Valentine – ku ; Kasihmu tak Terbatas #Goresanku 74


” Bangun hari sudah pagi, sarapanmu sudah ibu siapkan di meja “.

Tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingatnya. Kini usiaku sudah kepala 4 dan aku jadi seorang guru PAUD, tapi kebiasaan ibuku tidak pernah berubah.
” Ibu sayang …. tidak usah repot-repot bu, aku sudah dewasa dan aku kan bisa nyiapkan sendiri, “pintaku pada ibu pada suatu pagi. Kulihat WajahNya langsung berubah.

Kenapa ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa menerka-nerka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami ibu. Dari artikel yang aku baca, orang yang sudah lanjut usia sangat sensitif dan cenderung bersikap kekanak-kanakan. Tapi entahlah ……Bunga

Niatku ingin membahagiakan ibu, malah membuat ibu sedih.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,” Bu, maafkan aku jika telah menyakiti perasaan ibu. Apa yang membuat ibu sedih ?” Kutatap ke dalam sudut mata ibu, ada genangan air mata yang akan segera jatuh.

Terbata-bata ibu berkata,” Tiba-tiba ibu merasa kamu sudah tidak lagi membutuhkan ibu. Kamu sudah dewasa. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan buat kamu. Semua sudah bisa kamu lakukan sendiri “.

Duh Gusti …… ternyata untuk seorang ibu bersusah payah melayani anaknya adalah suatu kebahagiaan.

Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih, karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku merenung dalam hati. Apa yang sudah aku persembahkan untuk ibu dalam usiaku sekarang ini ?

Apakah ibu bahagia dan bangga padaku ? Ketika itu kutanya padaNya, ibu menjawab.

” Banyak kebahagian yang telah kamu berikan pada ibu.
Kamu selalu sempatkan nengok ibu barang sebentar saja, itu sudah merupakan suatu kebahagiaan. Dan yang terpenting, melihat kamu sehat di situlah kebahagian orang tua “.

Aku hanya bisa berucap, ” Ampuni aku ya Tuhan jika selama ini tidak banyak ketulusan yang kuberikan pada ibu. Betapa sabarnya ibuku melalui semua liku-liku kehidupan ini.

” Terimakasih ibu, aku beruntung sekali memiliki ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan ibu ….”. Kulihat binar mataNya memancarkan kebahagiaan.

Ya Tuhan cintai ibuku, beri aku kesempatan lebih banyak untuk bisa membahagiakan ibu ……

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty

One response

  1. Terima kasih IBU….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: