Ujian Nasional atau perang?


berikut tulisan dari salah satu Group Mailist Psikologi :

Mari kita pikirkan,…apa yang sebenarnya terjadi…….

 

Teman-teman,

Tadi malam temanku Rahmad Zakaria dari Samarinda mengirim email sbb:

” Selamat malam Pak…

Saya lagi baca-baca berita tentang UN dan jadi kepingin minta tanggapan Bapak tentang UN ini…

Mulai Senin lusa, siswa-siswa SMA akan ‘berjuang’ menghadapi UN. Sekolah-sekolah yang menjadi tempat (rayon) distribusi soal diawasi dengan SANGAT KETAT oleh petugas, selain diawasi juga oleh banyak tim independen yang katanya terlihat sangat tegas, dan menjalankan fungsinya dengan sangat baik (baca: benar-benar bertugas mengawasi). Sekolah juga dijaga oleh 1 mobil pasukan (entah polisi atau TNI). Suasana diceritakan sangat tegang, khususnya untuk pihak sekolah.

Saya koq jadi berpikir, sederhana saja Pak…. mengapa suasana mau UN koq jadi mirip mau perang ya Pak?

 

Salam,

Rahmat Zakaria – Samarinda.”

Tanggapan kami sbb:

1.    Tes itu di mana-mana di dunia ini membuat siswa merasa tertekan, tegang, mudah mengalami stres. Karena itu, siswa yang berprestasi baik bisa saja tak mampu menunjukkan kemampuannya dalam mengerjakan tes. Siswa SMA Indonesia akan merasa lebih tegang lagi jika melihat naskah soal ujian nasional (UN) dijaga polisi dengan bedil. Malah pernah terjadi di Deli Serdang Sumatera Utara beberapa tahun lalu, Densus 88 tiba-biba menyergap siswa SMA di sekolah waktu sedang mengerjakan soal UN. Apakah decision makers di Kemdikbud tidak memakai otak dan memperlakukan siswa seolah teroris? Bangsa apa ini? Apakah kita bangsa yang tidak menyayangi anak-anak didik yang masih dalam proses mencari dan membentuk identitas? Mengapa kita menciptakan suasana mirip persiapan perang, dan perang itu sasarannya adalah anak-anak bangsa sendiri? Hasil riset di seluruh dunia menunjukkan bahwa tak ada belajar yang berhasil jika dilakukan dalam suasana tertekan, suasana takut.

 

2.    Landasan berpikir di dunia pendidikan di dunia ini telah lama beralih dari hard pedagogy (mendidik anak dengan keras penuh ancaman dengan vonis ujian akhir, pendidikan penuh kompetisi sehingga ada yang menang dan ada yang kalah) ke arah soft pedagogy (mendidik anak dengan kasih sayang dan membuat mereka merasa berhasil, bukan merasa kalah. Setiap siswa harus merasa menang pada akhir dari seluruh aktivitas belajarnya). Soft pedagogy ini telah ditempuh Inggris dan Amerika misalnya dengan memberlakukan standardized test (tes terstandar). Misal di SD pada mata pelajaran Sains siswa mengerjakan tes terstandar yang diberikan guru di kelas II, IV, dan VI. Tes terstandar Bahasa dikerjakan siswa misalnya di kelas I, IV, dan VI. Dengan demikian, tes dilakukan dalam suasana yang tentang, damai, tak membuat siswa tertekan. Ujian nasional juga ada, misalnya di akhir SMA tapi siswa bisa memilih ujian mata-mata pelajaran pilihannya. Kalau mau masuk Fakultas Kedokteran ya mungkin hanya mengikuti tes akhir nasional untuk mata pelajaran Biologi, Kimia, dan Matematika, bisa juga tambah Bahasa Inggris. Kalau mau masuk Fakultas Hukum ya ambil saja Sosiologi, Pendidikan Kewarganegaraan, Sejarah, dan salah satu bahasa asing. Di Finlandia tak ada ujian nasional di SD, SMP, dan SMA. Satu-satunya ujian ditempuh siswa berupa matriculation test untuk penempatan di jurusan yang sesuai di PT. Siswa-siswa Finlandia sering merebut posisi nomor satu pada berbagai tes internasional yang diikuti banyak negara di dunia. Siswa belajar dalam suasana menyenangkan, tidak merasa tertekan selama di SD, SMP, dan SMA.

 

3.    Dalam berbagai kesempatan rapat, seminar, dan lokakarya di Kemdikbud telah berulang kali kami kemukakan gagasan tentang standardized test dan pilihan siswa mengikuti 3 – 4 ujian mata pelajaran di akhir SMA tapi sampai sekarang ide-ide seperti ini dianggap angin lalu. Format UN juga sudah sejak pertengahan 1980-an sampai sekarang telah kami kritik soal penggunaan bentuk tes pilihan ganda. Disarankan agar dipakai tes esai (uraian) dan tes praktik misalnya speaking bahasa Inggris, eksperimen IPA, mengarang dalam Bahasa Indonesia. Keberatan yang dikemukakan adalah mahal. Kami bantah, di zaman Bung Karno waktu kita masih miskin melarat saja diadakan tes praktik seperti ini. Mengapa sekarang uang tambah banyak tapi kita tak bisa. Alternatif yang dikemukakan adalah dalam ujian sekolah kan ada tes praktik. Lalu, kami bantah, iya ada tes praktik tapi nilai UN menentukan nasib siswa lulus atau tidak. Kita masih mendewakan UN model begini yang tak langsung berhubungan dengan sukses anak di PT dan dalam pekerjaan dan kehidupan di masyarakat.

 

4.    Ya, selama ini kita tak mendaptkan Mendikbud yang mengerti betul soal UN ini. Tiap kali sang menteri hanya mendapatkan masukan dari orang-orang yang beraliran kuantitatif dalam evaluasi dan ujian.

 

5.    Di tengah rasa frustrasi selama lebih dari 25 tahun ini membuat kami berpikir, kalau tak bisa mengubah kebijakan di tingkat Pusat ya terjun saja ke akar rumput, membuat perbaikan dari guru, kepala sekolah, dan siswa di sekolah. Sukses dalam pekerjaan dan kehidupan lebih ditentukan proses belajar dan proses pendidikan sehari-hari di sekolah. Sukses itu tidak semata ditentukan oleh ujian nasional yang menyeramkan, yang membuat siswa bersiap untuk berperang entah dengan siapa musuhnya.

 

Have a nice Sunday!

 

S Belen

Education Consultant

HP +62 813 1653 6832

www.sbelen.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: