WASPADALAH TERHADAP KEKUATAN DRAMA! : SEBUAH PANDUAN UNTUK TRAINING BERDASAR DRAMA #Psikodrama 7/7


Sambungan dari  Pelatihan High-Impact ……

WASPADALAH TERHADAP KEKUATAN DRAMA!
Sejauh drama memiliki potensi untuk menciptakan kesempatan belajar yang tajam dan sangat sukses, mungkin juga memiliki kapasitas untuk memanipulasi, mendistorsi, dan berkompromi dengan tujuan pelatihan dan integritas peserta. Menjadi sangat penting bahwa Trainer harus terampil dalam merancang, mengembangkan, dan memfasilitasi pelatihan berbasis drama, terutama ketika digunakan untuk mengatasi topik kontroversial, seperti SARA. Script harus ditulis untuk menghindari stereotip kelompok atau mengorbankan etika. Trainer dan Pelaku harus memiliki pengetahuan tentang topik pelatihan dan menghormati audien. Peserta training harus tidak pernah merasa dipaksa untuk berpartisipasi dalam sesuatu yang mereka tidak merasa nyaman atau aman untuk dilakukan, atau mereka harus mengalami perilaku yang tidak pantas oleh Trainer atau Aktor. Tidak ada yang harus merasa dipermalukan oleh siapa pun yang hadir, dan tak seorang pun boleh merasa takut, sangat gugup, atau diatur untuk kegagalan. Drama adalah media yang sangat kuat. Ini berarti bahwa tujuannya harus sangat jelas, dan teknik yang diartikulasikan dengan penuh hormat, pemahaman, dan kepedulian.

Mereka yang menggunakan pelatihan berbasis drama memiliki kewajiban etis untuk memastikan aplikasi yang sesuai. Berikut adalah beberapa tips untuk dipertimbangkan sebelum menggunakan pelatihan berbasis drama:

  • Tentukan tingkat dampak yang Anda inginkan untuk peserta pelatihan sebelum kontrak dengan trainer berbasis drama
  • Pastikan bahwa Trainer pelatihan berbasis drama membuat presentasi yang menunjukkan pengetahuannya yang luas dalam kedua bidang, topik dan teknik –teknik pelatihan.
  •  Mintalah organisasi pelatihan berbasis drama, demo atau menunjukkan demo rekaman untuk menilai keahlian, gaya dan tingkat dampak yang diharapkan.
  • Mintalah referensi dan review, presentasi sebelumnya yang dilakukan oleh organisasi pelatihan berbasis drama dari klien prospektifnya
  • Tentukan bagaimana pelatihan berbasis drama pada  presentasi atau program pelatihan akan memenuhi kebutuhan spesifik dan tujuan.
  • Tetapkan langkah-langkah evaluatif sebagai kegiatan tindak lanjut untuk mendukung presentasi atau program.
  •  Diskusikan dengan organisasi pelatihan berbasis drama penggambaran karakter untuk mencegah stereotip atau pelabelan kelompok tertentu.
  • Periksa lagi Script dan latihan untuk menilai dampak dan integritas mereka.
  • Periksa kembali seluruh presentasi, termasuk pertanyaan fasilitasi, untuk memastikan hal itu menumbuhkan kohesi dan tidak perpecahan di antara audien yang diwakili dalam drama.
  • Dukung presentasi yang mendorong pengambilan risiko, tetapi jangan sekali-kali yang menyakitkan, sombong atau menimbulkan stress.
  • Pastikan aktor tidak pernah mempermalukan, menghina, atau mengintimidasi seorang pun dari  audiens pelatihan.
  • Jangan pernah menggunakan Trainer atau aktor yang hanya memahami script mereka namun tidak memiliki pengetahuan tentang topik atau teknik-teknik  pelatihan.
  • Berhati-hatilah selama interaksi audien dengan aktor yang hanya memberikan pendapat dan bukan keahliannya.
  • Cegahlah kegiatan-kegiatan yang mendorong peserta untuk mewakili keanggotaan mereka dalam ras tertentu, jenis kelamin, atau kelompok usia.
  • Pastikan harapan keterlibatan peserta dalam latihan sudah dipahami dengan jelas, untuk mencegah potensi manipulasi dan menjamin integritas.

KESIMPULAN
Tujuan paling ambisius dari pelatihan ini adalah untuk memfasilitasi proses perubahan kesadaran dan perilaku, dan drama adalah wahana yang menarik untuk mencapai tujuan ini. Hal ini memungkinkan untuk proses kreatif dan berpusat- disini-sekarang (present-centered), yang mengubah satu hal ke yang lain, yaitu, masalah menjadi wawasan, kebiasaan menjadi satu set baru perilaku, rencana menjadi aksi korporasi.
Tujuan dari pelatihan perusahaan adalah untuk memberikan kesempatan bagi karyawan untuk belajar dan tumbuh, tapi kebanyakan pelatihan terutama berfokus pada teori intelektual dan pengetahuan teknis. Sekarang ini Pemimpin dan karyawan tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga “kecerdasan emosional”, atau kemampuan untuk menyeimbangkan kepala dan hati. Pelatihan berbasis Drama merupakan salah satu alat untuk membantu orang orang menemukan keseimbangan dalam kompleksitas kerja saat ini.

 …..Selesai

Terjemahan bebas dari :

A Guide to Drama-Based Training

by Joyce St. George, Sally Schwager and Frank Canavan
Reprinted from: Employment Relations Today, Winter 1999, Vo. 25, No. 8.
© John Wiley & Sons.

6 responses

  1. ..saya orang yang awam terhadap drama. Bisakah saya dibantu untuk mendapatkan satu defenisi singkat tetapi jelas, apa itu training drama ?

    Like

    1. secara singkat intinya, Prinsip-prinsip Drama/teater dikombinasikan dengan Ilmu Psikologi menjadi Metode dalam proses pelatihan,

      misalnya: Imajinasi, berbicara di depan Umum, menguasai audien,…kesadaran peran (misal sbg karyawan yg baik)

      Like

      1. ma’af, dalam teori / aliran / mazhab Psikologi yg seperti apa Psikologi Drama ini bisa dijelaskan ? psikoanalisa, behavior…atau lainnya ?

        Like

      2. Bapak Psikodrama adalah Jacob L. Moreno,(18 Mei1889 – 14 Mei 1974) seorang psikiater dan psychosociologist, pemikir dan pendidik, pendiri psikodrama, dan pelopor utama kelompok psikoterapi. Selama hidupnya, ia diakui sebagai salah satu ilmuwan sosial terkemuka.

        beliau di pengaruhi oleh Kurt Lewin (9 September 1890 – 12 February, 1947) Pakar Psikologi Sosial, Organisasi dan Psikologi Terapan

        untuk sejarah Drama dipakai dalam Pelatihan dapat dibaca juga:

        https://retmono.wordpress.com/2014/01/09/sebuah-panduan-untuk-training-berdasar-drama-27/?relatedposts_exclude=703

        Like

  2. ning.tyas@yahoo.co.id | Reply

    Sepengetahuan saya, pelatihan berbasis drama itu dilakukan secara kelompok. Saya rasa pembelajaran semacam itu sangatlah positif, karena di dalam kelompok kita dapat melihat diri kita sendiri. Di dalam kelompok ada rasa empati, juga ada rasa keterikatan antara satu dengan lainnya. Intinya, tidak ada kekuatan yang lebih daripada apa yang datang dari seluruh kelompok itu sendiri. Tiap orang dari kelompok itu adalah: bisa dikatakan sebagai alat terapi bagi yang lainnya.

    Like

  3. […] …bersambung …Waspadalah terhadap Kekuatan Drama!..  […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: