Ironi Permainan Pikiran #02 Masuk Sekolah Dasar


Sambungan dari …Ironi Permainan Pikiran #01 Pengelana Lahir

Tahun 1993, adik kedua saya Melati, lahir di Jakarta juga, saat itu saya masuk SD kelas 1. Saya masih ingat ketika saya kelas 1 SD, guru kelas saya, Ibu Baik, sayang sekali kepada saya. Maklumlah, saya salah satu anak terpintar di kelas, penurut pula. Dari yang bisa diingat, kehidupan saya di sekolah menggembirakan. Saya tergolong anak pintar, selalu ranking dalam kelas, tapi tidak pernah dapat ranking 1 seumur hidup, haha….hidup kan tidak perlu diperjuangkan begitu kerasnya ya. Di sekolah, saya tidak pernah masuk dalam golongan anak popular, tapi saya punya cukup banyak teman. Semakin besar, lingkaran teman saya semakin menyempit, saya memang bukan anak yang tergolong supel dan pandai bergaul. Saya tipe orang yang suka berteman dengan beberapa anak saja yang saya anggap cocok, lalu menjadi teman dekat. Tapi ya, saya bisa dengan yakinnya 100% mengatakan, kehidupan SD saya sangat membahagiakan.

Kelas 4 SD saya mulai berteman berkelompok, ingat banget deh waktu itu nama teman saya Nuri, dan Merpati. Kalau pulang sekolah, pasti telpon-telponan dengan Nuri, entah ngomongin soal PR sekolah atau apalagi. Setiap sore, pergi ke rumah Merpati yang cuma beda beberapa gang saja dari rumah saya. Mainnya selalu sama, basket dan balap sepeda. Meskipun tidak pernah manjat pohon mangga atau mencuri jambu tetangga, tapi waktu itu hidup cukup “liar”…hidup terasa cukup hidup!

Tahun 1999, hidup memasuki babak baru, saya masuk SMP. Pertengkaran dirumah terjadi lebih sering, saya sebagai anak tertua sering dijadikan sasaran curhat Mami. Yang ironis, menurut Mami sifat saya amat sangat mirip dengan sifat Papi, sombong, keras kepala, egois….jadi ya kalau Mami lagi sebal ke Papi, saya yang pasti kena imbasnya juga, ceritanya kan Mami gak mau saya mengalami kegagalan yang sama kayak Papi, jadi saya pasti kena ocehan ekstra….gak boleh sombong, gak boleh egois, bla bla bla. Oya, inget gak kalo tadi di atas saya bilang ceritanya saya adalah anak yang cantik pas masih TK? Seiring waktu, kata Mami saya jadi tambah jelek, tambah tomboy….lama-lama itu cap yang menempel sendiri di kepala saya.

Kelas 2 SMP, saya memiliki seorang teman baik, namanya Bunga. Saya lupa seperti apa rasanya dulu berteman dengan dia, tapi saya ingat saya cukup sedih ketika dia pindah ke luar negeri untuk bersekolah. Sejak itu, saya tidak mendapatkan teman bermain sedekat dengan dia lagi. Tapi gak masalah, saya orang yang terbiasa nyaman dengan diri sendiri, bisa pergi belanja sendiri, nonton bioskop sendiri, membaca buku, pokoknya hidup saya sangat mandiri, saya nyaman dengan diri sendiri. Akhir SMP, saya memutuskan untuk pindah dari sekolah saya dari TK –SMP. Alasannya, saya ingin punya identitas baru, sebuah sekolah dimana saya bisa memulai semuanya dari awal, sekolah dimana gak ada satu orang pun yang mengenal saya. Identitas baru ini dibutuhkan (ceritanya) biar saya bisa keluar dari pakem karakteristik saya selama ini, biar saya bisa jadi anak yang supel, syukur2 bisa berubah penampilan juga, hehe…..

Bersambung…..Ironi Permainan Pikiran #03 Pindah Sekolah

Pengelana (siapapun itu)

2 responses

  1. […] sambungan….Ironi Permainan Pikiran #02 Masuk Sekolah Dasar […]

    Like

  2. […] Ironi Permainan Pikiran #02 Masuk Sekolah Dasar […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: