Monthly Archives: March, 2014

MEM – VONIS INSTAN SEORANG ANAK ?? #Goresanku 31


Sebut saja Ade, dia seorang anak laki-laki berumur 4 tahun. Sudah satu bulan Ade mulai masuk ke pendidikan non formal ( TK ). Pada awalnya kelihatannya Ade adalah “ anak yang tidak manis “, banyak yang menyebut Ade adalah “ABK”. Dia suka menyendiri dan setiap kehadirannya pasti deh kelas jadi gaduh. Dia berteriak, menangis histeris bahkan sampai gulung-gulung di lantai. Hal itu menurut teman-temannya sangatlah mengganggu, karena kelas jadi tidak nyaman. Continue reading →

Advertisements

BERCERMIN #Goresanku 30


Ada pengalaman menarik, ketika aku hadir di acara reuni teman2 SMA. Suasana begitu hangat, kami saling bertukar ceritera. Maklum hampir 10 tahun tidak ketemu, jadi banyaklah bahan untuk diobrolkan di situ.
Ketika kami sedang asyik ngobrol dan mencicipi hidangan yang ada, tiba2 salah satu teman berteriak dan menyuruh teman lainnya yang kebetulan dia adalah seorang pelukis. Dia mengusulkan agar teman pelukis untuk menggambar karikatur dari semua teman yang hadir. Seketika itu juga kami tertawa, menganggap hal itu aneh. Namun tidak dengan teman pelukis, dia malah menganggap itu sangatlah menarik.
Mulailah dia membuat sketsa wajah teman yang hadir. Begitu cepat dan berani dia melakukannya. Dengan waktu yang singkat, dia berhasil menggambar semuanya.
Lalu dia mengedarkan gambar tersebut. Suasana menjadi meriah dengan banyaknya tawa dan lelucon ketika mereka melihat gambar tersebut.
Di dalam kemeriahan itu aku sempat menangkap ada semacam keanehan. Kebanyakan dari mereka dengan mudahnya mengenali dan tertawa melihat gambar orang lain, namun sedikit yang mengenali gambar dirinya sendiri.

Ya begitulah … kadang kita lebih mudah menilai orang lain daripada melihat kondisi diri kita sendiri.

Semoga bermanfaat ……

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty

BERPIKIR TENTANG PERAN


Keterampilan “Mengambil Peran” dapat dikembangkan dengan menggabungkan praktek dan beberapa instruksi yang sistematis. Salah satu cara memulainya adalah dengan mengenali bahwa; kebanyakan orang dalam banyak peran yang mereka mainkan, membawa dalam peran itu sejumlah besar pertanyaan, yang mungkin termasuk pertanyaan-pertanyaan yang disebutkan di bawah ini. Beberapa pertanyaan di bawah ini mungkin berlaku, tetapi dengan relevansi yang relatif; bahkan mungkin tidak berlaku sama sekali untuk orang tertentu. Meninjau berbagai peran ini dapat berfungsi sebagai sebuah proses pemanasan. Daftar Peran ini juga dapat menjadi latihan untuk mereka berlatih ego pendukung (atau pemain pendukung) dalam sebuah role playing.

Di website lain (wawancara Imajinatif (Imaginative Interviews) saya menyediakan pendekatan awal dengan mengajukan enam pertanyaan:

Apakah keuntungan dari peran ini? Continue reading →

IKAN KECIL DAN AIR #Goresanku 29


Suatu hari Seorang Ayah dan Anaknya sedang duduk dan berbincang-bincang di tepi sungai. Kata Ayah kepada Anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati”.

Pada saat yang bersamaan, Seekor Ikan Kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, Ia mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Continue reading →

Orang Tua: Stop Mem-bully Anak-Anakmu dengan Harapan yang Tidak Masuk Akal!


Neny: Up, Close, and Personal

Sepupu saya baru saja mengirimkan sms putus asanya, bercerita tentang orang tuanya yang sedang memarahi habis-habisan adik bungsunya yang duduk di bangku SD kelas 2. Si orang tua marah karena si adik ini nilai rapornya ada satu yang dapat 8, sementara pelajaran lainnya dapat nilai 9.

Reaksi saya adalah: astagaaaaaaaaaa, si bungsu ini pintar amat ya? Cuma satu nilai 8 dan yang lain nilai 9! Saya saja dulu tidak sepintar dia. Masak masih dianggap tidak bagus nilainya?

Orang tua macam begini nih yang bikin anak stress sepanjang masa sekolah. Gimana enggak? Nilai sudah mendekati sempurna saja masih dianggap tidak cukup. Apalagi kalau nilainya di bawah ambang ketuntasan. 

View original post 721 more words

Kriteria Moreno untuk Tes-tes Sosiometri


Dalam Sosiometri, Metode Eksperimental dalam Ilmu Sosial merupakan  Sebuah Pendekatan untuk Orientasi Baru mengenai Politik.

Moreno menjelaskan sejauh mana kedalaman sebuah kelompok harus diungkap untuk metode yang akan disebut “Sosiometris”. Sebuah istilah yang baginya memiliki makna kualitatif dan tidak akan berlaku kecuali dipenuhinya beberapa kriteria prosesnya di dalam kelompok. Continue reading →

MENCOBA UNTUK MERENUNG #Goresanku 28


Sediakan beberapa menit dalam sehari untuk melakukan perenungan. Lakukan di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur, atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur.

Merenunglah dalam keheningan. Jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan kita tidak mencari jawaban. Cukup berteman dengan ketenangan maka kita akan mendapatkan kejernihan pikiran. Continue reading →

Jangan Pernah Meremehkan Orang Lain #Goresanku 27


Pada suatu hari, Seorang Anak masuk ke dalam rumah makan yang sangat terkenal dan mahal. Dia masuk seorang diri dan memakai pakaian biasa, tidak seperti anak-anak lain yang memakai pakaian yang bagus. Anak itu duduk di salah satu kursi lalu mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu Pelayan. Continue reading →

SOSIOMETRI (Metode Utama Psikodrama)


Sosiometri adalah metode kuantitatif untuk mengukur hubungan sosial. Ini dikembangkan oleh psikoterapis Jacob L. Moreno dalam studinya tentang hubungan antara struktur sosial dan kesehatan jiwa (psychological well-being).
Istilah sosiometri berkaitan dengan etimologi Latin,yaitu:
socius berarti hubungan sosial (rekan/pasangan), dan
metrum yang berarti mengukur.

Jacob Moreno mendefinisikan sosiometri sebagai “proses penyelidikan evolusi, pengorganisasian dalam kelompok dan posisi individu di dalamnya”.
Dia melanjutkan dengan menulis: Continue reading →

Luka Yang Tak Pernah Bisa Sembuh #Goresanku 26


Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Sehingga Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruhnya mempaku satu batang paku di pagar pekarangan, setiap kali dia kehilangan kesabaran atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia mempaku 37 batang di pagar.
Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari.

Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada mempaku di pagar. Continue reading →

%d bloggers like this: