari diriku. Tidak hanya itu tapi juga dengan orang-orang penting dalam hidupku dimana aku masih memiliki masalah yang belum kuselesaikan secara tuntas.

Kupikir selama ini aku telah melupakan dan mengikhlaskan berbagai peristiwa tidak menyenangkan yang kualami dalam hidupku. Ternyata fakta tersebut terbantahkan. Mungkin selama ini aku hanya berupaya kuat untuk mengabaikan hingga aku membuang atau menekan hal-hal menyakitkan tersebut ke alam bawah sadar agar aku bisa tidak mengingat rasa sakit, kecewa, khawatir dan amarah yang luar biasa terkait hal tersebut.

Selama ini aku mengira aku telah berhasil mengikhlaskan semua itu. Ternyata itu hanya menjadi racun yang tersimpan dalam tubuhku dan tidak pernah hilang. Dalam situasi yang tidak kondusif dan penuh tekanan racun tersebut menyerang tubuhku di titik-titik lemahku sehingga aku hampir selalu merasa stres, depresi, tidak sabaran saat menghadapi konflik atau persoalan dengan orang lain termasuk dengan anak sulungku.

Melalui diskusi-diskusi bersamanya kusadari aku punya banyak unfinished business yang harus kuselesaikan. Pada akhirnya kusadari Ada banyak kesalahan yang telah kulakukan selama ini terhadap cara ku memperlakukan anak sulungku, caraku mengenali apa yang dibutuhkan anakku dan masih banyak kesalahan-kesalahan lainnya yang bisa dikatakan terlambat kusadari.

Lewat bukti-bukti yang ia tunjukkan Ia juga membantu membangun rasa percaya diriku kembali bahwa aku memiliki sesuatu yang luar biasa yang bisa membawaku pada kesuksesan terutama sukses untuk menjadikan anak-anakku hebat sesuai bakat mereka.

Satu hal yang baru kusadari pula bahwa ternyata cara yang diterapkan temanku yang secara perlahan dapat membantuku memahami diri dengan lebih baik lewat diskusi-diskusi yang sering kulakukan dengannya adalah teknik Psikodrama yang memang masih belum lama kukenal meski sejatinya akupun seorang Psikolog. Mungkin karena spesialisasiku bukan di bidang klinis aku tidak terlalu memperhatikan teknik intervensi yang satu ini sebelumnya. Aku sudah jarang bersentuhan dan menerapkan praktek konseling dalam profesi keseharianku. Aku lebih sering menggarap proyek-proyek pengembangan SDM di perusahaan.

Pada akhirnya aku terinspirasi untuk mempraktekkan prinsip-prinsip dalam Psikodrama dalam keseharianku karena aku sudah mulai merasakan kesadaran diri yang sedikit lebih baik dari sebelumnya. Pemahaman yang lebih baik mengenai diriku membuatku sadar banyak peran-peran yang tidak efektif yang telah kumainkan selama ini baik sebagai karyawan, sebagai isteri maupun sebagai ibu dari anak-anakku. Dan ini membuatku tidak bahagia.

Ketidakbahagiaanku ini mungkin membuat aku tidak bisa optimal mengerjakan apapun. Aku mulai membenahi problem yang ada pada diriku dahulu…aku mulai belajar memaafkan diriku ..yah karena sejak musibah 3 tahun silam itu aku sering menyalahkan diriku sendiri…aku merasa gagal menjadi isteri yang baik hingga tak mampu mendampingi suami menyukseskan bisnisnya, merasa gagal menjadi ibu karena anak sulungku menjadi seperti itu dan banyak perasaan-perasaan bersalah yang terus kupelihara dalam pikiran dan hatiku.

Gara-gara merasa gagal aku jadi kehilangan spontanitas dalam diriku. Aku jadi terlalu memikirkan konsekuensi negatif dari setiap tindakan yang akan aku ambil. Takut salah lagi, takut gagal lagi..takut kecewa lagi….rasa-rasa seperti itu sering menghantui pemikiranku. Sepertinya kalau orang-orang yang telah mengenalku 4-5 tahun di masa-masa gemilangku dulu…dan melihat aku yang sekarang ini banyak yang mengatakan bahwa aku bukan seperti aku yang mereka kenal dulu.

Perlahan aku mulai bisa merasa bebas berekspresi dalam bersikap ataupun bertindak. Ini tidak mudah kulakukan pada awalnya. Namun keinginanku untuk bahagia begitu kuat hingga aku berupaya untuk mencoba memperbaiki sikap dan perilakuku terutama dalam menghadapi anak sulungku. Aku mencoba membangun harapan baru. Aku mulai memperbaiki kualitas hubungan dengan anak sulungku.

Mungkin aku tidak terlalu ingat secara detail apa saja yang telah kulakukan hingga akhirnya muncul keinginannya untuk sekolah kembali. Tapi sedikit ilustrasi yang bisa menjelaskaskan proses perubahan dirinya adalah diawali saat aku mulai merubah cara komunikasiku dengannya. Aku yang biasanya selalu memberikan komentar negatif (memarahinya) saat bertemu entah sepulang bekerja atau kapanpun itu karena memang aku hampir selalu mendapatinya dalam kondisi atau melakukan hal-hal yang membuatku marah.

Beberapa waktu belakangan ini aku mulai belajar menahan diri untuk hanya mengeluarkan kata-kata bernada positif atau minimal diam dan berupaya untuk tidak terpancing menjadi emosi apapun perilaku yang Ia tunjukkan padaku. Awalnya Ia jadi bingung dengan perubahan sikapku. Tapi aku terus berusaha konsisten dengan sikap baruku terutama mencoba tegas padanya. Apapun yang sudah kukatakan padanya sekuat tenaga kutepati ..jika kukatakan tidak ya tetap tidak apapun ancaman yang Ia tunjukkan padaku.

Selain itu setiap bertemu dengannya selalu kuniatkan dalam hati ingin berdamai dengannya dan mengekspresikan dengan jujur rasa sayang dan cintaku padanya dan rasa bangga memilikinya karena sebenarnya dia anak yang patut dibanggakan dengan aneka bakat yang dimilikinya. Hal ini cukup mampu meminimalisir kata-kata negatif yang keluar dari mulutku saat berinteraksi dengannya. Sedikit saja sikap baik yang Ia tunjukkan mis: saat ia tidak membuat rumah berantakan di saat aku pulang kerja sebagaimana yang biasa Ia lakukan atau saat Ia tepat waktu mengembalikan motorku yang dipinjamnya dengan spontan langsung kuucapkan terima kasih dan kata-kata pujian buatnya. Hingga akhirnya sampai pada suatu hari saat Ia dengan tiba-tiba menanyakan suatu pertanyaan menantang padaku…

”Bu…sebenarnya Ibu masih niat mau serius nyekolahkan aku apa nggak?”.

Masya Allah….sungguh aku terperanjat mendengar pertanyaannya tersebut. Bahagia tentu saja perasaan itu yang menghiasi hatiku saat itu dan aku tidak ingin menyia-nyiakan moment baik itu. Aku langsung mengatakan kapanpun kamu siap katakan pada ibu dan aku katakan pula padanya bahwa kapanpun Ia siap sampaikan jauh hari karena aku harus mencari waktu dan kesempatan yang lowong yang tidak berbentrokan dengan agenda kerjaku ataupun aktivitas yang lain.

Sepertinya malah Ia yang tidak percaya dengan keseriusanku karena Ia memberikan pertanyaan lanjutan padaku

”Emangnya Ibu punya uang?”.

Sebenarnya ternyata Ia juga menyadari bahwa kondisi finansialku yang pas-pasan saat ini.

“Ok…jujur saat ini . Ibu memang belum punya uang lebih tapi kalau kamu benar-benar ingin sekolah lagi sekarang Ibu bisa upayakan hal itu apapun caranya…”.

Saat itu Ia terdiam dan kubiarkan Ia berlalu dari hadapanku. Aku yakin berbagai perasaan sedang berkecamuk dalam hatinya. Biarlah Ia belajar meyakini dan memaknai kata-kataku itu. Dan akhirnya beberapa hari setelah itu di suatu sore ..Ia mengatakan

“ Bu kalau Ibu libur aku mau di antar ke sana..” (ke sekolah barunya ..yah sebuah sekolah alam yang dulu pernah kutawarkan padanya).

Rasa syukur yang tiada terkira kini menyelimuti batinku. Ternyata jawaban Allah atas doa-doaku lebih cepat dari yang kuprediksikan Dan mungkin ini juga buah dari doa-doa yang dipanjatkan suamiku di luar sana. Meski fisiknya tidak berada di antara kami ..aku yakin Ia pun tak pernah putus memanjatkan doa untuk anak-anakku.

Subhanallah tak dapat kulukiskan rasa bahagia itu dan tanpa menunda lagi tidak lama setelah pernyataan keinginannya tersebut aku mengantarkan anak sulungku ke sekolah yang sekiranya dapat memfasilitasi keinginan dan bakat anak sulungku.

Di saat aku masih dilanda keraguan akankah anak sulungku itu betah di sana atau tidak ..atau keraguan terkait apakah sekolah tersebut bisa menyadarkan anakku dan memfasilitasi bakat-bakatnya atau tidak…akhirnya terjawab lewat kedatangannya di malam itu.

Dan akhirnya..kudapatilah moment membahagiakan seperti yang terjadi di malam itu.

“Anak sulungku telah kembali”…itu nyanyian hati yang kudendangkan dengan penuh keharuan saat menyaksikan perubahan sikap dan perilakunya malam itu….ceritanya yang penuh semangat tentang pengalaman luar biasa yang ia dapatkan di sekolah barunya, keinginan-keinginannya yang ingin ia wujudkan di sana dan perilakunya yang lembut dan manis padaku dan adik-adiknya…..membuatku merasa menjadi Ibu yang paling berbahagia di dunia ini….. seperti mendapatkan setetes air di gurun pasir setelah sekian lama berjalan kepanasan dan kelelahan di bawah terik mentari yang begitu menyengat.

Asa itu mulai datang menghampiriku dan mewujudkan kenyataan indah yang membahagiakan.

Kisahku ini semakin meyakinkanku atas suatu hal…kita boleh kehilangan apapun di dunia fana ini namun…satu hal yang tidak boleh hilang dari diri kita adalah ASA (harapan)…..karena hal itulah yang akan membuat kita tetap bisa bangkit memperjuangkan dan mendapatkan perihal yang sepertinya sudah mustahil untuk kita raih.

 

Semarang, 23 Agustus 2015

All created by me
(LyRa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: