Ironi Permainan Pikiran #01 Pengelana Lahir


Apa sih sebenarnya kebahagiaan itu? Titik dimana kita bisa gembira dengan apapun yang kita punya? Puas dengan diri kita sendiri? Ada begitu banyak pertanyaan, setiap pertanyaan menuju pada jawaban yang begitu banyak lagi, akhirnya ujungnya hanya memenuhi kepala dengan setumpuk lilitan benang kusut. Kalau mau diurai, mungkin sulit, tapi sebenarnya kan benang-benang itu tinggal digunting, atau sekalian saja dibuang, kenapa juga harus peduli dengan benang kusut?

Mungkin hidup akan jadi mudah kalau saya sudah bisa mengaku dan menerima kenyataan, tidak berpikir, hanya akui, terima, dan jalani saja dulu…berhenti membandingkan, berhenti berpikir tentang mengisi kekosongan, berhenti mengganggu hidup orang lain dan menghambat hidup sendiri. Kalau mau dianalisis, sebenarnya sejak kapan sih hidup ini terasa tidak beres? Sejak kecil? Sejak sekolah? Sejak kuliah? Sejak kerja? Sejak ambil S2? Sejak resign dan memulai usaha sendiri?

Lihat lagi dari flashbacknya. Siapa saya? Nama saya Pengelana, nama yang diberikan oleh orang tua saya, nama yang dulu tidak pernah saya syukuri saking banyaknya pengelana di muka bumi, nama yang tidak unik, pasaran….sampai pada satu titik, saya sudah mencetak cukup banyak prestasi dengan nama tersebut, di titik itu saya mulai OK dengan nama saya.

Lahir tahun 1987, saya mulai membuat sejarah pribadi di dunia ini. Kehidupan masa kecil sangat gembira, orang tua hidup rukun, saya anak pertama dan anak kesayangan orang tua saya. Lahir dari pasangan Angin dan Air, saya bisa katakan 100% bahwa saya pertamanya lahir dari keluarga yang bahagia, bukan anak haram, bukan anak yang tidak diinginkan kelahirannya, setidaknya itu saja sudah membuat saya sangat bersyukur deh. Lahir di salah satu RS termahal di Jakarta saat itu, dibantu salah satu dokter yang paling terkenal di masanya juga! Biasalah sindrom anak pertama, anak yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya. Katanya sih pertamanya orangtua berharap saya ini anak laki-laki, tapi toh ketika munculnya anak perempuan, mereka senang juga.

Dari masa kecil saya, yang bisa diingat saya sangat disayang. Setiap hari minggu, kami akan jalan-jalan ke mall, belanja, main…hidup indah pokoknya. Tahun 1990, bertambah satu anggota keluarga, adik saya menambah keramaian di rumah. Namanya Mawar, lahir di Jakarta juga, tapi ketika Mawar lahir orangtua sudah menurunkan level RS, jadinya dia lahir di RS yang biasa saja. Saat itu, hidup mulai sulit, Papi sudah berhenti kerja, orang tua mulai sering bertengkar. Saya sih waktu itu masih senang-senang saja, baru mulai masuk TK, setiap hari bahagia sekali main di kelas bersama teman-teman. Oya, waktu masuk TK, saya salah satu anak perempuan paling tinggi di kelas, terkenal cantik tapi agak tomboy. Kata guru TK waktu itu ke Mami, saya anak yang baik tapi agak egois, dan judes, huahahahahaha…..

Bersambung ke…..Ironi Permainan Pikiran #02 Masuk Sekolah Dasar

 

Pengelana (siapapun itu)

One response

  1. […] Sambungan dari …Ironi Permainan Pikiran #01 Pengelana Lahir […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: