Realisme Psikologis dalam Teater – ku


Tulisan ini terinspirasi dengan berita penghormatan kepada Alm. Gabriel Garcia Marquez, penulis yang beraliran “Realisme Magis”. Novelis Peraih Nobel Sastra 1982, yang kubaca di Kompas hari ini, Senin, 21 April 2014.
Aku jadi teringat pada waktu merintis KRST (Keluarga Rapat Sebuah Teater) bersama kawan kawan di Fakultas Psikologi UGM. Kami sepakat untuk mengeksplorasi aliran Realisme Psikologis…(kayaknya ini aliran yang kami bikin-bikin dech! :D)

Waktu itu pertimbangannya sederhana saja, bahwa kami semua belajar Ilmu Psikologi, dan ingin menggabungkan dengan Teater yang Realis. Maksud kami adalah dengan ber-Teater (berkesenian) kami akan mengaplikasikan Ilmu Psikologi yang kami dapatkan di bangku kuliah. Juga bermaksud dalam ber-teater ini kami ingin lebih mengenal diri dan mengembangkan diri.

Waktu itu tahun 1994 kami belum mengenal Psikodrama, sehingga kami bereksplorasi dengan kemampuan sendiri. Meskipun begitu kami membaca dan belajar tulisan Stanislavski, dan karya-karya Anton Chekov, Rabindranath Tagore, Rendra, Putu Wijaya, Arifin C Noer serta Chairil Anwar. Selain belajar karya sastra Klasik Dunia baik dalam negeri (Pramudya Ananta Toer) maupun luar negeri( Shakespeare, Alexandre Dumas, Jules Verne, Herman Melville, dll) Tentu waktu itu kami juga membaca teori-teori sosial dan filsafat, karena waktu itu sedang ramai dalam mengkritisi kekuasaan Orde Baru.

Sepemahamanku, Realisme Psikologis adalah; kami memilih naskah-naskah yang realis dengan menekankan pada eksplorasi Dinamika Psikologis tokoh-tokoh yang dimainkan. Dalam berlatih kami menerapkan metodenya Stanislavski. Kami mengajak selama latihan teater membangun karakter tokohnya dengan mengeksplorasi emosi-emosi yang pernah dialami secara pribadi oleh Aktornya, sehingga saat memerankan tokohnya memiliki emosi yang asli, otentik. Selama latihan persiapan Pentas kami mencampurkan peran tokoh dengan peran keseharian kami. Kami menghidupkan Karakter tokoh dalam kehidupan keseharian kami di kampus dan di rumah. Tujuan kami adalah “Menjadi” tokoh itu nantinya, bukan hanya berperan “Sebagai”.

Dengan cara berlatih seperti itu, secara pribadi kami mencoba mengubah diri agar sesuai dengan tuntutan peran di atas panggung. Saat dipentaskan, secara artistik hasilnya tentu saja masih jauh dari standar akting aktor profesional (mohon dimaklumi karena kami Teater Amatir). Meskipun demikian yang menjadi tujuan kami adalah perkembangan pribadi bagi tiap orang yang terlibat dalam proses tersebut. Kami merasakan perubahan menjadi lebih percaya diri, dan lebih mampu mengenal serta mengekpresikan emosi. Paling tidak hal itu aku rasakan aku yang dulunya Pemalu sekarang sudah menjadi Memalukan.😀

Selain daripada itu, salah satu dari kami, yaitu Dicky Apriadi, membuat  Skripsinya dengan penelitian (Judul) “Pengaruh Latihan Dasar Keaktoran dalam Sebuah Proses Pementasan Teater terhadap Kestabilan Emosi” . makin mantaplah keyakinan kami bahwa dengan berproses Teater kami telah mengasah diri. Dengan latihan dasar saja sudah mampu mempengaruhi, apalagi dengan latihan rutin bahkan sampai pementasan. Pastilah pengaruhnya lebih besar. Tentu saja akan sangat membantu jika ada yang bersedia melakukan riset tentang hal ini.

Demikian sedikit cerita tentang Realisme Psikologis, sebuah keyakinan yang pernah (dan mungkin sedang, semoga selalu) menjadi dasar Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST). Ini menurut pendapatku pribadi lho…..😀

Semoga dalam “Berkreasi dengan Cinta” tetap “Masuk Akal”….Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: