Argumen vs Rekonsiliasi


Istri tersayang saya, Allee dan saya memiliki beberapa kenikmatan terbesar dalam berbicara dari hati ke hati. Daripada berdebat, kita mendengarkan dan kemudian mencoba untuk tidak hanya memahami, tetapi mengungkapkan dalam hal apa mungkin berpikir dan merasa satu sama lain. Kami menjelajahi dua arketipe kunci tadi malam: aku menyadari aku berhenti pada perasaan “menjadi” dan aku merasa terhormat dalam berpikir bahwa aku dapat membantu meskipun dalam hal yangg sepele. Hal ini penting dan memuaskan bagi saya. Allee menemukan sesuatu yang mengganggu, tetapi hanya sejauh itu membawa semangat abad ke-20 yaitu Argumentasi, yang berdasar pada bahwa kebenaran lebih baik “menang” lebih dari pada bahwa kebenaran adalah baik.
Meskipun arketipnya Allee, baginya setiap hal kecil adalah valid. Baginya, saat kebaikan, keselarasan, hal-hal kecil yang tidak perlu membuktikan apa-apa, yang tidak menyebabkan apa pun, tidak memiliki implikasi lebih lanjut, tidak memerlukan aplikasi praktis untuk hubungan rasional jangka panjang, kesemuanya itu tidak ada yang diperlukan. Kebaikan dalam Sekarang baik-baik saja (aku ra po po). Mengingat latar belakang dan temperamennya, saya bisa berempati secara akurat dengan mengambil perannya dan memintanya untuk memberikan umpan balik-bimbingan.
Tapi bagi saya, saya juga benar. Dilihat dari landasan psikologis, saya tidak lebih baik atau lebih buruk dari miliknya. Perbedaan-perbedaan kami muncul dari arketipe inti yang berbeda. Itu diletakkan pada meta-level untuk menyadari bahwa dua orang yang berada dalam cinta mendalam dan menghargai satu sama lain, yang sangat kompatibel, masih bisa beroperasi dari dua arketipe yang berbeda. Ini lebih cocok dengan artikel singkat yang kita baca tadi malam yang juga menyatakan argumentasi yang gersang, berjudul “Irrationality and Human Nature,” (pp. 144-146) by Prof. Lee Silver, dalam antologi pemikiran berjudul What Have You Changed Your Mind About? Published by the Edge group.
Artikel ini masih memendam gagasan abad ke-20 bahwa rasionalitas murni adalah kebaikan tertinggi. Bagaimanapun dia putus asa pernah mengubah pikiran orang lain. Tapi saya mengusulkan bahwa dia salah dalam asumsi bahwa rasionalitas adalah kriteria tertinggi. Dia perlu memiliki nilai-nilai lain yang non-rasional dan ini mungkin dapat mengatasi rasionalitas. Inilah yang saya maksud dengan pola dasar.
Juga, dalam memeriksa “Edge” website , saya membaca ini: “Ketika berpikir merubah pikiran Anda, itu filsafat. Ketika Tuhan mengubah pikiran Anda, itulah iman. Ketika fakta merubah pikiran, itulah ilmu pengetahuan. “. . . Saya bisa menambahkan sementara, “Ketika psikologi merubah pikiran Anda –Aku tidak tahu, semacam mendadak bijak, kerendahan hati, pengertian, sedikit filsafat, kesadaran akan keterbatasan pikiran, atau rasa yang sesuai itu menjadi lebih penting untuk menjaga hidup bersama?
Michael Dowd dan Connie Barlow melakukan tour negara dan berbicara tentang the Great Story.. Saya pikir itu indah! Michael berbicara tentang “bahasa malam” dan “bahasa hari,” kesemuanya itu tadi menjadi lebih mistis dan puitis. Aku dapat mengisahkan, karena saya telah menyadari sejumlah nilai yang baik yang dipegang yang tidak mendasar rasional, cinta menjadi satu, “lucu” menjadi unik, puisi yang indah, humor, dan elemen lainnya seterusnya.
Pandangan dunia di Abad ke-20 mendukung gagasan bahwa ada kebenaran yang dapat diidentifikasi dalam teori, setidaknya, dapat dicapai. Saya tidak lagi percaya ini. Saya pikir pikiran menjalin rasionalisasi kompleks untuk arketipe dasar yang beroperasi jauh di dalam jiwa. Apa yang benar untuk satu mungkin tidak benar bagi orang lain, dan, memang, mengingat bahwa setiap kebenaran, setiap arti kata kunci, terkait dengan ribuan asosiasi, masing-masing memiliki warna dan bobot di sejumlah cara yang berbeda, menjadi jelas bagi saya bahwa tidak ada dua orang yang dapat memiliki pemahaman yang sama persis terhadap suatu hal.
Bahkan saya menyadari lagi bahwa jika aku punya murid paling setia, dan jika saya telah mengajarkannya semua yang saya tahu dengan baik, dan jika ia telah sepenuhnya menerima semua yang saya katakan, menuliskannya, mempelajarinya … Saya pikir kemungkinan adegannya akan seperti berikut:
Beberapa tahun kemudian, aku datang dan duduk di belakang aula besar di mana satu murid saya berceramah tentang Blatner-isme dan semua yang saya sayangi serta menjelaskan filosofi hidup saya. Saya menyadari bahwa saya akan merasa ngeri, karena kesetiaan, keloyalan murid, dengan segala ketulusannya dan dengan motif tertinggi, memiliki nuansa, lika likunya, cara untuk mengatakan hal-hal yang mengungkapkan sesuatu yang lain dari apa yang telah saya ajarkan, yang saya maksudkan! Ups! (saya kaget, tertawa dan biarlah itu terjadi.)
Pemikiran-eksperimen ini dimaksudkan untuk menggambarkan poin esai ini dalam semangat mentolerir kekacauan. Aku datang untuk berpikir bahwa itu bukan teori-teori kita, bagaimanapun, bukan isi dari apa yang kita yakini. Tentu saja ada beberapa nilai, ide-ide tertentu dapat merangsang ide-ide lain. Tapi, menggadaikan prinsip hidup? Nah. Tapi kemudian apa yang bisa lebih penting?
Apa yang lebih penting adalah hal-hal yang bekerja keluar; menyadari bahwa kebulatan suara penuh benar-benar mustahil, dan kompromi atas preferensi, bobot makna dari kata-kata, implikasi dari berapa banyak dan di mana cara kita akan bertindak berbeda-semua ini dapat dan harus dinegosiasikan ketika kolaborasi diperlukan, atau terserah itu semua dibiarkan mengalir tanpa hambatan saat diekpresikan individu.
Apa yang berubah bagi saya adalah prasangka abad ke-20 bahwa kebenaran dapat ditentukan dengan bukti dan bahkan sebagian besar jenis argumentasi di bidang hukum. Beberapa kebenaran-proses pengembangannya, berkembang dengan cara seperti itu -, terutama dalam bidang Ilmu Pengetahuan. Tapi proses lainnya yang berhubungan dengan kehidupan keluarga, politik, spiritualitas dan sebagainya berkembang lebih baik melalui semangat Cinta, menginginkan untuk membawa orang lain lebih baik, dan hidup dalam harmoni. Jika mereka tidak aktif menyakiti Anda atau orang lain dengan keyakinan mereka, saya cenderung untuk membiarkannya pergi dan mencari cara untuk menikmati kebersamaan satu sama lain ‘. Kadang-kadang ini mungkin melibatkan pertemuan kita hanya dalam peran atau kegiatan di mana perbedaan-perbedaan kita, sensibilitas atau pendapat tidak penting, dan dalam setting tersebut, itu tidak sopan dan sia-sia-untuk membawa poin-poin perbedaan kita.

Terjemahan bebas dari :
Argument versus Reconciliation
Originally posted on August 14, 2011 oleh Adam Blatner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: