PESAN TAK SAMPAI #Goresanku 58


Sebut saja “ Cantik “, murid TK B berusia 5 tahun yang biasanya periang dan lincah itu sekarang lebih sering duduk menyendiri di kelas. Tak ada lagi tawa ceria yang biasa menghiasi bibirnya. Tak hanya itu saja, ia juga menjadi “ judes “ pada semua orang. Setiap ada temannya yang mengajak bicara atau bermain, Cantik menanggapinya dengan galak.
“Nggak mau!”
“Sana pergi !”
Dan biasanya diakhiri dengan tangisan.
Hal itu menjadi perhatianku ….. lama dia bersikap begitu. Setiap kudekati, dia selalu ingin menghindar. Dan saat kutanyapun seakan enggan untuk menjawab. Aku menjadi kasihan melihatnya.
Suatu hari, seperti biasa aku melihat dia duduk menyendiri di kelas. Dan seperti biasanya kudekati dia. Untuk kali ini dia kelihatan lain, wajahnya sedikit kelihatan cerah. Hal ini kesempatan baik untuk bisa aku gunakan berkomunikasi dengannya. Ternyata benar dugaanku, dengan hati-hati kusentuh bahunya dan kutanya mengapa dia selalu bersedih.
Dengan terbata-bata dia katakan bahwa dia tidak ingin “Papa dan Kakak baru”. Ternyata itu sebabnya, Cantik bersikap murung selama ini.
Sebenarnya aku tahu jika mamanya baru menikah 3 bulan ini. Hanya saja aku tidak menduga dengan sikap Cantik selama ini adalah sebagai ” protes ” (penolakan ) atas kehadiran Papa dan Kakak baru dalam kehidupannya.
Aku rasa dalam kondisi tertentu pembentukan keluarga baru bagi orang tua adalah alternatif yang baik. Tapi di mata anak, hal itu dapat menjadi menyakitkan. Orang tua, dalam hal ini, sebagai pelaku utama, umumnya lebih siap lantaran telah melalui proses pemikiran yang panjang. Anaklah yang sering terkaget-kaget, karena secara mendadak harus menerima kenyataan yang ada .
Dengan pengalaman ini, dapat disimpulkan bahwa anaklah yang menjadi korban, Seorang anak akan menunjukkan tanda-tanda kesulitan perilaku dan emosional di sekolah. Anak jadi senang berperilaku di luar kebiasaan serta menampilkan emosi yang sulit ditebak.

Mungkin hanya dengan cara begitulah anak ” mengekspresikan perasaannya “.
Dalam hal ini, orang tua selayaknya lebih tanggap akan perubahan sikap anak

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: