Playback Teater


Apakah Playback Teater itu?

Playback Teater adalah sebuah bentuk improvisasi dari teater yang muncul di Amerika tahun 1975 dan saat ini telah menyebar ke lebih dari 17 negara. Teater ini berawal dari Teater serimonial di Asia dimana tradisi oral dan penceritaan yang diperankan dalam komedi dan drama memainkan peran sangat penting dalam penyebaran budaya kesukuan.


Dalam Playback seorang anggota kelompok didorong untuk menjalin kontak dengan kehidupan nyata dan kemudian hal tersebut akan diperankan oleh orang lain. Bukti ilmiah dari pengalaman di Amerika menunjukkan playback memiliki dampak terapiutik sejalan dengan penyadaran diri, meningkatkan kreativitas dan spontanitas, dan memperkuat sense of identity seseorang.
Apakah manfaat Playback Teater dalam dunia pendidikan?
1.Playback akan membawa semua peserta terlibat dan menikmati suasana yang menyenangkan, kreatif, dan merangsang intelektual mereka dalam berteater.
2.Playbak akan membantu peserta menggali dan merefleksikan ide pribadi mereka melalui improvasasi drama dan menciptakan suasana pemahaman dan simpati akan pengalaman kehidupan pribadi orang lain.
3.Playbak akan mendorong sebuah pertumbuhan dalam semangat kebersamaan dan kerjasama tim. Peserta memperoleh kepercayaan diri dan kesadaran emosional.
4.Tercipta kesadaran diri dan terbangunnya self identity dengan mendorong mereka untuk merefleksikan pengalaman pribadi Melalui hal ini diharapkan playback akan membentuk kepercayaan diri dan sikap menghargai dan simpati akan pengalaman tersebut.
Hal apa yang diharapkan dapat dicapai dalam tujuh hari pelatihan ini?
1.Peningkatan kualitas hubungan interpersonal melalui berbagi pengalaman dan suasana yang simpatis.
2.Peningkatan kepercayaan diri dan simpati
3.Sebuah pengalaman dari bentuk playback teater yang utuh. Setiap peserta akan disediakan kesempatan untuk mencoba berbagai peran, seperti aktor, musisi dan konduktor dalam pertunjukkan dan untuk mempraktekkan ketrampilan presentasi
4.Aktivitas playback teater akan memberikan suasana pengajaran yang dan alami dan mengambangkan ketrampilan mendengar dan berbicara. Para peserta akan belajar nilai penting dari suatu babak, bahasa yang jelas dan spesifik, dan presentasi verbal yang efektif.
* * *

Latihan Playback Teater Pertama
“PENCIPTAAN KESAN”
Tujuan :
Untuk mendukung interaksi dan komunikasi yang lebih baik diantara anakanak
Untuk memperkenalkan ide akan penciptaan dan pengartian ulang suatu kesan
POLA LATIHAN
Permainan Interaktif
1. Skala
Peserta diminta membayangkan ada garis memanjang di ruangan dimulai nomor satu hingga sepuluh. Mintalah mereka menempatkan diri dan membentuk barisan berdasarkan tinggi, ukuran sepatu, warna rambut, seberapa menyukai drama, dll. (Mintalah usulan peserta mengenai hal/kriteria untuk membuat urutan. Dalam satu posisi boleh lebih dari satu orang)
2. Menyebarangi Sungai
Peserta diminta mengatur diri mereka membuat dua barisan sejajar dan saling berhadapan. Satu sukarelawan memimpin latihan dan berdiri di ujung depan ditengah peserta. Dialah yang akan membuat pernyataan, misalnya: “Berpindahlah kebarisan di depan anda jika pagi ini anda sarapan nasi goreng”. “Yang memiliki anjing di rumah”, “Yang memiliki adik laki-laki” dll. Orang yang sarapan pagi nasi goreng harus berpindah ke barisan didepannya. Pertanyaan lain dapat dilakukan oleh pemimpin. Pertanyaannya dapat mulai dari hal yang bersifat umum atau hal yang bersifat lebih pribadi tergantung seberapa akrab mereka.
3. Pemetaan
Anak-anak diberi instruksi untuk berdiri atau membuat kontak fisik dengan teman yang lain. Sesekali berikan kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan mengapa mereka mengambil posisi seperti itu.
Latihan Konsentrasi
4. Latihan tanda
Di dalam sebuah lingkaran setiap peserta harus membuat sebuah tanda fisik atau gerakan untuk menggambarkan nama mereka. Lakukan bergiliran searah jarum jam, saat seorang selesai melakukan gerakan, yang lainnya menirukan secara bergantian searah dengan jarum jam. Bagian dari latihan ini diulang oleh peserta lain bertujuan untuk merevisi gerakan mereka sendiri. Anak-anak kemudian menyatakan kepada peserta lain. Misalnya Budi memegang hidungnya, dia menyelesaikan gerakannya dan kemudian bersin untuk menirukan gerakan Wati sebelumnya yakni bersin. Juli menyadari Budi berusaha menjalin kontak dengannya dengan cara menirukan gerakannya, maka dia mengulang gerakannya, yakni bersin dan kemudian menirukan gerakannya Prasetyo, demikian seterusnya.
5. Siapa yang mulai bergerak?
Grup membentuk kelompok. Seseorang diminta untuk keluar ruangan saat yang lain didalam ruangan memutuskan siapa yang akan memimpin kelompok. Pemimpin berperan untuk memulai melakukan suatu gerakan tertentu yang akan ditirukan oleh peserta lainnya, gerakannya akan berubah-ubah setelah beberapa saat. Gerakannya harus cukup pelan dan berkelanjutan sehingga anggota kelompok dapat mudah menirunya. Ketika sudah memilih pemimpinnya, maka orang yang diluar tadi diminta untuk masuk. Dia diminta untuk menebak sampai dia dapat menemukan siapa pempimpin kelompok tersebut.
6. Berhenti dan Memulai
Setiap orang berjalan sebentar di dalam ruangan ke segala arah, tetapi mereka harus menemukan cara untuk dapat berhenti bersama. Hal ini biasanya dimulai oleh seseorang yang berhenti terlebih dahulu, dan kemudian diikuti oleh orang lainnya. Beberapa detik kemudian anak-anak diminta untuk mulai berjalan lagi. Aktivitas ini terbukti efektif jika para peserta berkonsentarsi penuh pada tugas mereka.
Image Work
7. Bagian Tubuh
Pemimpin menyebutkan beberapa angka dan nama anggota badan, misalnya tiga siku. Secara cepat mereka harus mengatur diri mereka sendiri dalam kelompok yang berisi tiga siku dan saling disentuhkan. Ketika semua orang sudah masuk dalam kelompok dan melakukan tugasnya, pemimpin memberi instruksi baru.
8. Hipnosis Kolumbia: Pencerminan
Anak-anak mengatur diri mereka berpasangan. Diberi nama a dan b, a menggunakan telapak tangan untuk mengontrol gerakan b. B harus menjaga wajahnya sedekat mungkin dengan telapak tangan a, dan b mengikuti kemanapun telapak tangan tersebut bergerak. Setelah waktu tertentu a dan b berganti peran.
9. Kelompok Hipnosis Kolumbia
Sepasang anak diminta untuk mendemonstrasikan gerakan mereka sebelumnya dalam lingkaran besar. Sesekali pemimpin menginstruksikan agar anggota yang lain masuk ke dalam lingkaran dan mengikuti bagian tubuh dari anggota lain.
10.Boneka Tali
Peserta saling berpasangan. Dalam berpasangan tersebut, A menjadi pengendali boneka dan B menjadi bonekanya. Pengendali akan menarik tali dan B akan merespon dengan gerakan. Keduanya harus mengimajinasikan bahwa talinya terbentang langsung dari tangan pengendali ke bagian tubuh sang boneka. Pengendali boneka didorong untuk mengintegrasikan bonekanya dengan boneka lain setelah hubungan antar boneka terbentuk dengan para pengendali. Para pengendali kemudian berdiskusi, mengartikan dan mengubah gerakan yang mereka lakukan. Setelah beberapa saat maka dilakukan pergantian peran antara a dan b.
Pendinginan
11.Berhasil
Setiap peserta diminta untuk saling berjabat tangan dan memberi selamat atas keberhasilan mereka pada tahap pertama ini. Setiap anak harus tetap memiliki kontak paling tidak dengan satu tangan. Jika kedua tangannya bebas mereka meninggalkan ruangan.
* * *

Latihan Playback Teater Kedua
“MENCIPTAKAN FLUID SCULPTERS”
Tujuan :
Mengeksplorasi kondisi fisik aktor dengan pandangan untuk menciptakan Fuild Capture
POLA LATIHAN
Pemanasan
1. Mulai dan Berhenti
Seperti pada sesi sebelumnya para peserta harus bergerak dan berhenti bersama sebagai kelompok.
2. Mulai dan Berhenti dengan pernyataan Benar dan Salah
Setelah beberapa menit saat peserta tampaknya telah menangkap tugas yang diintruksikan kepada mereka untuk membuat pernyataan pribadi selama masa berhenti. Misalnya setelah semua berhenti, Susi mengatakan “Saya punya 4 saudara cowok”. Jika peserta yang lain berpikir bahwa yang dikatakan Susi benar, mereka harus berdiri di dekat Susi, kebalikannya jika mereka menduga Susi berbohong maka mereka harus bergerak menjauh dari Susi sejauh mungkin. Setelah itu Susi menyatakan apakah dia tadi jujur atau tidak, kemudian semua orang bergerak lagi. Perlu diperhatikan bahwa dalam tiap berhenti hanya ada satu pernyataan saja (atau satu orang saja yang menyatakan).
3. Menghindari Pelindung
Para peserta mulai berjalan di sekitar ruang latihan. Saat mereka bergerak, kemudian diinstruksikan kepada mereka untuk mengambil satu orang yang akan mengikuti gerak mereka dan berfungsi sebagai pelindung mereka. Setiap peserta harus berdiri sedekat mungkin dengan pelindungnya. Setelah beberapa saat diinstruksikan agar setiap orang memilih satu orang yang harus dijauhi. Mereka harus selalu menjaga jarak sejauh mungkin dengan orang tersebut tetapi pada saat yang sama mereka harus tetap berusaha sedekat mungkin dengan pelindung mereka.
Konsentrasi
4. Zip Zap Biong
Para peserta membentuk lingkaran besar. Ide dari permainan ini adalah mengalirkan energi secepat mungkin mengelilingi lingkaran dari satu peserta ke peserta lainnya. Para peserta hanya boleh memilih tiga kata jika dilewati energi itu, yaitu zip, zap dan biong. Tiga kata tadi menentukan bagaimna energi tadi akan lewat. Zip : Hal ini berarti energi akan lewat searah jarum jam atau kebalikannya. Zap: Hal ini berarti energi hanya diseberangkan ke lingkaran Biong: Hal ini berarti energinya ditolak dan dikembalikan ke orang yang menembakkan sebelumnya. (Peserta menggunakan perutnya untuk mengambalikan energi ke penembak sebelumnya).
Membangun Sculpture Work
5. Menciptakan Bentuk
Seperti pada latihan 2 yang ke tujuh. Pemimpin menyebut angka dan suatu bentuk, misalnya 3 diamond. Peserta harus membuat bentuk itu dengan jumlah anggota 3 orang.
6. Menghasilkan Bentuk yang menggambarkan perasaan
Para peserta diminta untuk berdiri di sekitar ruangan dan menutup mata mereka. Kemudian pemimpin meneriakkan suatu perasaan misalnya, cinta, kelelahan, frustasi, dll. Para peserta kemudian akan bergerak dan menggambarkan perasaan tersebut dengan tubuh mereka. Ketika mereka telah merasa membuat bentuk seperti perasaan tersebut, mereka diminta mematung/berhenti dengan posisi terakhir tersebut dan membuka mata mereka dan melihat bentuk tubuh peserta yang lain. Setelah itu, para peserta diminta untuk bergerak dan menghubungkan posisi tubuh mereka dengan yang lain sehingga tercipta satu kesatuan ekspresi dalam bentuk tubuh dengan peserta lain, dalam ruangan tersebut mungkin akan ada beberapa kelompok. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk melihat ciptaan kelompok lain. Pemimpin kemudian mengulangi beberapa kali lagi dengan menyebutkan kata-kata sifat yang lain.
7. Menambahkan suara dan gerakan pada Still Sculptures
Pemimpin membagi peserta dalam tiga kelompok. Setiap kelompok diberi satu kata diskriptif, yang harus mereka ujudkan dalam ekspresi gerak tubuh, misalnya: Mesin Cinta. Intruksi ini diberikan agak perlahan sehingga kelompok lain tidak mendengar.Setiap orang menjalankan mesin tadi dengan mengeluarkan bunyibunyian dan gerakan yang menggambarkan cinta. Setiap peserta yang lainnya akan memberikan suara dan gerakan yang berbeda-beda, dan membentuk kombinasi yang menarik. Setelah beberapa saat, mereka dapat melihat kelompok, dan menebak hal apa yang sedang mereka gambarkan.
8. Menciptakan Fluid Sculpture
Pemimpin memberi tanda diminta para peserta diminta untuk duduk disitu. Kemudian 6 aktor dipilih oleh pemimpin dan diminta duduk di kursi yang telah disediakan. Pemimipin kemudian menerangkan satu unsur lagi dari Playback Teater yakni: Sebuah Fluid Sculptures. Pemimpin kemudian menerangkan bahwa saat ini dia sebagai konduktor dalam sebuah pertunjukkan Playback teater. Dalam peran ini konduktor harus menggali beberapa informasi pribadi dari penonton yang akan disampaikannya kepada para aktor dalam Fluid Sculpture Misalnya;
Konduktor (kepada para penonton) : “Yuni, apakah yang kau rasakan pagi ini?”
Yuni : “Sangat antusias”
Konduktor : “Mengapa?”
Yuni : “Karena hari ini ada mata kuliah drama dan tari, dua mata kuliah yang paling saya sukai”
Konduktor : “Perasaan apa lagi yang dirasakan selama sesi ini?”
Yuni : “Saya merasa bebas dan membuat saya ingin menari”
Konduktor : “Yuni merasa antusias, dan bebas karena ada mata kuliah drama dan tari, mari kita lihat”
Konduktor sekarang minta para aktor berpikir agar mereka dapat mengeskpresikan hal tadi dengan gerakan dan suara. Seorang aktor akan berteriak : “Hore saya bebas” sambil meloncat-loncat. Aktor yang lain kemudian meletaklan kepalanya diantara kedua kakinya dan melihat ke para penonton dengan suara senyum yang lebar. Yang lainnya kemudian mengekspresikan dirinya diantara pemain pertama dan kedua. Yang keempat akan menirukan penari bali, sampai semuanya akhirnya menciptakan fluid sculpture. Para aktor akhirnya akan berhenti bersama-sama dan para penonton akan memberikan tepuk tangan Konduktor akan kembali menghadap ke pencerita dan bertanya “Yuni apakah hal tersebut dapat menggambarkan apa yang kau rasakan?”
Yuni : “Ya , tepat sekali”
Konduktor : “Terimakasih, para aktor dapat kembali duduk ke kursi semula.”
Pemimpin dalam peran sebagai konduktor sekarang dapat mengganti para aktor dan penonton sehingga semua mendapat kesempatan untuk memerankan Fluid Sculptires.
Latihan Pendinginan
The Grand Old Duke
Para peserta duduk dalam lingkaran. Mereka menyanyikan The Grand Old Duke of York. Menjaga irama dengan stabil dan memindahkan sepatu mereka ke peserta disebelah kanan mereka, pada setiap ketukan. Misalnya The Grand ( sepatu dilewatkan), Old Duke (sepatu dilewatkan), Of York (sepatu dilewatkan).
* * *

Latihan Playback Teater Ketiga
“RITME DAN SUARA”
Tujuan : Memperkenalkan kepada para peserta ide untuk menghasilkan bunyibunyian melalui suara, tubuh dan peralatan-peralatan untuk memperindah fluid sculptures dan pemeragaan ulang dari kisah yang diceritakan.
POLA LATIHAN
Setelah keempat suara dipertunjukkan, maka para aktor membuat rangkaian dan campuran suara mereka. Sebuah bunyi sculptures biasanya paling tidak selama 60 detik. Ketika mereka merasa bahwa bunyi tadi cukup, maka mereka perlu memikirkan bagaimana suara tersebut dapat berhenti secara perlahan-lahan sehingga kisahnya dapat dihentikan. Sebuah contoh dari sesi Sculpture Suara Konduktor: “Dapatkah seseoang bercerita kepada saya tentang pengalaman menyenangkan yang ingin dialami lagi?”
Jaki : Ya, selama musim panas ketika cuaca sangat baik, saya gunakan waktu saya di pantai. Saya ingin mengunjungi pantai itu lagi.
Konduktor : Suara apa yang kau ingat saat di pantai?
Jaki : O, coba saya ingat-ingat dulu, ombak…, teriakan anak-anak yang berlarian di air. Suara bola yang ditendang dan penjual ice krim yang berkeliling.
Kondaktor : Baik, Jaki, mari kita dengarkan suara-suara itu lagi. Para aktror jika anda merasa sudah siap silahkah untuk memulai!
Para aktor memainkan lagi suara-suara yang diceritakan oleh Jaki, menggunakan suara mereka. Suatu malam di acara disko, antrean di depan tempat penitipan, dll.
Pemanasan
1. Penciptaan Hujan tropis
Dalam lingkaran, para peserta menyampaikan suara hutan ke peserta disampingnya. Yang pertama adalah suara klik jari, yang kedua suara tepukan tangan, yang ketiga adalah suara ketukan kaki, yang keempat suara klok dari mulut, kemudian urutan suaranya dibalik, setelah ketukan kaki, ketukan tangan, dan klik jari.
2. A.I.U.E.O
Para peserta berdiri di salah satu ujung ruangan. Salah satu sukarelawan menjadi pengontrol suara. Dia berdiri menghadap ke peserta. Para peserta membuat suara menggunakan A, I, U, E, O, volume suara berubah-ubah tergantung seberapa jauh/dekat sukaraelawan pengontrol suara tersebut berdiri dari mereka. Pengontrol suara dapat berlari mendekat ataupun menjauh. Ketika dia mendekatkan kelompok maka suaranya melemah, tetapi ketika dia menjauh suaranya mengeras.
3. Melangkah mengelilingi Lingkaran
Setiap orang berdiri dalam sebuah lingkaran. Setiap orang menempatkan kakinya diantara kedua kaki rekan disebelahnya, sehingga kaki mereka saling bersilangan. Mereka diminta untuk mengentakkan kakinya sekali ke lantai secara berurutan searah jarum jam. Setelah beberapa saat, dan mereka dianggap sudah cukup mahir, maka pemimpin dapat memperkenalkan dua kali hentakan, yang berarti jika ada salah satu peserta menghentak dua kali maka arah hentakan berbalik (kembali ke arah datangnya hentakan).
4. Sculpture Work
Menciptakan suara Sculptures
Para peserta duduk melingkar dan mereka menjadi pendengar. Empat sukarelawan menjadi aktor playback, mereka akan menggunakan suara mereka. Kelompok aktor ini duduk ditengah lingkaran. Setiap aktor diberi nomor satu hingga empat. Setelah pencerita (salah satu penonton) menceritakan pengalaman akan suatu suara yang dia ingin dimunculkan kembali, para actor memejamkan mata mereka dan kemudian mengeluarkan suara mereka.
Penyampaian Kisah
5. Sekilas Liburan
Bentuklah kelompok-kelompok beranggotakan 6 peserta, beri kesempatan untuk menceritakan pengalaman liburan mereka. Setiap kelompok kemudian diminta memilih salah satu cerita dari kelompok mereka untuk diperankan. Peserta yang kisahnya dipilih akan berperan sebagai konduktor, dan menceritakan dalam 5 babak. Keempat anggota yang lainnya menciptakan bentuk dari setiap cerita. Setelah konduktor dan pemain mempertunjukkan bagian pertama maka konduktor mengatakan “SIAP”, dan para aktor masuk ke bagian berikutnya. Setiap kelompok bergantian menunjukkan kemampuannya ke anggota lainnya.
* * *

Latihan Playback Teater Keempat
“BAHAN-BAHAN”
Tujuan: Mendukung terciptanya tim kerja yang lebih baik dan memperbaiki presentasi fluid sculpture
POLA LATIHAN
Pemanasan
1. Berhenti dan mulai dengan benar dan salah
2. Hutan tropis
3. Zip-zap biong
Kerjasama tim
4. Berdiri Bersama
Enam sukarelawan menjadi aktor dan duduk di kursi yang telah disiapkan dalam setting pertunjukkan dengan penonton yang duduk dalam setangah lingkaran. Sebagai sebuah grup para aktor harus duduk dan berdiri bersama. Hal ini perlu diulang beberapa kali dengan kecepatan yang berbeda-beda. Dalam pertunjukkan para aktor harus dapat tampil secara teratur antara aktor satu dengan yang lain, baik saat berdiri ataupun saat masuk dalam arena pertunjukkannya.
5. Melangkah masuk
Berdiri dalam sebuah setengah lingkaran di depan kursi mereka, para aktor secara bergantian, akan maju ke depan satu langkah sambil menyebutkan angka satu hingga enam (sesuai jumlah aktor). Para actor harus konsentrasi dan peka terhadap aktor lainnya, sehingga tidak terjadi penyebutan angka atau langkah yang bersamaan. Kecepatan mereka dalam melakukan hal tersebut (maju ke depan dan menyebut angka) dapat dipercepat.
6. Latihan Fluid Sculputures dengan teknik di dalam pikiran
Setelah konduktor menggali informasi secukupnya dari para penonton untuk sebuah fluid sculpture, para aktor berdiri bersamaan dan kemudian setiap aktor mengerjakan setiap elemen dari fluid sculpture. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai para aktor tampil dengan percaya diri pada saat mengawali dan mengakhiri fluid sculpture.
Perkenalan materi
7. Pengenalan bahan
Berbagai jenis kain dengan bermacam-macam warna, ukuran dan tekstur diletakkan di tengah ruangan. Para peserta diminta untuk melihat-lihat dan masing-masing mengambil satu potong kain. Mereka diminta untuk bermain dengan kain yang mereka pegang selama 10 menit. Setiap peserta diminta untuk mengeksplorasi hal apa yang bisa mereka lakukan dengan kain mereka, misalnya dilemparkan ke udara, membuat tarian dengan kain, dll. Ketika semua sudah selesai berekplorasi dengan kain mereka, mintalah mereka untuk kembali dalam lingkaran dan secara bergiliran mempertunjukkan apa yang telah mereka lakukan dengan kain mereka
8. Mengenal dan memanfaatkan kain-kain
Kain diletakkan di tengah ruangan, dan setiap peserta secara berpasangan mengambil tiga potong kain.Setiap pasangan diberi waktu selama 10 menit untuk menciptakan suatu objek dari tiga potong kain yang mereka ambil. Salah satu dari setiap pasangan akan menjadi bagian dari objeknya, dan rekan satunya akan mempresentasikan ke peserta yang lain. Sebelum dipresentasikan, peserta lain diminta menebak, objek apa yang sedang dipresentasikan tersebut, misalnya lilin, bunga, dll
Pendinginan
9. Mengalirkan belaian
Berdirilah dalam sebuah lingkaran dengan tangan yang saling bergandengan. Satu peserta kemudian memulai permainan dengan agak menekan tangan peserta yang digenggamnya (sebelah kiri), kemudian peserta disebelah kirinya akan melakukan hal yang sama, hal ini terus bergerak searah jarum jam sampai kembali lagi ke orang yang telah memulainya tersebut. Mereka dapat membuat beberapa aliran remasan tangan dengan arah berlawanan sehingga dua remasan dapat melewati orang yang sama pada saat yang sama.
* * *

Latihan Playback Teater Kelima
“MUSIK”
Tujuan: Untuk memperkenalkan penggunaan musik dan suara untuk mengiringi Playback Teater.
POLA LATIHAN
Pemanasan
1. Mengalirkan tepuk tangan
Dalam sebuah lingkaran setiap peserta bertepuk tangan sekali secara berurutan searah jarum jam, sampai kembali lagi ke peserta yang memulainya pertama kali. Permainan ini dapat dimodifikasi dengan terus menerus mempercepat gerakan perputarannya.
2. Hutan tropis
3. Zip Zap Biong
Suasana Hati melalui Suara dan Gerakan
4.Perasaan, Bunyi-bunyian dan Gerak Isyarat
Sesuai arah gerakan jarum jam setiap peserta diminta untuk melakukan suatu gerakan atau dengan tambahan suara yang mengekspresikan perasaan yang mereka rasakan saat itu. Setelah salah satu peserta melakukannya, maka seluruh peserta yang lainnya menirukannya. Hal ini dilakukan sampai kepada peserta terakhir.
5. Menciptakan Irama
Para peserta berdiri dalam lingkaran, seseorang masuk ke tengahnya dan menjadi pemimpin. Dia akan memulai untuk melakukan gerakan yang berirama yang kemudian akan ditirukan oleh semua peserta yang lain. Setalah dianggap cukup, maka pemimpin kelompok akan mendekati salah satu peserta dan peserta tersebut akan menggantikannya untuk memimpin kelompok dan melakukan hal yang sama. Demikian seterusnya.
6. Membawa bunyi-bunyian ke dalam kehidupan
Para peserta akan duduk di lantai selama sesi ini. Seorang sukarelawan akan menjadi musisi dan memainkan berbagai suara bagi kelompok. Jika salah satu peserta mendapatkan inspirasi tertentu dari musik yang dimainkan, dia dapat mengangkat tangannya, kemudian menceritakannya kepada seluruh peserta lain. Misalnya musisi bermain dengan kantong kertas yang besar, dan kemudian peserta mengangkat tangannya dan mengatakan “hal itu seperti suara suara nenek-nenek sedang mencuci di pinggir sungai” Konduktor akan mengatakan: “Terimakasih, saya ingin anda akan memperagakan menjadi nenek tersebut, ingat anda dan musisi adalan satu tim sehingga upayakan bunyi yang dikeluarkan seirama dengan gerakan anda.”
Fluid Sculptures
7. Fluid Sculputures dengan musik
Panggung didesain dengan para aktornya yang semi melingkar, kain-kain dan bahan lain diletakkan di sebelah kanan aktor sedangkan musisi ada di sebelah kiri aktor. Dua orang akan diambil sebagai musisi. Konduktor akan menggali informasi dari salah seorang peserta. Musisi akan memulai dengan memainkan alat musik dan pada saat bersamaan para actor masuk dan membuat fluid sculptures. Mereka harus mendengarkan dengan sungguh-sungguh irama yang dimainkan musisi.
Pendinginan
8. Sharing Kisah
Dalam kelompok berisi tiga atau empat orang, mereka bergiliran menceritakan pengalaman mereka yang terjadi belum lama ini. Salah satu cerita tersebut kemudian dipilih oleh kelompok untuk playback tetapi diceritakan lagi hanya dengan suara dan musik.
* * *

Latihan Playback Teater Keenam
“GAME AND EXERCISE”
Tujuan : Untuk menggali potensi aktor dalam menjadi objek suatu kisah
Untuk memainkan cerita secara lengkap
POLA LATIHAN
Pemanasan
1. Magnet
Semua orang berjalan berkeliling ruangan dengan mata tertutup dan tangan dilipat. Ketika pemimpin berteriak “negatif”, maka semua orang harus saling menjauhi. Jika ada peserta yang saling bertabrakan maka mereka harus segera menjauh secepatnya. Jika pemimpin mengatakan “positif” maka mereka harus saling menjalin kontak dan berusaha untuk tetap bersama dalam beberapa saat. Meskipun demikian semua orang harus tetap dalam kondisi terus berjalan baik saat positip maupun negatif.
2. Pemerataan Berat
Peserta berpasangan dan saling berhadapan, mereka saling memegang pundak pasangannya dan agak memberi dorongan, posisi tubuh mereka agak condong sekitar 30 derajat, upayakan agar terjadi keseimbangan. Variasi : punggung dengan punggung, pantat dengan pantat.
3. Percakapan Tubuh
Pemimpin meneriakkan bagian dari anggota tubuh, misalnya lutut, tangan, dll. Maka peserta harus merespon dengan berkomunikasi dengan sebanyak mungkin peserta lain dengan menggunakan anggota tubuh yang disebut tadi.
4. Saya jatuh
Setiap orang berjalan ke segala arah di sekeliling ruangan untuk beberapa saat, tetapi mereka harus berupaya untuk beberapa kali berhenti bersama. Secara berkala, peserta yang sedang di posisi tengah akan meneriakkan namanya dan menjatuhkan dirinya ke belakang, semua peserta yang lain secara bersama-sama akan menuju ke arahnya dan menahan dia agar tidak jatuh ke lantai. Peserta yang lain dapat menyentuh dan mengangkatnya secara langsung tapi dapat juga menolong peserta yang mengangkat tadi. Peserta yang menjatuhkan diri tadi, kemudian mereka berjalan lagi, dan diikuti oleh semua peserta lain. Mereka kembali berjalan ke segala arah. Latihan ini dilakukan beberapa kali.
Aktor dan Objek
5. Membangun objek dalam sebuah rumah
Peserta dibagi dalam empat kelompok, setiap kelompok harus menciptakan suatu karakter. Kisahnya harus mengambil setting dalam sebuah rumah. Misalnya: Seorang wanita memasak dalam ruangan yang sangat modern. Kelompok itu harus memerankan wanita tadi dan juga berbagai peralatan yang ada di dapur tersebut. Sangat menarik jika mereka dapat menciptakan suara yang khas sesuai fungsi mereka sehingga para penonton dapat mengidentifikasi apa yang sedang mereka perankan. Misalnya kulkas, microwave. Setiap benda dapat berbicara. Setiap kelompok diberi waktu 15 menit untuk mempersiapkan diri.
Memainkan Ulang
6. Memainkan ulang dengan lengkap
Panggung untuk playback diatur sedemikian rupa dengan kursi atau kotak membentuk agak melingkar. Tempat untuk musisi ada disebelah kiri dan kursi untuk konduktor dan pencerita ada di sebelah kanan. Enam sukarelawan mengambil posisi di depan sebagai aktor. Dua sebagai musisi, Dan sisanya menjadi penotonton yang duduk menghadap panggung. Konduktor kemudian meminta salah seorang penonton untuk menjadi sukarelawan yang akan menceritakan kisahnya dan menjadi pencerita. Misalnya :
Konduktor : Adakah yang bersedia menjadi pencerita pertama di siang ini? (Susi mengangkat tangan) Baiklah, Susi mari maju dan duduk di kursi pencerita. (Susi berdiri, maju ke depan dan duduk di kursi pencerita yakni disebelah kanan konduktor) “Susi, yang pertama, beri judul dulu, pengalaman yang akan kau ceritakan.
Susi : Pergi ke dokter gigi.
Konduktor : Baik, mari seblumnya kita akan memilih para aktornya, siapa yang akan memerankan kamu? (Susi menunjuk Dina, yang kemudian akan berdiri, diam dan mendengarkan cerita Susi) Katakan satu kata yang dapat menggambarkan perasaanmu di awal dari kisah ini
Susi : Cukup menggembirakan
Konduktor : Mengapa?
Susi : Karena saya akan menggunakan kawat gigi’ dan itu tampak keren.
Konduktor : Jadi, ini kejadian yang khusus bagimu. Siapakah orang lain yang memainkan peran penting dalam ceritamu ini?
Susi : Ibuku.
Konduktor : Mari memilih siapa yang menjadi ibumu?
Susi : Yuli
Konduktor : Dapatkah kita memberi sedikit gambaran mengenai ibumu dalam kisah ini.
Sus : Dia meyakinkan akubahwa proses yang akan kualami akan menyenangkan.
Konduktor : Jadi, mulai dari mana kamu ingin cerita kita ini dimulai?
Susi : Aku pikir, mulai saja dari saat aku dan ibuku pergi ke meja resepsionis dokter gigi.
Konduktor : Apa yang terjadi?
Susi : Kami disapa oleh suster yang sangat ramah dan dengan cekatan membawa kami ke ruang dokter gigi. Ibuku diijinkan untuk tetap tinggal dalam ruangan itu.
Konduktor : Sebelum ceritanya dilanjutkan, mari kita memilih orang yang akan memainkan peran sebagai suster.
Susi : Ina dan Bagong dapat memerankan sebagai suster. (semua peserta tertawa karena bagong dipilih sebagai suster)
Konduktor : Apa yang terjadi kemudian?
Susi : Kami berjalan menuju ruangan praktek dengan antusias. Dan melihat dokternya mirip Ina.
Konduktor : Mari kita pilih dokternya.
Susi : Ratna, maukah menjadi dokternya?
Konduktor : Baik, tadi kamu mengatakan dokternya seperti Ina?
Susi : Ya, tetapi setelah dia memintaku duduk, segala sesuatunya menjadi berubah. Lampu di hadapkan ke wajah saya secara langsung, dan saat itu rasanya hanya penuh dengan upaya untuk memasangkan kawat ke gigi saya. Itu sangat tidak menyenangkan dan dia terus berkata: “Ini tidak akan lama, dan kamu gadis pemberani”. Ibuku memegang tanganku, dan aku tetap merasa panik. Dan aku berkata dalam diriku bahwa kawatnya ini terlalu kecil dan tidak pas dengan gigiku”.
Konduktor : Kelihatannya itu pengalaman yang tidak menyenangkan, adakah peserta lain yang memiliki pengalaman buruk dengan dokter gigi? Silahkan angkat tangan? (Ada empat peserta yang angkat tangan.) Susi tampaknya ada juga orang yang pasti dapat merasakan apa yang kau rasakan. Apa yang terjadi kemudian?
Susi : Setelah perjuangan menyakitkan selama 20 menit akhirnya terpasang juga. Aku merasa lega. Dokter gigi menarik lampu dari depan wajahku dan ibuku memegangku dan mengatakan jika aku adalah seorang yang pemberani. Aku sangat senang bisa meninggalkan kursi besar itu. Saya sangat kecewa dengan dokter gigi itu, dan dia berkata pemasangan kawat yang pertama adalah peristiwa yang tidak menyenangkan bagi semua yang mengalaminya. Dan dia mengatakan juga bahwa saya adalah wanita pemberani. Hal itu membuat saya merasa lebih baikan sedikit.
Konduktor : Susi, bagaimana akhir cerita ini?
Susi : Dokter gigi membawakan cermin sehingga aku dapat melihat kawat itu. Aku melihat kawat yang telah terpasang dan aku tanpak kerean dan aku pikir temanku yang lain akan mengatakan hal itu juga. Jadi pada akhirnya aku merasa senang.
Konduktor : Terimakasih telah bersedia bercerita. Para aktor perlukah kita mengulang kisah ini lagi sehingga anda yakin dengan cerita ini? (Konduktor memberikan ringkasan tentang cerita tadi dan musisi mulai memainkan musiknya. Selama musik dimainkan, para aktor memilih dan mengambil bahan atau kain yang dibutuhkan. Ketika mereka sudah siap maka mereka akan dalam posisi “membeku”. Musisi berhenti bermain dan ceritanya dimulai)
* * *

Latihan Playback Teater Ketujuh
“SEBUAH PERTUNJUKKAN PLAYBACK TEATER”
1. Perkenalan
Panggung untuk playback sudah disiapkan. Tujuh sukarelawan menjadi aktornya. Mereka berdiri di belakang ruangan. Musisi memasuki ruang pertunjukkan dan duduk di samping perlatan musik. Untuk memulai pertunjukan para aktor masuk ke dalam panggung dan memperkenalkan diri mereka dengan menyebut nama dan mengekpresikannya dengan gerakan tubuh. Setiap tindakan mereka diiringi dengan musik. Aktor tersebut kemudian “ membeku’ dan disusul oleh aktor berikutnya Misalnya: “Nama saya Rudi, dan saya selalu berjalan dengan langkah berat.” (musisi memunculkan suara yang menhasilkan langkah-langkah yang berat). “Nama Saya Ani dan saya nonton konser semalam” (musisi memainkan suara berisik seperti suasana konser) Setelah semua aktor memperkenalkan diri, konduktor memasuki ruangan, dan memberikan salam kepada semua orang. Para aktor meninggalkan posisi “membeku” mereka dan kembali ke posisi awal. Para penonton bertepuk tangan.
2. Fluid Sculpture
Konduktor kemudian bertanya (bisa tentang hal yang umum) kepada penonton. Misalnya: “bagaimana pagi ini?” Konduktor kemudian masuk ke pertanyaan yang lebih spesifik tentang perasaan penonton. Misalnya tentang “ Pengalaman memalukan” atau “Kejadian yang tidak mungkin aku lupakan” Dua atau tiga fluid sculptures akan dilakukan berdasarkan informasi yang disampaikan penonton.
3. Memainkan Ulang Kisah
Seperti sesi sebelumnya, pola yang sama digunakan. Si pencerita diundang untuk menceritakan pengalamannya, dapat berdasarkan pengalaman terbarunya yang dia ingin diperankan ulang. Para aktor dipilih untuk memainkan setiap karakter, para musisi memainkan musik dan para aktor menyiapkan diri. Kemudian drama diakhiri, dan para penonton bertepuk tangan. Konduktor kemudian bertanya kepada si pencerita, apa yang ia rasakan atau pikirkan saat pengalamannya dimainkan ulang, jika si pencerita sudah puas, minta dia kembali duduk ke posisi penonton lagi. Jika dia tidak puas, cerita dapat diulang dan dimainkan lagi. Biasanya beberapa cerita dimainkan ulang sekali lagi. Para aktor, musisi dan konduktor dapat bergantian dengan peserta yang lain sehingga semua mendapat kesempatan.
4. Sebuah fluid yang terakhir
Untuk mengakhiri pertunjukkan, konduktor menanyakan beberapa pertanyaan terakhir. Dia memilih beberapa kata yang berbeda yang telah dimainkan dalam sebuah fluid sculpture Misalnya: “Apa yang anda pikirkan tentang pertunjukkan kita ini?”
5. Penutup
Konduktor mengucapkan terimakasih atas partisipasi mereka. Para actor kemudian berjabat tangan dengan semua penonton.
Playback Teater dan Psikoterapi
Playback teater pada awalnya disajikan sebagai improvisasi dari teater. Kekuatan dari bentuk teater ini adalah pada terlibatnya para penonton sebagai penulis cerita, penuh spontanitas dan tidak membutuhkan persiapan yang lama. Beberapa penilitian menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri yang signifikan pada para pelajar SMU yang berperan sebagai aktor di bidang ini. Mereka yang terlibat aktif di bidang ini memiliki resiko yang lebih kecil terhadap penyalagunaan obat-obatan. Beberapa rumah sakit melibatkan para perawat sebagai aktor dan para pasien sebagai penonton dalam playback theater, melaporkan naiknya optimisme hidup, kesembuhan dan tingkat kepuasan terhadap layanan. Penelitian lain menunjukkan, peningkatan kohesifitas karyawan perusahaan, setelah secara reguler diadakan playback teater. Selain hal diatas, Playback theater dapat memiliki fungsi sebagai healing process, karena dalam Playback terdapat penerimaan kisah tanpa syarat. Si Pencerita dapat menceritakan kisahnya tanpa dievaluasi dan dihakimi. Kondisi inilah yang dibutuhkan dalam proses healing. Proses penceritaan ulang yang dilakukan oleh si pencerita memiliki peranan penting dalam proses healing. Saat si pencerita memutuskan untuk menceritakan kisahnya, pada titik inilah Si Pencerita memilih untuk membuka luka lama yang belum tersembuhkan. Pada proses ini si Pencerita akan kembali mengangkat unfinish bussines-nya. Perasaan-perasaan negatif yang belum terselesaikan di masa lalu akan dikeluarkan, kemarahan, kesedihan, ketakutan akan dikeluarkan. Pada tahap ini, tampaknya kondisi si Pencerita memburuk, tetapi jika konduktor memiliki ketrampilan yang cukup, maka situasi ini adalah awal dari pemulihan. Konduktor membantu agar energi emosi negatif yang selama ini tersimpan rapi dan ditekan dalam ketidak sadaran si Pencerita dikeluarkan. Seringkali, Si Pencerita akan menangis dengan keras, menjerit atau berteriak dan tubuhnya bergetar. Disinilah konduktor berperan sebagai therapis, sentuhlah dengan lembut, tunjukkan dukungan dan sikap empatik. Bawalah si pencerita ke luar panggung menuju tempat lain yang lebih sepi. Mintalah si pencerita untuk menceritakan lebih banyak lagi tentang kepedihannya, menamai emosinya dan mengekpresikannya. Dorong dan ijinkan si Pencerita untuk mengekspresikan emosi negatifnya. Sebagai therapis, konduktor harus memiliki kepekaan, terampil untuk menggali cerita, membantu si pencerita menamai emosinya, dan menunjukkan empati. Pada tahap tersebut, konduktor harus menunjukkan sikap empatinya, jangan menasehati, atau mencoba menghentikan tangis si Pencerita. Si Pencerita akan mengalami katarsis atau pelepasan enargi emosi yang negatif. Setelah menyelesaikan tahap ini, Si Pencerita akan merasakan kelegaan. Jika si pencerita merasa sudah siap, ajaklah kembali ke ruangan. Tawari lagi agar kisahnya dimainkan ulang. Hargai pilihan si Pencerita, jika dia tidak menginginkan dimainkan ulang. Proses memainkan ulang paska katarsis memiliki peranan penting, pada tahap ini, terjadi reframing. Subjek akan melihat lagi pengalamannya tetapi dengan jarak. Hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan penggunaan Playback Teater adalah penggunaan metode ini pada daerah endemi konflik. Proses penceritaan yang dilakukan oleh seorang pencerita mungkin dapat menimbulkan histeria massa, khususnya jika kisah yang diceritakan merupakan trauma kolektif para penonton. Oleh karena itu, penggunaan playback theater di daerah endemi konflik, memerlukan persiapan khusus. Diperlukan tim yang berperan sebagai pembantu konduktor jika terjadi histeria massa. Peran mereka adalah mendampingi para penonton yang menjadi histeris dan menjadi pemimpin terapi kelompok. Jika banyak penonton yang mengalami histeria, yang perlu dilakukan adalah memeluk dan memegang mereka. Mintalah mereka untuk saling berpelukan dan mendukung satu dengan yang lain. Pada tahapan ini, playback teater perlu dihentikan. Para penonton diajak masuk dalam kelompok , dan memulai proses terapi kelompok.
* * *

oleh BOEDI POERNOMO
Direktur Artistik Teater Putih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: