Realisme, Keaktoran, dan Stanislavski


September 1st, 2008 by M. Fadli, aktif di teater Rumah Teduh

Stanislavsky adalah seniman sejati. Dia meleburkan sekaligus menggeneralisir diri dengan utuh, hingga akhirnya dia menjelajahi sendiri kisi-kisi kehidupannya sampai ke tingkat paling mendetail. Penonton tak lagi membutuhkan penjelasan lanjutan atas apa yang dia tampilkan. Menurut pendapat saya, begitulah teater seharusnya. (Lenin,1918)

Continue reading →

TESTIMONI DAN REFLEKSI PELATIHAN PSIKODRAMA


25 November 2016. Ini adalah hari pertama saya berkenalan langsung dengan psikodrama. Pembelajaran psikodrama hari itu dipandu oleh bapak Retmono Adi, yang secara kompetensi sudah banyak pengalaman di bidang peran dan drama, serta menekuni psikodrama. Ini adalah pelatihan dan workshop pertama yang saya ikuti dimana tidak ada satu lembar kertas maupun slide yang menerangkan teorinya. Semuanya berbasis praktek. Dan dari praktek-praktek tersebutlah, instruktur membantu peserta menstrukturkan definisi, prinsip-prinsip, dan teknik psikodrama. Continue reading →

Efeknya Masih Bekerja Selepas Acaranya (ternyata efeknya masih lanjut..) Sharing Psikodrama 2


Sharing ini adalah lanjutan dari sharing sebelumnya, dengan judul artikel yang sama..
Jadi, sekitar sebulan setelah mengikuti psikodrama, saya yang perantau akhirnya pulang ke rumah dan bisa bertemu orang tua. Seperti yang saya ceritakan di sharing sebelumnya, saya memiliki rasa sakit hati yang cukup dalam terhadap ayah saya, yang baru saya sadari sepenuhnya sewaktu mengikuti psikodrama. Sempat terbersit dalam pikiran saya untuk mengatakan terang-terangan kepada ayah saya, setidaknya supaya saya bisa lega dan beliau mengetahui perasaan saya selama ini. Continue reading →

Teater adalah Proses Belajar Memiliki Karakter


Mengapa tidak kepikiran,…ya?

Sudah dikabarkan oleh banyak media, mengenai pentingnya Karakter,
Dunia pendidikan berusaha menyusun kurikulum
Dunia Industri menyusun program pelatihan
Dan aparatur negara juga diinstruksikan mampu menunjukkan karakter,…

Kesemuanya tidak memilih teater atau drama sebagai cara utama nya,…

Apakah karena teater hanya untuk di panggung pertunjukkan?
Bukan kah cukup banyak orang yang paham bahwa dunia juga panggung sandiwara?
Ataukah bahwa teater adalah cara berpura-pura?
Owh,..betapa dangkal pemahamannya….
Ataukah teater men-simbolkan ” kebebasan”,…
..bukankan semua orang menginginkan kebebasan?
…lalu apakah kebebasan itu tanpa aturan?….owh,…banyak sekali aturan di dalam teater,…

Jelas dituliskan bahwa setiap orang teater, saat proses menuju pentas,…aktor aktornya membangun karakter,…

Menurut kaidah Teater ;
Karakter yang baik adalah yang selaras antara Pikiran, Perasaan dan Tindakan nya,.. yang tetap terjaga dalam Kesadaran nya,…

Bila orang mampu melakukan hal tersebut di panggung pertunjukan,..dapat dipastikan ia mampu juga melakukan dalam kehidupan nyata nya. Maka ia dapat disebut orang yang memiliki Karakter,…

Karakter seperti apa?
Karakter apa saja,..sejauh selaras antara Pikiran, Perasaan dan Tindakan nya,..dan terjaga dalam Kesadarannya sebagai Manusia,…maka ia dapat disebut Orang yang ber Integritas,…

Berproses dalam teater dengan benar, akan menuju pada kemampuan memiliki Integritas diri,
Memang proses ini panjang dan tidak mudah,…bahkan bisa berlangsung sepanjang hayat,…karena keselarasan merupakan situasi yg dinamis, akan berubah mengikuti kondisi dan situasinya. Sehingga menuntut individu bersikap ikhlas, rela belajar lagi dari awal.

 

retmono

Mengelola Stres cara Psikodrama – Kesadaran Peran


Psikodrama Indonesia

Kamis, 12 Juni 2014
Acara mulai pukul 18.30 WIB, namun aku terlambat karena lalu lintas padat. Perjalanan dari Tembalang ke Gedung Telkomsel, ditambah dengan salah masuk Gedung :D.
Setelah diperkenalkan aku langsung cerita, apa itu stress, “Working Hard for something we don’t care about is called Stress, Working Hard for something we love is called Passion – Simon Sinek”
Peserta aku ajak merefleksikan kalimat di atas. Kemudian aku tanyakan siapakah yang sekarang sedang Stres. Kebanyaknya peserta adalah mahasiswa tingkat akhir baik S1 maupun S2 yang sedang mengerjakan tugas akhirnya. Mereka merasa stress.
Beberapa peserta mengungkapkan perasaannya yang “Galau” tersebut.

View original post 532 more words

Psikodrama di Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta


Psikodrama Indonesia

Rangkaian acara Lustrum Fakultas Psikologi UGM, Sabtu, 15 Juni 2014, pukul 08.30 – 12.30 WIB, di Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta.
Peserta mahasiswa yang aktif di Organisasi Kemahasiswaan di Fakultas Psikologi. Penyelenggara Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST).
Jumlah peserta 12 org.

Psikodrama adalah salah satu bentuk Terapi Kelompok, proses terapeutiknya dari interaksi pribadi yang ada dalam kelompok.

View original post 315 more words

Psikodrama, Teater, dan Aku


Beberapa hari yang lalu, seorang temen berada dalam keadaan yang sulit. Ia menceritakan masalahnya lewat WhatsApp. Masalahnya tidak kutulis karena bukan itu yang ingin aku sharingkan, melainkan sedikit diskusi penutupnya yang mengungkapkan bagaimana Psikodrama dan Teater memberikan pengaruh padaku. Khususnya kepekaanku dalam menangkap ekspresi yang nampak tidak wajar.
Berikut aku kutip beberapa chatt nya :

……

– Udah kucoba utk tetap senyum…spt yg nampak pada pp ku …tak terlihat sedang berduka kan???😜
+ Kalau tanya ke aku,..ya aku bisa melihat lah,…🙏
– Haa .haa ..susah ngomong ma psikolog
+ Ada beberapa otot2 yg membentuk ekpressi,..yg tidak selaras,…yg biasa nya nampak pada seseorang yg berusaha keras menyembunyikan perasaan yg sesungguh nya,..

Hal itu (menyembunyikan perasaan) memang dpt dilatih, namun membutuhkan energi yang besar. Dalam melawan perasaan sendiri biasanya orang lalu mengekpresikan dengan emosi yang lain. Rangsang yang diterima otot-otot untuk berkontraksi menjadi ambigu, otot bekerja lebih berat, bila dilakukan terus menerus dapat menyebabkan sakit fisik (psikosomatis).
Seorang aktor yang baik, ia tidak melawan perasaannya, ia menggali perasaannya sendiri (memori emosi) yang sesuai dengan tuntutan peran (tentu perlu latihan yang cukup), dan ketika ia mendapatkan perasaan yang sesuai, ia tinggal mengekspresikannya, sehingga otot-otot yang membentuk ekspresi selaras dengan perasaannya (spontan) ~ teknik stanislavski

– Yo percoyo po meneh karo pakar ekspresi hee..hee
– Teater dan psikodrama mbuat mu peka terhadap hal tsb
+ Benar,…👍👍👍

Aku dengan aktif di Teater dan Psikodrama terbiasa mengamati dan berlatih mempraktekkannya. Bagiku relatif mudah, untuk menangkap fenomena itu, dengan fokus pada yang diamati, bukan sibuk dengan pikiranku (masalahku) sendiri.

+ meskipun demikian perlu disiplin ketat,..agar dpt menjaga etis,…
+ Krn jika org tsb tidak ingin mengatakan (mengungkapkan diri)…sangat tidak disarankan nge-judge, secara terbuka (verbal)

 
Yogyakarta 06 Januari 2017

Open Up Your Heart and Let The Sunshine In…..


Open Up Your Heart

Efeknya Masih Bekerja Selepas Acaranya, Refleksi Psikodrama Bandung 251116


Awalnya, alasan saya mengikuti kegiatan psikodrama yang diadakan oleh pak Didik (begitu sapaan akrab pak Retmono Adi) adalah untuk mengenal lebih dalam tentang hal teknis dari psikdorama itu sendiri. Tidak terpikir di benak saya bahwa peserta akan diajak untuk mengalami efek dari psikodrama itu juga. Akhirnya setelah menghubungi pak Didik dan mendapat bocoran kegiatan yang akan dilakukan, saya semakin penasaran karena katanya akan full praktek pada hari H nanti. Ditambah lagi diminta membawa semacam kain, selendang, atau Pashmina. Semakin bertanya-tanyalah saya, bakal ngapain ya nanti?
Hari H pun tiba dan kegiatan diawali dengan berbincang-bincang tentang harapan apa yang ingin didapatkan dari kegiatan psikodrama dengan masing-masing peserta. Rata-rata harapannya mirip dengan saya, yaitu ingin mengenal lebih dalam tentang hal teknis dari psikodrama. Setelah pak Didik berkenalan secara umum dengan peserta, masuklah pada sesi perkenalan sesungguhnya. Continue reading →

Gila Amat Dia Milih Aku…..


Pada tanggal 25 oktober 2016 tepatnya hari selasa, kelas pada hari ini cukup spesial karena kedatangan tamu yakni seseorang yang ahli di bidang psikodrama. Saya berharap pada hari itu mendapatkan pengetahuan baru dan tentunya pengalaman baru. Tetapi kebetulan pada saat itu saya tidak enak badan sehingga tidak dapat terlalu fokus mengikutinya, di awal saya memberikan 70% diri saya untuk terlibat aktif dalam kelas hari itu.

Awalnya terasa boring dan takut diminta drama ini itu, karena saya tidak terlalu suka terhadap hal-hal semacam drama apalagi diminta memerankannya. Hal itu berubah sejak saya tahu apabila terdapat beberapa tahapan pada psikodrama ini, yakni terdapat warming up, action dan refleksi. Mulailah dengan warming up, dimana kami diminta membuat gerakan pada suatu situasi yang telah ditentukan, ya benar awalnya kami hanya melakukan gerakan yang monoton dan terkesan biasa aja, tapi setelah beberapa kali melakukannya saya pun terbiasa untuk melakukan gerakan yang bisa dibilang sedikit nyeleneh. Hal itu saya lakukan karena saya tahu bahwa teman-teman saya mulai nyeleneh juga.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB dan kami masih berada di tahap warming up, dapat dibayangkan bagaimana lelahnya saya pada waktu itu. Tapi psikodrama juga dapat membawa saya senang karena tawa canda dari teman-teman yang cukup lepas sehingga saya terpengaruh untuk jadi seperti kondisi saya saat itu, yang cukup stress dengan skripsi dan tugas-tugas lain. Pukul 12.00-13.00 WIB kami diberikan waktu untuk istirahat makan siang, pada saat itu saya makan dengan beberapa teman saya mengomentari mengenai kelas tersebut, mayoritas mereka bilang menyenangkan tapi cukup melelahkan.

Pukul 13.00 kami memulai kelas lagi dengan tahap selajutnya yakni action, disitu diminta satu anak mewakili untuk menjadi protagonis (partner terapis). Saat itu teman saya ino yang menjadi protagonisnya, dan saya diminta untuk menjadi peran pengganti dirinya. Saya terkejut dan melongo mendengarnya, dalam hati saya berpikir “gila amat dia milih aku”. Disitu yang bisa saya ambil maknanya adalah kita dapat tetap memperhatikan hal kecil, dapat mennghargai orang lain, dan tetap percaya pada komunitas karena komunitas ini dapat menyimpan segala cerita yang telah diceritakan. Kelas berakhir cukup baik dan berkesan, saya mendapatkan banyak hal pembelajaran pada hari itu. Dapat juga mengenal teman-teman lainnya lebih dalam juga.

 

DR

%d bloggers like this: