Hubungan Orang Tua dan Anak dengan Psikodrama


Kamis, 20 September 2018 saya mengundang pak Didik untuk bermain psikodrama bersama anak-anak. Setelah itu acara dilanjutkan diskusi bersama orangtua.

Saat itu ruangan disetting menyerupai restoran. Anak-anak terlihat sangat menikmati permainan tersebut. Anak bermain seakan di restoran yang sesungguhnya. Suasana lebih hidup lagi setelah pak Didik ikut terlibat menjadi musisi, dengan memainkan gitarnya di sudut ruangan.

Kurang lebih 1 jam anak-anak bermain psikodrama. Setelah anak masuk ke kelas masing2, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama orangtua.

Mereka nampak antusias sekali berdiskusi. Banyak hal yang ingin mereka tahu tentang tumbuh kembang anak. Pertanyaan satu persatu dijawab pak Didik dengan gayanya yang santai tapi mengena. Kadang juga diselingi dengan canda tawa sehingga suasana terasa hidup dan tidak membosankan.

Yang menarik lagi disini adalah pesertanya kebanyakan ibu-ibu muda. Jadi ya begitulah ….. heboh banget.

Dan hasilnya adalah ada dampak positif yang didapat dari diskusi ini. Perubahan perilaku anak secara bertahap mulai nampak. Orangtua bersyukur banget dengan keadaan ini.

Terimakasih pak Didik atas bantuannya. Semoga hal ini bisa membantu membangun hubungan kuat antara orangtua dan anak. Sehingga orangtua bisa menghantarkan anaknya untuk melewati masa kanak-kanak mereka lebih bermakna.

Advertisements

Upgrading Gaya Baru dengan Psikodrama di Samarinda


Minggu, 4 November 2018 Koalisi Pemuda Hijau Regional Kalimantan Timur mengadakan Upgrading dan Gathering. Menjalin kembali tali silaturahim, berkumpul bersama menyambut anggota baru yang sudah melewati tahap seleksi berkas dan wawancara. Pemateri pertama, kak Abbas sebagai pembina memberikan informasi tentang KOPHI KALTIM.

KOPHI pertama kali hadir di Jakarta, tepat pada hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2010. Di Kalimantan Timur KOPHI hadir 11 November 2011. Dipelopori oleh Bang Saat Egra, kala itu beliau masih menjadi mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. KOPHI hadir karena pemuda resah akan permasalahan lingkungan saat ini, harapannya para pemuda dapat berkoalisi dan memberikan solusi bagi perubahan iklim dan permasalahan lingkungan.

KOPHI KALTIM terdiri dari 4 divisi, yaitu :

Pengembangan Sumber Daya Manusia; Penelitian dan Pengembangan,

Design Kreatif, dan Hubungan Masyarakat. PSDM, divisi yang meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di KOPHI KALTIM.

Untuk penelitian dan pengembangan, meneliti permasalahan lingkungan terkini, membahas, dan menjadikan sebuah informasi.

Kemudian design kreatif, informasi dari LITBANG akan disampaikan melalui visual atau poster dan diunduh ke media sosial.

Dan, hubungan masyarakat merupakan divisi yang langsung berinteraksi dengan komunitas atau lembaga lainnya. Tapi dari itu semua, diharapkan para anggota mampu bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan. Menjadi wadah koalisi dari berbagai komunitas pemuda yang peduli terhadap perubahan iklim dan lingkungan hidup, baik dari akademisi maupu non akademisi.

Setelah materi dari kak Abbas, selanjutnya ada kak Putri yang akan memberikan materi tentang Team Building dengan metode PSIKODRAMA. Jadi, kami berkenalan melalui icon yang “gue banget”. Ada yang iconnya api, mengartikan dirinya memiliki semangat berapi-api. Kucing, karena gak suka dengan kucing. Kopi yang khas dan unik. Masih banyak icon lainnya, menggambarkan “seberapa gregetnya kamu”, sebuah kalimat yang sedang hits di kalangan kawula muda.

Selanjutnya kami bermain sculpture atau mematung, awalnya membentuk menjadi sebuah pohon, air terjun, sungai, suasana rumah, taman, dan sebuah konser. Setelah menetapkan diri ingin menjadi pohon, lalu mematung.

Berganti gaya, ada yang berpikir akan menjadi apa. tapi sedikit yang melirik kanan kiri untuk memperhatikan sekitar. Sejenak berpikir, “temanku akan jadi apa ya?”. Akhirnya karena tak serasi, beberapa kali peran jadi berantakan. Misalnya di sebuah konser, ada yang yang berjualan di atas panggung. Ada backing vocal yang malah berada di belakang penonton. Ternyata dari permainan ini, kami belajar untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan saling berkomunikasi.

Permainan berikutnya adalah lokogram; ada tiga titik yaitu feel, logis, dan action. Kami dipersilakan memilih mana titik yang paling “gue banget”. Hanya ada tiga orang yang berada di action, lima memilih feel, dan banyak yang ada di logis. Lalu kami ditanya, Jika diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan, kami akan memilih titik yang mana? Menetapkah atau berganti posisi? Ada 3 orang yang tetap pada pendirian, mereka berada di logis. Ada juga dari action memlilih feel, melatih kemampuan untuk merasa. Atau sebaliknya, dari yang perasa menjadi ingin melakukan sesuatu. Dari kegiatan tersebut, kami belajar untuk memposisikan diri sesuai dengan keadaan kami saat ini, lalu menentukan untuk berbuat apa kedepannya.

Lalu kami bermain spektogram, ada skala 10 sampai 100. Seberapa besar antusias untuk ikut kegiatan ini dan komitmen pada kegiatan selanjutnya? Ada yang memilih 50, 70, 80, 90, dan 100. Tentunya dengan berbagai alasan; masih ragu antara datang atau tidak, ada kegiatan lain, ada juga yang ingin tahu lebih banyak tentang KOPHI KALTIM. Berikutnya, masih dengan skala untuk melihat komitmen. Ada yang 60, 80, bahkan 100. Alasan bermacam macam karena masih memiliki amanah di tempat lain. ada juga yang karena sadar betapa pentingnya menjaga lingkungan dan mengajak orang banyak untuk peduli.

Kegiatan terakhir, yaitu refleksi. Ada 4 titik; dimulai dari sebelum datang, proses kegiatan, apa yang didapat, dan harapan. Jadi, masing-masing anggota diminta untuk menceritakan perasaan sebelum sampai di tempat kegiatan. Ada yang penasaran dan memang sudah meluangkan waktu untuk hadir, dalam melalui prosesnya menyenangkan, mendapat banyak teman dan pengetahuan baru, lalu berharap selanjutnya dapat bertahan di KOPHI KALTIM dan menjadi bagian yang mampu melestarikan lingkungan.

Sebelum kembali ke aktivitas masing-masing, ucapkan 3 kalimat sakti sebagai penutup. Berbagai kata positif yang diucapkan oleh teman-teman; seperti semangat baru, menjadi lebih baik, inovatif, dan berbagai kata yang mampu mewakili perasaaan hari itu. Sampai bertemu di pertemuan selanjutnya, upgrading dan gathering kali ini sungguh berbeda dan penuh makna.

Salam lestari!
Samarinda, 12 November 2018
Adilah Rizma Yuniar

Seberapa GREGETnya Kamu, Penerapan Psikodrama untuk Anak Milenial


Minggu siang yang cerah, Hari ini diminta mengisi Upgrading dengan teknik Psikodrama di komunitas “Koalisi Pemuda Hijau Kaltim” Tema hari ini mengenai Team Building. Saya ingin berbagi mungkin akan ada inspirasi dari cerita proses psikodrama ku hari ini.

Aku memulai Psikodrama hari ini dengan PERKENALAN, karena sedang berhadapan dengan anak anak muda milenial jadi di sesi perkenalan kali ini saya memilih tema “SEBERAPA GREGETNYA KAMU” (Aku memilihnya karena ini istilah yang lagi hitz dikalangan anak anak milenial dan tentu ini membuat suasana jadi cukup hangat dan lucu), jadi waktu perkenalan masing masing peserta harus membuat gerakan atau kalimat yang mengambarkan dirinya yang paling GREGET, di sesi ini sudah mulai terlihat mana yang peserta yang ekspresif, lucu, PD, berani, kreatif maupun yang malu malu.
Continue reading →

Psikodrama Memberikan Kebermaknaan bagi Diriku dan Lingkunganku


Awalnya aku tertarik Psikodrama karena aku suka teater. Aku mantap, langkahkan kakiku dari Cirebon menuju pelatihan Psikodrama di Bandung tanggal 24-25 Oktober 2018.

Awal materi..Aku masih pakai topeng untuk melakukan gerak. Aku masih malu untuk menjadi pohon atau apapun itu. Seiring berjalannya waktu, Aku semakin masuk dan mulai bisa menikmati peran yang aku mainkan. Topengku kubuka satu persatu, sehingga aku mulai nyaman. Aku bisa ekspresikan diriku semauku, tidak peduli jelek dilihat orang, yang penting aku nyaman dan terselip rasa bahagia. Aku bisa berbaur dengan teman-teman yang lain yang tadinya tidak aku kenal.

Saat Aku diminta untuk mengucapkan terima kasih pada seseorang. Aku langsung teringat kepada mendiang suamiku. Aku berterima kasih karena sudah diwariskan 5 anak yang baik dan menyenangkan.

Aku katakan pada suamiku, “Terima kasih dengan warisan ini dan aku beserta anak-anak kuat. Kami saling menguatkan untuk meneruskan hidup tanpamu.”

Itu kataku. Rasanya plong, seperti lepas bebanku, dan aku semakin sadar bahwa aku memang kuat untuk diriku dan anak-anakku.

Hari kedua, semakin lepas aku bisa ekspresikan perasaanku lewat gerak. Aku menjadi sebuah kursi yg unik, kuat dan nyaman untuk diduduki. Aku memaknai hidupku bahwa aku harus menjadi diriku dengan keunikanku. Aku harus kuat dan memberikan arti untuk sekelilingku, dan aku makin menyadari untuk lebih peka menangkap segala sesuatu yang bermakna di sekelilingku.

Terima kasih Psikodrama sudah memberikan kebermaknaan akan kehadiranku untuk diriku dan lingkunganku.

Terima kasih buat Mas Didi dan Mba Wiene atas ilmunya…

Cirebon, 1 November 2018
Aku..Mimi Mulyati

NB
Itu pengalaman saya..makasih banyak mas Didi..apalagi waktu mas Didi berperan sebagai suamiku dan mengatakan bahwa aku tenang karena kamu kuat..duh rasanya itu yang akan dikatakan suamiku..makasih banyak ya mas..🙏

Psikodrama “Sebuah Puisi” dari Bandung


Tertawa
Menangis
Terpancar di wajah
Terasa di hati

Kemampuan mendengarkan
Tidaklah berarti
Tanpa menatap
Tanpa berempati
Banyak bicara
Tanpa mengendalikan diri

Fokus Masalah
Bukanlah solusi
Fokus kenyamanan
Itulah yang dicari

Imeyratu, 2018

(Sebuah Puisi tercipta dari pengalaman ber-Psikodrama di Dispsiad Bandung, 24-25 Oktober 2018. Belajar Komunikasi Non Verbal, dan Empati sebagai dasar melakukan PFA.)

“JUMAT BAHAGIA” bersama PSIKODRAMA di Samarinda


Jumat pagi, tiba tiba HP berbunyi ada pesan dari seorang kawan di PASKAS Samarinda, Dia bercerita bahwa hari ini mereka akan mengadakan acara “JUMAT BAHAGIA” untuk 35 orang anak dari suatu pondok binaan mereka. Temanya “Jumat Bahagia” karna acara ini memang diadakan untuk membuat anak anak asuh mereka agar merasa gembira dan dia menanyakan apakah saya bisa membersamai dan mengisi acara tersebut dan membantu membuat anak anak merasa bergembira. Dan tentu saja dengan senang hati saya menyetujuinya. Continue reading →

Sembuhkan Badan Melalui Pikiran : Sebuah Resensi Buku


Ketika Dokter berkata bahwa penyakit ini tidak ada obatnya,
Maksudnya adalah kamu harus mengobati sendiri penyakitmu.
Louise Hay

Louise Hay adalah pengajar metafisika dan telah menulis beberapa buku dan karya yang telah diterjemahkan ke dalam 29 bahasa dan diedarkan di 35 negara. Mengapa karyanya dapat diterima oleh kalangan yang begitu luas? Jawabannya saya peroleh setelah membaca buku tulisannya yang berjudul “ Heal Your Body”. Dalam buku tersebut, Louise berbagi cerita tentang keberhasilannya menaklukkan kanker vagina yang di deritanya alih-alih melakukan operasi seperti yang disarankan oleh dokter kepadanya. Continue reading →

Cerita Dinda dari Samarinda : Psikodrama Semakin Masuk ke Diri Saya


Sabtu pagi di bulan Oktober, bulan penghujan tapi kata Pak Adi, Beliau suka suasana seperti pagi ini, walau menurut saya rada sendu. Tapi saya juga suka.

Bulan ini saya dan rekan rekan dari IKAPSI UNTAG Samarinda mengundang Pak Adi untuk mengisi pelatihan Psikodrama mengenai Management Stress dan Self Compassion. Selain untuk memperkenalkan Psikodrama ke lingkup yang lebih luas, ini juga ajang belajar buat diri saya sendiri, karna nampaknya saya mulai jatuh cinta sama metode ini dan ingin belajar lebih dalam😜
Continue reading →

Prihatin Bullying di Indonesia


Tanpa disadari, mungkin kita juga sering melakukan perundungan ( bullying ) pada orang lain. Saat mengatakan orang gemuk, jelek, bodoh, banci, serta berbagai stigma negatif lainnya. Mungkin saat mengatakan itu, maksud kita adalah untuk bercanda, tapi efek yang ditimbulkannya sama sekali tidak lucu dan bisa jadi tidak terduga.

Pikiran manusia cenderung mengingat yang buruk dan mengabaikan yang baik. Saat seseorang diberi penguatan positif seperti dipuji pintar, cantik, langsing, baik.. maka efek positif ini hanya bertahan sementara saja, namun apabila mendapat penguatan negative, efek nya berlangsung sangat lama. Continue reading →

Pengalaman Psikodrama di Samarinda ; Bersyukur Membuat Bahagia


Pada hari Minggu kemarin saya berkesempatan mempelajari ilmu Psikodrama di kampus saya menimba ilmu dulu Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda dan beruntungnya saya belajar langsung dari praktisi Psikodrama Bpk. Retmono Adi.

Beberapa hal yang saya pelajari adalah bagaimana hubungan kita dengan diri sendiri (personal), orang lain (interpersonal), & yang menciptakan saya (transpersonal). Selaras dengan itu saya juga belajar jika saya mau hubungan saya baik dengan orang lain yang pertama harus saya lakukan adalah menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam diri saya terlebih dahulu dengan lembut terhadap diri sendiri.

Saya juga belajar bagaimana cara saya manganalisa suatu permasalahan yang ada di dalam diri saya dengan menentukan apakah permasalahan itu mengenai emosi, kognitif, atau tindakan yang harus segera saya kerjakan & memberi waktu atau batasan sampai kapan masalah ini ada di dalam diri saya.

Saya juga berkesempatan menjadi tokoh protagonis cerita saya pada masa kecil di recall & dimainkan pada saat pelatihan. Ternyata tanpa saya sadari saya kurang mengingat kebaikan orang – orang di sekeliling saya, terutama kedua orang tua saya betapa nikmat syukur saya panjatkan karena dengan Psikodrama saya diingatkan dengan kebaikan dari Bapak & Mamak saya dari kecil hingga umur saya 24’th. Mengingat kenangan – kenangan yang indah mampu membuat saya sangat bersyukur dilahirkan dari keluarga yang selalu mencintai saya & selalu mendukung saya dalam suka duka.

Alhamdullilah….. “Terima kasih Psikodrama”

Samarinda, 11 Oktober 2018

Mira

%d bloggers like this: