Membentuk Karakter Anak yang Berkualitas #Goresanku 67


Karakter seorang anak terbentuk terutama pada saat dia berusia 3 hingga 10 tahun. Adalah tugas kita sebagai orang tua untuk menentukan input seperti apa yang masuk ke dalam pikirannya, sehingga bisa membentuk karakter anak yang berkualitas”
Pendidikan macam apa yang perlu kita tekankan sejak awal ?
1. Pendidikan Keagamaan
Ini adalah hal yang utama perlu ditekankan pada seorang anak ; seorang anak perlu tahu siapa Tuhannya, cara beribadah, dan bagaimana memohon berkat dan mengucap syukur. Tunjukkan buku, gambar, dan cerita-cerita yang bisa menginspirasi Anak yang berhubungan dengan Keagamaan tersebut. Jika memungkinkan, ajak Anak untuk ikut ke tempat ibadah bersama. Semakin dini kita menanamkan hal ini pada seorang anak, akan semakin kuat akhlak dan keyakinan akan Tuhan di dalam diri anak kita.
2. Kualitas input yang diterima
Seorang anak pada usia dibawah 10 tahun belum mempunyai pondasi yang kuat dalam prinsip hidup, cara berpikir, dan tingkah laku. Artinya, semua hal yang dilihat, didengar, dan dirasakan olehnya, selama masa pertumbuhan tersebut, akan diserap semua oleh pikiran dan dijadikan sebagai dasar atau prinsip dalam hidupnya. Adalah tugas Orang-tua untuk memilah dan menentukan, input-input mana saja yang perlu dimasukkan, dan mana yang perlu dihindarkan. Menonton televisi misalnya, tidak semua acara itu bagus. Demikian juga dengan membaca majalah, menonton film, mendengarkan radio, dan sebagainya.
3. Anak adalah Peniru yang Baik
Ada istilah “Monkey see, Monkey Do” ; artinya seekor monyet biasanya akan bertindak berdasarkan apa yang telah dilihatnya. Demikian pula seorang anak. Anak perlu figur seorang tokoh yang dikagumi, yang akan ditiru di dalam tindakan sehari-harinya. Pilihan utama biasanya akan jatuh pada Orang-tuanya. Dan seorang Anak akan lebih percaya pada apa yang dilihat daripada apa yang dikatakan Orang-tuanya. Jadi saat Orang-tua mengatakan satu nasehat, misalnya jangan tidur malam-malam, tapi Orang-tuanya sendiri selalu bekerja sampai larut malam, jelas ini bukan cara mendidik yang baik. Ajarkan sesuatu melalui contoh, dengan tindakan kita sendiri, akan membuat anak meniru dan mengembangkannya menjadi suatu kebiasaan dan karakter di dalam pertumbuhannya.
4. No Pain No Gain
Apa yang akan anda lakukan sebagai orang tua apabila anak anda merengek-rengek, bahkan menangis minta dibelikan sebuah mainan? Ada dua jenis jawaban yang biasanya saya lihat.
Jenis orang tua yang pertama biasanya akan langsung membelikan mainan tersebut agar Anak bisa langsung diam dari tangisannya, dan tidak merepotkan orang tuanya. Dalam jangka panjang, sikap seperti ini akan membuat Anak mempunyai karakter yang lemah, kurang tangguh, karena sudah dibiasakan diberi apa yang diinginkannya.
Jenis orang tua yang kedua, biasanya akan menolak permintaan Anak dengan tegas, mungkin sambil memarahi atau mencuekkan begitu saja. Dalam jangka panjang, Anak akan mempunyai sifat yang acuh, kurang peduli dengan dirinya sendiri, kalau ditanya apa cita-cita atau keinginannya biasanya akan dijawab tidak tahu.
Nah, Anda sebagai orang tua bisa mencoba menambahkan alternatif pilihan ketiga, yaitu gabungan dari keduanya. Saya mengistilahkan gabungan ini dengan No Pain No Gain. Jadi saat seorang anak meminta sesuatu misalnya, kita bisa memberikannya dengan syarat tertentu. Contoh, seorang anak minta mainan pada kita sebagai orang tuanya, maka kita bisa mensyaratkan ha-hal tertentu sebagai `kerja keras’ yang harus dilakukan. Misalnya, Anak harus membantu Ayah mencuci mobil selama sebulan, atau membantu Ibu membuang sampah setiap hari, baru kemudian Anak mendapatkan mainan tersebut. System No Pain No Gain ini dalam jangka panjang akan membentuk karakter yang kuat dan tangguh dari Anak, karena mereka sejak kecil sudah dibiasakan harus bekerja dulu baru mendapatkan hasil.
5. Tiga Perilaku Dasar dalam Berkomunikasi
Sejak kecil, seorang anak perlu dididik Tiga Perilaku Dasar dalam Komunikasi dan berhubungan dengan orang lain.
Yang pertama adalah harus belajar mengucapkan “terima kasih” kepada siapa saja yang sudah memberikan sesuatu kepadanya, yang kedua adalah harus belajar mengucapkan kata “tolong” apabila ingin meminta bantuan kepada orang di sekitarnya, dan yang ketiga adalah belajar mengucapkan kata “maaf” apabila memang bersalah.
Kelihatannya memang sederhana, tapi coba lihat, berapa banyak orang yang merasa dirinya sudah dewasa yang terbiasa mengucapkan kata-kata tersebut? Kalau anak kita sudah terbiasa mengucapkannya sejak kecil, perilakunya akan lebih menghargai orang lain.

Karakter, kepribadian, dan kualitas seorang anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan input yang diterimanya dari orang tua.Bila orang tua kurang memberikan bimbingan ini secara maksimal, maka peran ini akan diambil alih oleh lingkungan, yang mana bisa memberikan berbagai macam input yang lebih banyak negatifnya daripada positifnya.

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty

2 responses

  1. ning.tyas@yahoo.co.id | Reply

    Aku rasa ada benarnya ….. karakter, kepribadian,kualitas seorang anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan input yg diterimanya. Bila orang tua kurang memberikan bimbingan ini secara maksimal, maka peran ini akan diambil alih oleh lingkungan, yang mana bisa memberikan berbagai macam input yang lebih banyak negatifnya daripada positifnya.
    Kebetulan banget aku baca artikel / tulisan ini, karena hal ini berhubungan dengan pengalaman yg ku lihat saat aku menemani anak2 yg belum dijemput. Kebanyakan anak2 dalam keseharianya dipercayakan pengasuh / pembantu rumah tangga. Karena sebagian besar orangtua murid sibuk bekerja.
    Nah …. karena tinggal satu anak yg belum dijemput, aku berinisiatip untuk membawa anak tersebut untuk menunggu di dalam saja. Tidak lama kemudian, seorang pengasuh datang untuk menjemputnya. Tampaknya dia tergesa-gesa banget dan memanggil si anak untuk segera keluar. Karena si anak tidak segera keluar, lantas dia teriak-teriak. Dan saat anak keluar malah di pukul pantatnya, dimarahi dan dibentak-bentak,Yg sangat kusesalkan adalah dia itu memarahi anak dengan kata-kata yg sangat kasar. Yg aku herankan lagi, si anak membalas dengan kata-kata yg sangat kasar pula.
    Dengan kejadian itu aku jadi faham, mengapa si anak kalau di sekolah suka bicara kasar dan suka memukul temannya. Sepengetahuanku orangtua si anak itu sangat santun ….. sempat aku berpikir ada apa ya dengan anak ini. Kalau melihat orang tuanya seperti itu, kenapa si anak kok jadi lain begini ?
    Aha …… akhirnya ketemu jg …… ternyata itu penyebabnya ……..

    Memang si tidak semua pengasuh seperti itu …… ada kok yg baik, malah kasih sayangnya melibihi ibu kandungnya sendiri.

    Like

    1. Suatu kenyataan yang terjadi,….
      ..dan tetap berusaha memperbaiki tanpa menyalahkan….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: