Accelerated Learning (AL)


oleh : Fatchuri Rosidin untuk Ibu Eva, dari diskusi di Linkedin, 22 November 2011

Accelerated Learning (AL) merupakan model pendekatan training yang telah banyak merevolusi program-program training di ratusan perusahaan dunia seperti American Airlines, American Express, Kodak, GE Capital, Zurich Insurance, Bell Atlantic, Travelers Insurance, Chevron, Florida Community College, dll. Pendekatannya yang fun dan kreatif telah menarik minat banyak perusahaan. Salah satu kaidah yang menarik, training berbasis AL hanya memberi porsi 30% untuk lecturing; 70% harus activity based learning. Efektifitasnya telah banyak dibuktikan, bahkan dengan waktu yang jauh lebih singkat dari training konvensional. Trainer tidak harus pandai bicara di kelas untuk jadi praktisi AL, bisa dipelajari bahkan oleh mereka yang baru terjun ke dunia training.

Accelerated Learning adalah pembelajaran yang alamiah; yang didasarkan pada cara orang belajar secara alamiah. Dan itu bukan teknik baru. Itu teknik dasar yang paling kita kuasai; paling alami dari diri kita; paling kita kuasai secara instingtif; dan paling sesuai dengan karakter kita.

Accelerated Learning bukanlah sebuah teknik dan trik-trik pelatihan semata. AL didasarkan pada prinsip-prinsip hasil berbagai penelitian modern tentang otak dan pembelajaran. Ada beberapa prinsip utama yang mendasari AL:

* melibatkan seluruh pikiran dan tubuh. Belajar dengan cara duduk dan diam tidak merangsang pikiran untuk bekerja. Belajar bukan hanya aktivitas otak semata (apalagi hanya membatasinya dengan otak kiri). Belajar harus melibatkan seluruh pikiran (termasuk otak kanan) dan juga fisik.

* adalah berkreasi, bukan mengkonsumsi. Mendengarkan presentasi adalah kegiatan konsumsi. Buat peserta training Anda berkreasi dengan menyelesaikan kasus, menciptakan atau mencari sesuatu. Belajar adalah tindakan berkreasi.

* berbasis aktivitas lebih efektif daripada berbasis presentasi. Ini sesuai dengan prinsip pertama. Dalam AL, presentasi tidak boleh lebih dari 30%.

* membantu proses belajar. Lakukan aktivitas kelas dalam kegiatan berkelompok. Tidak hanya diskusi dan games, tapi juga saat belajar, membaca, menjawab soal dan latihan.

* berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri yang diberi feedback. Jika pekerjaan ibarat bumi, jangan jadikan kelas pelatihan seperti langit. Pelatihan justru harus bisa membawa dunia kerja ke dalam kelas.

1. Emosi positif membantu proses belajar.

Itu 6 prinsip utama AL. Prinsip ini secara konsisten diterapkan dalam mendesain training dan proses delivery-nya. Contoh desain ‘Densus 88’ di atas menerapkan ke-6 prinsip AL. Desainnya berbasis aktivitas berkelompok, mendapatkan knowledge melalui aktivitas berkreasi yang melibatkan kerja pikiran dan fisik, mengangkat apa yang terjadi di pekerjaan ke dalam kelas, serta membuat suasana positif dalam pembelajaran.

Untuk mendesainnya, saya membantu mereka dengan membuat software sederhana berbasis Excell. Software ini membantu peserta mendesain step by step. Dalam membuat modul, peserta tidak berfokus pada pembuatan slide presentasi; tetapi berfokus pada output dengan merancang berbagai aktivitas yang membantu peserta mencapai output. Slide presentasi itu tahapan terakhir; seringkali bahkan tidak perlu slide presentasi sama sekali.

Tertarik mencoba, bu Eva?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: