Akting: Mendalami Diri Sendiri


Akting adalah wilayah abstrak sekaligus konkret. Abstrak ketika instruksi pencariannya disampaikan sutradara pada aktor. Kata dan kalimat sutradara selalu membutuhkan kecerdasan dan daya imajinasi aktor untuk memahaminya. Konkret ketika instruksi tersebut dilakukan melalui gerak-gerik tubuh. Pada saat tubuh bergerak dan vokal aktor membentuk makna instruksi maka saat itulah akting menjadi dunia riil.
Konstantin Stanislavsky
Stanislavsky memusatkan diri pada pelatihan akting dengan pencarian laku secara psikologis. Dalam tulisannya yang terkenal The Method, ia berusaha menemukan akting realis yang mampu meyakinkan penonton bahwa apa yang dilakukan aktor adalah yang sebenarnya terjadi.
Pada prinsipnya aktor harus memiliki kondisi fisik yang prima, fleksibel, aktor harus mampu mengobservasi kehidupan, aktor harus menguasai kekuatan psikisnya, aktor harus mengetahui dan memahami tentang naskah lakon, aktor harus berkonsentrasi pada imaji, suasana, dan intensitas panggung,dan aktor harus bersedia bekerja secara terus menerus serta serius mendalami pelatihan demi kesempurnaan diri dan penampilan perannya. Stanislavsky menitik beratkan pada masalah tubuh dan pikiran aktor, untuk mewadahi psikologis aktor dan karakter naskah. Stanislavsky berpendapat bahwa otentisitas keaktoran terletak pada pada kemampuannya secara sadar menciptakan kondisi as if (seandainya). Dalam pengandaian ini aktor diharapkan mampu menjelajahi kondisi psikisnya secara mimetik. Hal ini merupakan penjelajahan bawah sadar. Penjelajahan bawah sadar menjadi cara memahami bahasa subtext, yaitu retorika non-verbal yang terbentuk melalui penampilan yang asli atau otentik. Subtext dalam metode stanislavsky berbeda dengan pemahaman subtext yang biasa. Dalam metode stanislavsky mampu menampilkan makna yang letaknya tesembunyi dalam komunikasi panggung. Pencarian masa lalu yang dipertentangkan terus-menerus di atas panggung ketika berhadapan dengan penonton adalah bentuk pertunjukan seorang aktor untuk mencipta dan mencipta kembali perannya secara simultan.
Jerzy Grotowski
Menurut Grotowski, aktor harus merancang sendiri “topeng organik” melalui otot-otot wajahnya sehingga setiap karakter menunjukkan ekspresi wajah yang sama., yaitu keputusasaan, kesakitan, kelelahan, dan penderitaan. Komposisi ekspresi wajah tersebut dengan menggunakan otot wajah, aktor harus mampu menghasilkan efek teatrikal, yang menghentakkan impuls penonton.
Grotowski mengembangkan metode pelatihannya berdasarkan sistem yang disebutnya via negativa.menurut Grotowski, sistem via negativa mampu memperkaya transformasi fisik dan batin aktor. Pada dasarnya, sistem via negativa yang menjadi acuan Grotowski memiliki makna Relijius-Spiritual. Seperti yang dikatakan oleh Brook ketika ia mengamati gagasan spiritual Grotowski, “ Bahwa spiritual adalah ketika seorang melangkah memasuki dunia dalam, dari alam yang dikenal ke alam tak dikenal.”
Kerja spiritual berdasarkan sistem via negativa membentuk keutuhan seni tersebut dapat dilacak melalui berbagai bentuk dan pemahaman yang ada dalam tahapan proses kreatif Grotowski.
Via negativa menghasilkan teknik akting in-trance dan penyatuan seluruh kekuatan psikis dan tubuh aktor. Hasil yang diperoleh adalah tak adanya batas waktu antara impuls dalam dan reaksi luar sehingga impuls tersebut sudah menjadi reaksi luar. Penyatuan kekuatan psikis dan tubuh aktor adalah alat bagi aktor untuk melakukan kontak dan berada lebih dekat dengan sisi dalam batinnya. Sistem via negativa adalah sistem penyatuan unsur-unsur dalam diri aktor, yaitu tubuh, pikiran, batin.
Richard Boleslavsky
Ada banyak hal yang disampaikan Boleslavsky dalam bukunya yang berjudul “The First Six Lessons”. Menurut dia dalam buku ini, teater adalah keagungan penciptaan, kemurnian, suatu keindahan, sesuatu yang lebih besar dari kehidupan. Bagi Boleslavsky, teater adalah misteri besar, suatu misteri dimana ada penggabungan antara dua gejala abadi, yaitu :
– Keinginan pada kesempurnaan,
– Keinginan pada keabadian.

Dalam sebuah teater kreatif, sasaran seorang aktor adalah sukma manusia. Berperan di atas pentas adalah memberikan bentuk lahir pada watak dan emosi aktor, baik dengan laku ataupun ucapan. Dalam watak tersebut ada tiga bagian yang harus nampak, yaitu watak tubuh, watak emosi, dan watak pikiran.
“The First Six Lessons”
Ajaran I : Konsentrasi
Aktor adalah orang yang mengorbanan diri. Ia menghilangkan dirinya demi menjadi orang lain sesuai peranannya. Hal pertama yang harus dia miliki untuk menjadi orang lain adalah, konsentrasi. Didalam konsentrasinya dia harus dapat memerintahkan panca indranya, dan seluruh organ dan bagian tubuhnya untuk bekerja sebagai orang lain.
Ajaran II : Ingatan Emosi
Aktor harus dapat mengingat segala emosi yang terpendam dari halaman-halaman sejarah yang telah silam. Semua itu pasti membantu akting seorang aktor, untuk mendapatkan takaran emosi yang tepat dalam berperan di atas panggung. Emosi yang dimaksud di sini bukanah semata-mata emosi yang pernah kita alami, tetapi bisa saja emosi yang kita dapati dari hasil observasi.
Ajaran III : Laku Dramatis
Jika kita sudah mendapatkan emosi, barulah kita wujudkan semua itu dalam Laku Dramatis, yaitu perbuatan yang bersifat expresif. Inilah yang merupakan instrumen dalam seni teater. Aktor harus mewujudkan yang diutarakan oleh pengarang atau sutradara dengan kata-katanya di dalam laku dramatisnya. Di sini aktor bersifat reproduktif dan kreatif.
Ajaran IV : Pembangunan Watak
Untuk mendapatkan wujud watak yang benar, kita harus melakukan berbagai pengkajian terhadap karakter yang akan diperankan dari naskah. Yang harus dilakukan adalah :
1. Menelaah Struktur Psikis Peran
2. Memberikan identifikasi
3. Mencari hubungan antara naskah dan emosi
4. Penguasaan Teknis
Ajaran V : Observasi atau pengamatan
Tugas seorang aktor selain bermain di atas pentas adalah untuk mengamati segala yang terjadi di sekitarnya. Mulai dari hal yang paling umum sampai hal yang paling detail. Kadang masih ada aktor yang melupakan observasi sebagai bagian dari tugasnya. Dan itulah yang membuat kualitas permainan seorang aktor menjadi rendah. Oleh karena itu observasi sangatlah penting, dimana kita bisa belajar untuk menjadi yang lain dari diri kita dan belajar bagaimana bertingkah laku. Dan semua ini pasti berguna di atas pentas.
Ajaran VI : Irama
Agar sebuah lakon dapat menghanyutkan penikmatnya ke arah yang di tuju, maka permainan itu harus menggunakan irama. Dalam teater didapati istilah tempo, tetapi sebetulnya kata-kata ini tidak ada hubungannya dengan irama. Irama adalah perubahan-perubahan yang teratur dan dapat diukur dari segala macam unsur yang terkandung dalam sebuah hasil seni –dengan syarat bahwa semua perubahan secara berturut-turut merangsang perhatian penonton dan menuju ke tujuan akhir si seniman. Sebuah lakon mempunyai irama. Irama itu berjalan ke arah klimaks. Tanpa irama pasti akan membosankan penonton. Aktor harus mempunya kemahiran menunjukan irama. Ia harus berlatih memikat perhatian penonton.
Dari 6 ajaran diatas dapat ditarik kesimpulan, yaitu aktor bukanlah sebuah hobby, tapi bagian dari hidupnya.

Rizki Pradana
Dari buku “Shomit Mitter : Sistem Pelatihan Lakon”, “RMA. Harymawan : Dramaturgi”

Agustus 6, 2009 at 2:31 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: