Membangun Karakter sebagai Modal Masa Depan #Goresanku 56


Apa yang ada dibenak Anda ketika disebut kata modal? Mungkin langsung terpikir uang bermilyar rupiah, deposito sampai trilyun, setumpuk investasi saham, atau property di berbagai tempat sebagai simpanan masa depan. Pernahkah terpikirkan modal dalam bentuk lain, seperti modal spiritual, jiwa yang tulus atau karakter tertentu yang dapat diandalkan? Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya Spiritual Capital, justru modal spiritual akan memperkaya aspek-aspek kehidupan kita sehingga mampu memberi makna penting dalam hidup ini bagi banyak orang.
Banyak orang tua sangat mementingkan tingginya IQ anak-anak mereka, sehingga dengan segala cara mereka berusaha merangsang pertumbuhannya pada anak mereka. Pihak sekolah juga memiliki standard IQ yang mengharuskan anak-anak tingkat dasar memiliki tingkat IQ tertentu untuk bisa diterima di sekolah. Sebaliknya soal spiritual dan juga karakter sering diabaikan dan dipandang sebelah mata. Karakter hanya dianggap sebagai pelengkap semata, bukan prioritas dalam kurikulum yang ada. Padahal karakter sangat penting dalam pembangunan pribadi anak yang tangguh, atau bahkan dalam membangun peradaban, seperti diuraikan Ratna Megawangi Ph.D dalam bukunya “Pendidikan Karakter Solusi Tepat untuk Membangun Bangsa.” Lord Channing mengatakan “The great hope of society is individual character.”
Dunia tempat kita hidup saat ini penuh dengan tantangan yang kompleks, sebab dunia sudah berubah, semakin kejam, menakutkan dan rusak. Gaya hidup yang dipertontonkan dunia masa kini dipenuhi oleh kekacauan moral, di mana keluarga tradisional sudah menjadi barang langka. Yang marak dan dipertontonkan di masyarakat adalah keluarga yang hancur, ayah dan ibu saling menyakiti sehingga anak jadi korban. Situasi dan kondisi seperti ini tidak dapat diatasi hanya dengan rasio atau logika semata, dibutuhkan modal yang berbeda. Dibutuhkan hikmat dan disiplin yang luar biasa untuk membangun anak-anak yang kuat menghadapi ranjau perubahan, arus informasi yang sangat deras, obat-obatan terlarang, dan pergaulan seks bebas. Dibutuhkan karakter yang kuat untuk bertahan dalam kehidupan yang keras, agar mampu mengatasi segala persoalan yang dihadapi di masa depan.
Pakar pendidikan, William Bennett, dalam bukunya Moral Literacy and the Formation of Character mengatakan bahwa “The biological, psychological and educational well-being of our children depend on the well-being of the family. The family is the original and most effective Department of Health, Education and Welfare.”
Pembangunan karakter anak sangat ditentukan oleh pola asuh sejak dini dalam keluarga. Karena itu perlu dibangun keluarga yang kokoh untuk dapat melahirkan generasi-generasi penerus yang berkualitas ,berkarakter kuat yang bermanfaat besar dalam masyarakat. Yang harus berperan bukan hanya ibu, tetapi juga ayah. Bahkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dimasa kecil sampai usia remaja sangat menentukan pembentukan karakter anak. Keluarga yang harmonis, dimana ayah dan ibu saling berinteraksi dengan kasih sayang akan memberikan suatu lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter anak. Menurut Erikson, kesuksesan orang tua membimbing anaknya dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak (Erikson, Identity: Youth and Crisis, 1968).
Alice Miller dalam bukunya, For Your Own Good membuat analisis menarik tentang kaitan antara kebencian Hitler terhadap orang Yahudi dengan pengalaman masa kecilnya yang sangat pahit. Ayahnya sangat kejam, suka menyiksanya dengan tali pinggangnya sejak ia balita. Ketika beranjak dewasa baru Hitler tahu bahwa ayahnya adalah anak dari hasil hubungan gelap antara neneknya dengan pria Yahudi. Menurut Alice Miller, perlakuan Hitler terhadap orang Yahudi dipicu oleh keinginannya untuk membalas dendam kepada ayahnya yang sangat ia benci. Menyedihkan sekali!!
Jelaslah bahwa untuk menyiapkan masa depan yang gemilang bagi anak, setiap orang tua punya andil besar untuk mempersiapkannya bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Sebab menurut Eric Neumann, dalam bukunya The Child mengatakan bahwa kelekatan (bonding) antara ibu dan anak akan menentukan pembentukan kepribadian anak selanjutnya.
Menjadi orangtua di masa kini bukanlah pekerjaan mudah yang boleh dianggap remeh, sebab perlakuan orang tua sangat berperan dalam pembentukan karakter anak. Menurut Albert Bandura, tokoh pendidikan, anak belajar melalui observasi terhadap perilaku modelnya, kemudian anak menirunya. Bukankah model utama anak adalah orang tuanya sendiri? Jadi membangun karakter anak harus dimulai dengan menyadari kekuatan dan kelemahan karakter sendiri sebagai orang tua. Orang tua yang sadar akan dirinya dan mau belajar memperbaiki diri diharapkan mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Biarlah anak-anak tumbuh dengan berbekal modal penting dari keluarganya, yaitu karakter dan kepribadian yang kuat.
Amsal 22:6 mengatakan “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: