PELATIHAN HIGH-IMPACT ; SEBUAH PANDUAN UNTUK TRAINING BERDASAR DRAMA #Psikodrama 6/7


….sambungan dari …. Pelatihan Moderate-Impact…..

Pada level ini Pelatihan berbasis drama memberikan dampak tertinggi pada proses pembelajaran, bahkan melampaui model kinerja dalam pelatihan berbasis ketrampilan yang kontekstual. Dengan kata lain, fokus membangun kesadaran ini terkait langsung dengan kehidupan kerja, aktifitas-aktifitas dan keterampilan sehari-hari dari peserta pelatihan. Model ini melibatkan penyesuaikan setiap aspek dari pelatihan untuk para peserta dan membenamkan peserta dalam sebuah dinamika pengalaman manusiawi secara langsung, selayaknya sebuah simulator penerbangan. Isi dari pelatihan ini disampaikan secara fasilitatif bukan dengan gaya ceramah dalam serangkaian latihan berbasis drama dengan improvisasi terstruktur yang terintegrasi di seluruh pelatihan. Disutradarai oleh para Trainer dan bukan Aktor, latihan-latihan ini menyediakan struktur, kontrol, dan keamanan secara akurat yang mensimulasikan situasi kerja. Para Pimpinan atau Pekerja memasuki skenario sebagai diri mereka sendiri sebagai sarana untuk berlatih mengelola interaksi yang sensitif dan kompleks. Pelatihan High-Impact berbasis drama berfokus pada pengembangan keterampilan dan secara khusus mencerminkan pengalaman kerja peserta dan kebutuhan belajar yang kontekstual.

Pembelajaran diarahkan agar peserta memperoleh pemahaman tentang motivasi dan tindakan mereka sendiri. Selain itu, latihan ini menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman serta menantang untuk peserta karena tingkat keterlibatan aktifnya.

Dalam Pelatihan High-Impact, peserta berusaha untuk lebih dalam menguji dan mengekspresikan dimensi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Dalam pembelajaran semacam ini peserta pelatihan menjadi aktif terlibat dalam konflik, bukan sekedar bermain peran (role play), tapi dalam kapasitas profesionalnya, berpartisipasi langsung sebagai penemu fakta-fakta dan agen perubahan yang potensial.

Pelatihan High-impact menambahkan unsur perbedaan manusia langsung ke dalam proses pembelajaran. Dengan terlibat dalam improvisasi terstruktur satu lawan satu dengan sebuah Karakter, peserta memiliki kesempatan untuk melihat berbagai reaksi – sadar dan bawah sadar -.mereka sendiri pada saat terjadi konflik.

Dalam satu sesi pelatihan, Seorang Peserta (laki-laki) diposisikan dalam sebuah Karakter dihadapkan dengan karakter lain (Perempuan) untuk membantu mengungkapkan kemampuan berjuangnya. Setelah mendorong Karakter untuk jujur ​​dan terbuka,  Dia (perempuan), selanjutnya menjelaskan pada-nya (laki-laki) tentang segala sesuatu mengenai kesalahan yang telah dilakukannya (laki-laki). Trainer memerankan pekerja (laki-laki), perlahan menyilangkan lengannya dan menatap lantai, sebentar-sebentar mengangguk layaknya peserta (laki-laki) berbicara. Trainer bertanya pada Dia (Perempuan) mengapa marah pada dirinya (laki-laki), memberi isyarat peserta (laki-laki) untuk menilai dampak dari tindakan-nya (perempuan). Peserta (laki-laki) tertegun, dan tampak tercengang mendengar pertanyaan Karakter.

Sebuah keuntungan besar dari pelatihan semacam ini adalah bahwa “realitas” dapat dihentikan atau dibekukan pada setiap titik agar dinamika yang akan dilihat dan diungkap menjadi lebih lambat dan tepat. Fasilitator menghentikan adegan di moment ini dan menanyakan pada peserta (laki-laki) bagaimana dia (perempuan) berpikir, saat bertindak. “Saya pikir itu akan berjalan baik,” responnya, “tapi aku (perempuan) tidak tahu mengapa ia (laki-laki) bertanya apakah saya (perempuan) marah.”

Fasilitator memberi waktu istirahat pada peserta (laki-laki) dan memintanya (perempuan) untuk melaporkan apa yang  Dia (perempuan) lihat dalam karakter itu (wajah, postur dan energi). Para penonton juga terlibat membantunya (perempuan), penonton melihat bahwa karakter itu, dalam kenyataannya, mematikan dan defensif. Meskipun begitu tujuan peserta justru sebaliknya – untuk membuka pribadi sehingga mereka bisa berbicara terus terang tentang inti konfliknya dan mengambil langkah dari sana. Ini menjadi jelas bagi peserta (laki-laki) bahwa meskipun salah satu tujuan nya (perempuan) adalah menempatkan orang (laki-laki) merasa nyaman namun taktik nya (perempuan) malah memberikan efek sebaliknya. “Tapi aku mengatakan kepadanya hal-hal ini sehingga ia (laki-laki) akan memahami apa yang dia lakukan,” Dia (perempuan) mengklaim.

Latihan itu telah mengungkapkan kepada peserta (laki-laki) bahwa itu bukan apa yang dia (perempuan) katakan tapi bagaimana dia (perempuan) menyampaikan pesan, Hal ini yang membuat semua perbedaan. Kali ini peserta (laki-laki) melambatkan napasnya dan memungkinkan Karakter itu untuk membahas keprihatinannya. Dipandu oleh Trainer dalam latihan ini, peserta (perempuan) terus memodifikasi keterampilan komunikasinya dengan cara yang membawanya lebih dekat ke tujuan. Itu adalah saat yang mencerahkan bagi peserta pelatihan untuk melihat konsekuensi langsung dari pendekatan yang berbeda.

…bersambung …Waspadalah terhadap Kekuatan Drama!.. 

Terjemahan bebas dari :

A Guide to Drama-Based Training

by Joyce St. George, Sally Schwager and Frank Canavan
Reprinted from: Employment Relations Today, Winter 1999, Vo. 25, No. 8.
© John Wiley & Sons.

4 responses

  1. Tulisan2nya sangat menarik, membuat saya semakin tertarik dengan psikodrama, apa saya boleh belajar langsung dari Mbak tentang psikodrama? Terima kasih.

    Like

    1. ..Dengan senang hati, mari kita belajar bersama,….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: