Namaku Mawar ; Cerita Mawar Part 01


Perkenalan 

Nama : Mawar
Usia : 19 tahun.
Cita-cita: Melakukan pendampingan pada keluarga dengan kondisi penyakit terminal atau pun langka, melakukan pendampingan pada siapapun yang berurusan dengan BNN terutama perilaku alkohol, membantu anak yang pengalaman.

Hal yang berkesan dalam hidup: Ada seseorang yang berkata kepadaku bahwa tujuanku ini mulia untuk membantu orang lain yang lemah (lihat cita-cita) dan sosok imajinasiku berkata bahwa aku Mawar tidak akan meninggal dunia dengan mudah (disebabkan bunuh diri) karena tujuan hidup dan mungkin takdir dari Tuhan.
Okay semua mari kita mulai ceritanya…

Namaku Mawar, aku lahir pada 21 juli 1999, aku lahir dari keluarga yang sederhana. Mungkin alangkah lebih baik jika aku jelaskan dulu silsilah keluargaku. Aku lahir pada kondisi prematur yaitu usia kandungan 6 bln menurut medis. Jika menurut tradisi jawa aku mendapati kelahiran dengan weton yang cukup besar (aku tidak bisa menuliskan disini karena ada anggapan bahwa bisa jadi guna-guna menurut tradisi).

Menurut ibuku saat hamil sebenarnya baik saja hanya ibu sering keguguran dan juga saat mengandungku sering flek sehingga diberi penguat keguguran. Menurut tradisi jika pasutri sulit dapat keturunan bisa adopsi anak dalam bentuk ambil di panti asuhan maupun merawat anak saudara yang kurang mampu. Jadi ibuku angkat anak dari adik nenek karena saat itu anak kecil itu berusia 1 tahun dan baru saja orang tuanya bercerai. Aku memiliki kakak kandung laki laki yang lahir pada desember 1989.

Saat aku berusia 2 bulan dibawa ke RS ternama yang cukup mahal saat itu dan di diagnosa TAPVD dan pembuluh darah terbalik oleh profesor SP.JP terkenal saat itu. Menurut diagosa tersebut akan terjadi keterlambatan perkembangan pada diriku. TAPVD ini membuat kekurangan oksigen di otak dan tubuh jadi sianosis ataupun biru pada seluruh tubuh. Ditambah lagi keadaan kongenital atau bawaan lahir demikian membuat aku rawan sakit dan sulit pulih. Menurut info yang aku dapat ibuku selalu menangis terus dan selalu doa tumpang tangan dan juga rajin ibadah KKR atau kebaktian kebangkitan rohani. Harta orang tuaku seperti raib karena kondisi fisikku dimana jual mobil beberapa kali hingga ganti menjadi sepeda motor kuno.

Kakak kandungku saat itu sedang proses menuju SMP dan kakak angkatku akan masuk SMA bahkan sempat mendapat beasiswa gereja. Kakakku sangat cerdas dalam berhitung dan berbahasa inggris, bahkan keluarga besar bapak terutama budhe atau anak perempuan tunggal di keluarga bapak sebut saja Kelor membiayai kursus kakak. Sedangkan kakak angkatku dirumah merawat aku bersama dengan pembantu rumah tangga saat itu.

Setelah aku besar, akupun dipanggil Nonik karena aku tampak seperti keluarga Tionghoa, kakak kandungku yang berjenis kelamin laki-laki sebut saja Boyo dipanggil Sinyo. Aku saat TK pernah bermain make up pesta ibuku lengkap mulai mungkin foundation era itu, eyeshadow, lipstick ya pokoknya make up pesta tahun 2005. Hal ini disebabkan oleh rutin kondangan alias datang ke pesta.

TK aku naik mobil antar jemput saat itu seperti mobil Carry namun mobil itu sangat besar buatku saat itu. Saat itu aku menulis dua ribu lima seharusnya 2005 karena aku anggap ini dua ratus lima adalah 20005 dan ini yang benar. FYI aku dari keluarga budaya jawa kuno plus kehidupan primbon namun aku tampak seperti keluarga tionghoa karena secara fisik keluarga bapak demikian, namun malah pegang teguh budaya jawa kuno.

Dulu jika hari raya Imlek aku pergi ke kelenteng dan melihat teatrikal barongsai dan naga. Bahkan mendapatkan angpao dari orang asing di klenteng, sempat juga dulu masuk kedalam klenteng melihat tata ibadah sederhana lalu berjalan terus hingga belakang klenteng untuk melihat pantai saat itu. Bahkan parahnya lagi ibuku membelikan aku baju imlek di depan klenteng dan aku terlihat seperti anak perempuan alias nonik menurut tionghoa. Padahal rumahku di dekat juanda pergi ke klenteng pantai kenjeran hanya untuk lihat barongsai. Tampak sangat menyenangkan sekali saat pergi jalan-jalan malah dapat angpao dari orang asing.

 

Bersambung

Januari, 2019

Sebut saja Namaku Mawar

Advertisements

……. yang terjadi Setelah Mengikuti Psikodrama


Sabtu, tanggal 12 Januari 2019, yang lalu, Saya memfasilitasi Psikodrama di Solo. Kali ini kami mengolah Forgiveness dengan Psikodrama. Saya sebelum mengakhirinya selalu menyampaikan bahwa efek Psikodrama tetap bekerja setelah pulang ke rumah, bahkan sampai beberapa hari ( dapat dilihat pada Catatan Dinamika Emosional “Bermain” Psikodrama ). Ini penting disampaikan agar peserta menyadari dan mampu mengantisipasinya, dan kemarin ( Senin, 14 Januari 2019) saya meminta umpan baliknya dengan bertanya :

Apakah ada yang masih berasa efek-nya?

Continue reading →

Pantaskah Aku Menyerah


Setiap orang di dunia ini pasti memiliki masalah yang beragam tentunya. Setiap orang juga memiliki keterampilan yang berbeda untuk mengatasi masalah tersebut. Pernahkah Anda mengalami stres dan seluruh dunia terasa tidak membantu?

Mari aku coba perjelas dengan topik psikologi dan adat atau aliran kepercayaan. Aku coba berikan contoh hal yang pernah terjadi dalam dunia kerja profesional.

Suatu ketika di suatu perusahaan perkapalan dan kontainer yang cukup ternama di Surabaya, ada seorang staf di perusahaan tersebut, beliau adalah kakak sepupu, sebut saja namanya Coco. Coco saat dunia perkuliah masuk dalam daftar mahasiswa paling TOP saat wisuda bahkan mendapatkan beasiswa S2 sepengetahuanku untuk fakultas bisnis, namun beasiswa di tolak dan pilih bekerja. Pekerjaan sederhana yaitu Bank dan berpindah tempat kerja menjadi di perusahaan kapal dan kontainer.

Coco sangat rajin, gigih, siap sedia. Hal yang paling menyakitkan adalah tidak bisa kumpul keluarga terutama keluar kota karena pekerjaan. Coco, karena profesionalpun naik pangkat terus bahkan memiliki asisten dan dipercaya oleh pimpinan perusahaan.

Coco mengalami pengalaman buruk saat bekerja yaitu rekan kerja yang iri, bahkan ada rekan kerja yang berusaha PDKT hanya karena kaya raya (gajinya cukup selangit saat itu), bahkan asistennya sendiri bersama rekan kerja lain menjegal Coco.

Mohon maaf jika aku menjelaskan kelanjutan dengan psikologi non ilmiah karena inilah realita. Awalnya kak Coco dikirimi penyakit GBS dan berada di RS selama 1 bulan penuh di kamar perawatan VIP, seingatku peristiwa tersebut terjadi tahun 2016 saat bulan puasa. Hingga akhirnya dibawa ke RS lain dan akhirnya riwa-riwi alias bolak balik ke RS.

Banyak kenalan dari keluarga besar yang berusaha membantu secara spiritual (upaya pembersihan semacam rukyah) namun selalu di isi (guna-guna) kembali bahkan lebih banyak.

Keluarga besarpun memutuskan untuk doa bersama ( doa islami) dan upaya itu sedikit berhasil, yang membuat keberhasilannya sedikit adalah saat doa, kak Coco mengalami rintihan kesakitan hebat dan keluarga tidak tega serta berakhir pada berhenti doa.

Hal yang membuat kelelahan fisik dan psikologis adalah orang jahat tersebut/ rival malah menguna-guna siapapun yang membantu kak Coco. Tujuan utama Rival adalah agar Coco berhenti bekerja dan Rival dapat perhatian dari pimpinan dan juga tentunya naik gaji.

Aku lupa kejadiannya seperti apa misal (dikirim pasir kuburan) jadi rumah kotor berpasir terus, namun yang aku ingat sempat menggunakan keris juga. Jadi keris disiram air panas, lalu setiap pintu diberi tanda silang menggunakan keris, siram air beras, bahkan menggunakan porcelin dengan cara di tuangkan di seluruh area luar seperti teras dan garasi.

Hal ini terjadi dirumahku karena keluargaku terus mencari spiritualis untuk menyelesaikan ini tanpa mengirim kembali (guna-guna tersebut.) Bahkan ada yang memberikan info bahwa rival membayar dukun berapapun asalkan Coco meninggal (mungkin santet).

Hal ini terjadi karena walaupun kak Coco sakit tetap dibayar perusahaan meskipun sedikit, bahkan kak Coco sempat diminta masuk ke kantor (yang tugasnya lebih ringan dari sebelumnya) untuk (semacam formalitas).

Jalan Tuhan sungguh luar biasa meskipun sudah 1 tahun Coco sakit perusahaan tetap menghargai Coco.

Cocopun akhirnya memilih resign, tidak mendapatkan gaji dan juga teror rival untuk siapapun yang membantu berhenti, (sepertinya santet sudah berhenti) untuk kak Coco secara imun juga sudah buruk dalam artian sel darah merah sering drop dan tambah kantung darah.

Cocopun dengan kondisi demikian diberikan petunjuk dari Tuhan berupa salah satu keluarga dari keluarga besar mau merawat Coco. Pada saat itu juga seingatku ibu kak Coco juga terkena kanker serviks sekitar 2017 dan baru saja meninggal dunia tepat saat natal 2018 ini.

Pada saat kondisi kritispun hanya Coco dan keluarga besar bergantian jaga di rumah sakit (Coco memiliki 1 kakak namun entahlah tidak ada kabar). Ibu Coco meninggal dunia sekitar jam 5 atau 6 pagi, dimakamkan sekitar jam 1 siang di kolom makam kakek.

Kakek sudah meninggal sekitar tahun 1998 atau 1999 dan saat ibu kak Coco akan dimasukan ke kolom, ditemukan kondisi jenazah kakek masih utuh. Menurut juru kunci hal ini disebabkan kakek baik di dunia.

Dan setelah pemakaman rival tersebut datang dan bercerita setelah Coco resign seluruh pekerjaan Coco diberikan ke rival tersebut, tidak diberi gaji tambahan dan juga asisten. Cocopun tersenyum kecil dan teringat kalimat GUSTI ORA SARE.

Dari kisah ini aku mendapatkan pelajaran bahwa kita musti terus berusaha, berdoa pada Tuhan YME, dan juga berbuat baik untuk mengumpulkan amal dan ibadah. Terima kasih telah membaca…

 

Sebut saja Namaku Mawar

Kami Belajar Bersama Pada Hari Itu ; Tulisan Psikodrama di Surabaya 2019


Ada pepatah yang mengatakan belajarlah sesuatu yang baru setiap hari. Bahkan Albert Einstein pun mengeluarkan pendapat yang lebih keras lagi, “Once you stop learning, you start dying.” Kesempatan untuk belajar selalu hadir mengetuk pintu hati dan pikiran kita. Tinggal bagaimana kita menyadari dan bersyukur atas kesempatan itu dengan menggunakannya sebaik mungkin.

Tapi mudah mengatakan semua itu daripada melakukannya. Musuh terbesarku mungkin adalah rasa kekwatiran apakah bisa melakukannya atau tidak. Pada awal tahun baru 2019 ini saya diberi kesempatan untuk mencicipi belajar sesuatu yang baru itu. Kesempatan itu berupa memberikan materi pelatihan kepada para guru muda di suatu sekolah swasta yang bisa dikatakan nomor satu di kota Surabaya. Saya sangat menghargai para guru muda itu. Saya menganggap mereka istimewa karena merekalah penerus bangsa kita.

Posisi dan peran mereka juga sangat penting karena mereka berada di era waktu awal suatu perubahan besar. Apa yang mereka dapatkan dari pendidikan ilmu keguruan mereka belum tentu sepenuhnya akan membantu mereka menghadapi generasi millennial dan berikutnya yang sangat berbeda. Tantangan mereka besar ke depan sehingga respek saya juga besar kepada mereka. Butuh banyak keberanian bagi guru-guru muda untuk bisa langgeng di profesi mereka.

Tema yang sekolah minta saya berikan adalah etos kerja, tapi dikaitkan dengan menghadapi ketidakpastian di jaman sekarang dan pengaruh teknologi gadget yang sangat besar pada anak-anak didik jaman sekarang. Gurupun perlu adaptasi, tapi adaptasi tanpa pemahaman yang mendalam mengenai etika, moralitas, nilai-nilai, dan keutamaan yang penting mungkin dapat mengganggu proses adaptasi mereka, bahkan bisa saja sampai berujung pada keputusasaan.

Saya berfokus pada kemampuan diri sendiri untuk secara bijak membuat keputusan yang tepat, yang mana keputusan tersebut kadang membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman, kepekaan dalam memperhatikan kebutuhan orang-orang di sekeliling mereka, terutama para anak didik, serta ketulusan, kejujuran, dan keutamaan lainnya.

Saya mengawali pemberian materi dengan sesi perkenalan. Kami duduk dalam bentuk lingkaran dan saya meminta satu-persatu untuk memperkenalkan nama dan bidang studi yang diampu, dan kemudian memperagakan suatu pose yang menunjukkan siapa mereka atau bisa juga keadaan hati mereka saat itu.

Proses perkenalan berjalan lancar dan penuh suka cita dengan diselingi berbagai guyon dari peserta karena beberapa dari mereka menambahkan informasi selain nama dan bidang studi (misalnya status kejombloan, dll). Kebanyakan pose yang dipilih, seperti dugaanku, masih pose yang sangat aman dan nyaman. Pose yang belum menunjukkan keinginan untuk keluar dari zona nyaman. Opini ini saya berikan di bagian akhir sesi perkenalan tapi dengan hanya sekilas saja dan memakai bahasa yang ringan.

Saya kemudian menantang mereka dengan bertanya apakah mau keluar dari zona nyaman. Jawaban mereka secara antusias adalah “Mau!” Maka kemudian saya bawa mereka ke bagian berikutnya.

Pada bagian kedua ini, saya awali dengan pemanasan singkat, yaitu meminta mereka sendiri-sendiri membuat suatu pose sesuai instruksi saya, yaitu membuat pohon. Serentak mereka bergerak, dan hampir semuanya mengangkat tangan ke atas. Hanya ada mungkin sekitar 3 dari 26 orang yang tangannya tetap di samping badan, malah berdiri lurus seperti dalam keadaan siaga, tidak bergerak sama sekali, yang menurut mereka itu juga adalah pohon. Dari yang tangannya ke atas, semuanya membuat pose yang simetris. Dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, saya memancing dan mendorong mereka untuk mengamati semua pose dan memberikan opini mereka. Mereka akhirnya memahami bahwa masih banyak kemiripan dan serba simetris, padahal dalam dunia nyata pohon bisa beragam rupanya. Saya akhirnya memperagakan beberapa pose yang aneh dengan bertanya apakah pohon bisa berbentuk seperti itu untuk mulai membuka pemikiran mereka.

Kemudian kami lanjut dengan membuat pose pohon dengan berkelompok 3 orang dan 5 orang. Pesan-pesan yang saya berikan selama mereka berpose adalah untuk terus melakukan posenya secara hening, tidak perlu mengatur orang lain tapi berfokus kepada pemikiran sendiri. Ini berarti mereka perlu mengamati, mengobservasi, bahkan menunggu sampai teman kelompoknya menjadi sesuatu dulu baru kemudian menambahi. Saya mencoba berjalan dari satu kelompok ke kelompok berikutnya untuk bertanya kepada anggota kelompok mengenai posenya, perasaan yang dirasakan, apa yang mendorongnya untuk mengambil posisi itu, dan seterusnya.

Karena waktu yang terbatas (bagian bermain ini sekitar 1 jam saja), setelah itu saya memutuskan untuk mengajak seluruh peserta menjadi satu kelompok dan memperagakan suatu adegan yang mereka pahami karena terkait lingkungan sekitar sekolah mereka. Sebenarnya keinginanku adalah untuk mencoba dua adegan, satu mengenai lingkungan warung-warung usai jam sekolah di belakang sekolah di mana banyak siswa dan staf berkumpul, dan satunya lagi mengenai adegan di dalam kelas tapi apa daya waktu mengijinkan hanya adegan pertama.

Adegan berjalan dengan baik, walaupun ada hal-hal yang kurang sesuai. Misalnya ada beberapa peserta yang berkumpul di bagian belakang untuk membuat pintu gerbang keluar dan objek di sekitarnya, dan ada beberapa peserta yang mengadegankan warung, siswa-siswa yang ingin menyeberang jalan dan yang naik motor. Hanya saja, kedua kelompok itu sepertinya secara visual tidak menempatkan posisinya sesuai dengan keadaan realitas karena arah motor-motor bukan ke arah yang tepat. Beberapa peserta akhirnya saat refleksi mengatakan kebingungan mau menjadi apa.

Sambil berjalan dari satu orang ke orang berikutnya untuk bertanya mereka menjadi apa, saya mendengarkan perasaan dan proses berpikir mereka mengapa memilih pose itu. Hampir semuanya mengatakan bahwa sebelum menjadi sesuatu, mereka melihat dulu yang lain jadi apa sebelum melengkapi adegan.

Ada segelintir orang yang menginisiasi gerakan pertama yang memilih langsung untuk menjadi apa dan ini kemudian mereka refleksikan juga bahwa kadang dalam suatu keadaan, harus ada yang menginisiasi untuk bergerak. Bagi yang awalnya kebingungan, ada beberapa pembelajaran juga yang kami dapatkan, yaitu saat mengalami kebingungan, ada yang menyikapinya dengan langsung saja menjadi sesuatu walaupun berisiko tidak pas, tapi ada juga yang memilih sedikit berdiri di luar gerombolan dan tetap menjadi sesuatu tapi sesuatu yang lebih netral (misalnya pejalan kaki). Alasannya adalah karena tidak ingin membuat suasana di tengah gerombolan untuk menjadi lebih keruh dan membingungkan, dan ini langsung saya kembalikan kepada peserta dengan mendorong mereka untuk melihat aplikasi pendapat itu ke dunia nyata. Intinya adalah kita masing-masing punya cara yang unik dalam menyikapi suatu keadaan yang tidak jelas, dan ini semua bisa berujung pada keragaman berpikir dan bertindak dalam komunitas.

Satu peserta berefleksi mengenai pentingnya mengawasi terlebih dahulu, tapi bahwa pada akhirnya tetap harus membuat keputusan walaupun masih belum yakin mengenai keputusannya. Salah satu peserta juga memutuskan untuk menjadi tong sampah karena menurutnya tong sampah juga suatu benda yang sangat dibutuhkan dalam lingkungan. Kesaksiannya itu kemudian ditanggapi oleh peserta lain yang merasa kagum akan kemampuan dan keberanian untuk menjadi sebuah objek yang mungkin sering dianggap jelek tapi sangat dibutuhkan.

Setelah selesai dengan adegan warung di belakang sekolah, peserta saya bawa kembali ke posisi melingkar untuk diskusi lagi. Kali ini, juga karena pertimbangan waktu, saya hanya bisa meminta mereka satu per satu memberikan satu hal yang paling berkesan bagi mereka. Hal-hal yang mereka ungkapkan adalah hal-hal yang sudah saya jelaskan di atas tapi lebih mendalam lagi. Hal-hal tersebut kemudian sesudah break sebentar, kami lanjutkan dalam bentuk refleksi tertulis mengenai nilai keutamaan apa yang paling berarti bagi mereka, keutamaan yang sudah mampu mereka imani dengan baik dan keutamaan yang belum mampu mereka lakukan.

Pada akhirnya, syukurlah semuanya berjalan dengan sangat lancar dan indah. Saya benar-benar tersentuh juga di beberapa bagian dan kagum dengan kemampuan para guru tersebut yang dalam jangka waktu pemanasan sangat singkat mampu masuk ke dalam peran-peran dan berefleksi dengan mendalam.

Saya sendiri juga berefleksi bahwa ternyata semua yang saya persiapkan belum tentu bisa terlaksanakan sesuai dengan keinginanku, sehingga saya juga menerima ketidaksempurnaanku dalam melakukan tugasku. Pasti ada pesan yang terlewatkan, tapi tidak apa karena tidak ada yang sempurna. Akan tetapi, yang pasti, saya belajar banyak pada hari itu. Saya belajar bahwa saya mampu melakukannya, bahwa saya bisa menjiwai apa yang saya katakan. Saya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh beberapa peserta, dan pesan-pesan yang mereka dapatkan menjadi pembelajaran juga bagiku.

Kami belajar bersama pada hari itu, dan itu sungguh indah. Terima kasih juga kepada Mas Didik yang sudah membimbing dan memberikan banyak masukan untuk semuanya bisa berjalan dengan baik. Berkah Dalem.

Surabaya, Januari 2019
Erlyn

Refleksi Gaya Millennials


Sering aku klo ke tempat umum ngelihat ada sampah bertebaran. Gak ngejijikin, cuman botol minuman, kaleng atau plastik… dengan jarang ke tempat sampah paling 5 meteran (kyknya, pokok mah deket).

Temen mah gak ngelarang, cuman ya mereka kadang ngomongin, “biarin lah. kan nanti ada yg bersihin. mereka lho dibayar untuk itu.”
well, iya sih. Cuman tempat yg kita kunjungin itu luas dan kurasa selain tenaga kerjanya dikit, gak mungkin mereka patroli tiap 5-10 menit cuman buat lihatin meja atau tempat yg rame ada sampah atau enggak.

Alasanku sendiri ya aku tu pengennya ke tempat wisata/umum, dateng, capek ya duduk. Terus tempat duduk yg ada mejanya gak bersih, dengan botol atau gelas plastik masih di atasnya.

“Ya tinggal kamu ambil terus buang kan?”
YES! THAT’S IT! IT’S FREAKING SIMPLE! Terus kenapa yg punya ninggalin gitu aja tu sampah??
The cup! It’s empty! You could just went to the trash bin and throw it there! It’s. Right. There!

Aku mau orang lain gak ngerasain hal itu. Orang dateng ke tempat wisata/umum tu duduk di meja yg gak ada sampah itu bukan kemewahan/luxury… tapi memang sudah semestinya.

Tapi biasanya gak sampai 10 menit, paling ada lagi sampah baru. Poster “buanglah sampah pada tempatnya” mah cuman poster, cuman hiasan.
Apa karena lagi gembar gembornya soal agama diganti jadi “kebersihan adalah sebagian dari iman”? kurasa bukan ide buruk juga.

Dari hal-hal kecil lah kita berbuat baik.
Aku sadar. Ke gereja bolong-bolong, Napas natal paskah aja enggak. masa adven aku bolong sama sekali. Sama temen juga aku sering cuek. Sama ortu kadang klo kiriman telat baru ngechat.

Sering kan tuh, “ah loe ngomongin orang biar berbuat baik, ibadahmu taat gak? Gak bolong2 gak?”
Endak, aku bolong2. Apakah aku harus taat beribadah baru boleh ngomongin orang? Kurasa juga enggak.
Malahan aku ada baca klo kita ngingetin orang, kita jadi inget sama peringatan itu. Sambil nyelam minum air gak?

Kurasa itu aja. Jadi panjang nantinya.
Sorry gak ada punchline, gitu aja. Trims udah mau baca.

Januari 2019

Joshua Emmanuel

Bagaimana Eksplorasi Tindakan (Psikodrama) Bekerja


diposting pertama pada 14 Maret 2012

Saya melihat Eksplorasi Tindakan sebagai sintesis dari semua hal berikut:

1. Prinsip umumnya adalah “Kreativitas” sebagai tujuan umum — yang berbeda dengan tujuan umum abad ke-20 yang berharap “menyelesaikannya dengan benar” (seolah-olah ada pihak berwenang yang tahu apa jawaban yang benar). Adanya pergeseran seluruh pandangan dunia di sini, dari dunia sebagai tempat yang relatif stabil di mana kita harus beradaptasi, ke perubahan pascamodern, aktif dan akseleratif, co-evolusi pikiran, budaya, dan teknologi. Ini juga merupakan tujuan yang lebih positif, tidak begitu memberi kesan memalukan bahwa seseorang telah melakukan kesalahan atau tidak cukup mengerjakan pekerjaan rumahnya. Continue reading →

Karena Rasa itu Nyata…Refleksi Psikodrama di Maranatha Bandung


“Ketika berbicara tentang pengalaman mengikuti psikodrama, maka yang paling mendominasi adalah pengalaman rasa… Dan ketika berbicara mengenai pengalaman rasa, maka “harus” siap kembali berkaca pada diri – karena pikir bisa diajari, laku bisa dipengaruhi, tapi rasa muncul murni dari dalam hati…”

Kurang lebih itulah yang saya rasakan selama mengikuti proses workshop psikodrama pada 19 – 20 Desember 2018 yang lalu. Berawal dari tujuan “sekedar” mengisi hari-hari terakhir di semester ini dengan sesuatu untuk menambah ilmu, ternyata saya bukan hanya mendapatkan ilmu, tapi juga banyak peneguhan dan pembelajaran, baik dari pengalaman pribadi saya sendiri, maupun pengalaman-pengalaman peserta lain yang turut dibagikan melalui setiap proses dalam workshop psikodrama ini.

Awalnya saya pikir hanya aspek kognitif alias alam pikiran saya saja yang akan banyak “bermain” ketika saya mengikuti workshop psikodrama ini. Tapi ternyata, justru aspek afeksi alias perasaan saya justru yang paling banyak diacak-acak, diubek-ubek, sampai pulang-pulang merasa lemas dan lunglai…

Anehnya, justru perasaan senang, syukur, dan excited-lah yang paling banyak mendominasi selama saya mengikuti prosesnya – bahkan setidaknya hingga hari ini saya menuliskan sharing saya, tepat 3 hari setelah workshop berlalu, saya masih bisa mengingat dengan jelas setiap proses yang saya lalui selama 2 hari mengikuti workshop psikodrama.

Mungkin karena meskipun perasaan saya diacak-acak dan diubek-ubek, tapi seolah saya tidak hanya menambah ilmu baru, melainkan juga disadarkan dan diingatkan kembali mengenai diri saya sendiri melalui prosesnya. Seolah workshop ini adalah paket all in one. Hehehe…

Maka, terima kasih kepada Mas Didik untuk ilmu dan proses pembelajaran yang luar biasa dan tidak akan saya lupakan… Terima kasih juga untuk obrolan-obrolan singkat, yang semoga bisa bermanfaat juga ke depannya, bukan hanya bagi saya, tapi juga bagi semakin banyak orang di luar sana…

Terima kasih juga kepada Bu Wiene dan Mas Yun, serta para panitia…
Terima kasih untuk para peserta yang juga bersedia menjadi kelompok belajar yang nyaman dan menyenangkan…

Semoga semuanya selalu berani jujur pada diri sendiri, berani memancarkan warna asli dari dalam diri… Karena semesta lebih indah justru karena keunikan masing-masing pribadi yang mendiaminya…

= Puspa_Psikologi_Universitas Kristen Maranatha_Bandung_23122018 =

Kebebasan ; Pengalaman Psikodrama di Jakarta Timur


Assalamualaikum Mas,

Terkadang, kungkungan norma atau pola asuh bikin kita jadi kaku dalam menampilkan diri. Takut dengan tindakan-tindakan yang tidak biasanya. Label, judgment, hmmm…makanan sehari-hari kalo kita tampil out of the box, akhirnya mikir berkali-kali jika mau mengekspresikan diri. Hasilnya….yaa…bisa ketebak, klo kita akan jadi biasa’biasa aja dan harus puas jadi yang biasa itu, kerena sesuai norma.

Tapi ternyata… saat diri kita mengijinkan diri sendiri untuk tampil apa adanya, bebas semau kita bahkan bebas menembus batas yang ada, kita bisa melampui dari apa yg kita perlihatkan selama ini.

Aku bisa jadi pohon yang berkelok-kelok, tanpa harus jadi pohon yg menjulang tinggi dengan angkuhnya.
Aku bisa jadi akar, yang tidak hanya berada di bawah, tetapi juga jadi akar yang sangat kokoh karena terisi padat di dukung akar lainnya terus ke atas menopang dahan, dan aku bisa jadi apa yang aku mau…☺

Kemarin…., ketemu orang-orang hebat yang bisa jadi apa yang mereka mau tanpa ada batas. Semuanya praktek tanpa tembok harus belajar teori dengan mencatat. Perlahan tapi terasa, tembok-tembok itu mulai runtuh. Aku akan jadi apapun yang aku mau. Bebaaaasss..melampaui diri sendiri ☺☺

Panjang yaa…tapi dalem loh, karena dari hati paling dalam.

Jakarta, 18 Desember 2018

SNP

Bahagia Menjadi Diriku Sendiri : Pengalaman Psikodrama di Jakarta Timur


Salam Psikologi
Psikologi untukku
Psikologi untuk kita

 

Pertama kali mendengar kata Psikodrama, rasanya kembali ke masa kecil dimana aku sering memainkan peran serial pendekar …aku suka memainkan peran sebagai kesatria wanita.

Begitu antusias aku mengikuti sesi Psikodrama HARI INI … Begitu semangat …dan bagiku kembali ke masa kecil saat aku harus memainkan sebuah peran adalah kembali ke KEBAHAGIAAN sesungguhnya….

Satu hal yang aku dapat setelah sesi Psikodrama hari ini adalah ” Jadilah dirimu sendiri Mei… karena tidak akan ada yang dapat melakukannya lebih baik dari dirimu sendiri ”

Terimakasih mas Didik atas ilmunya,
Terimakasih sudah mengembalikan kebahagiaan masa kecilku,
Terimakasih juga sudah membuatku sejenak menyadari bagaimana proses PERAN – PERAN yang ada di dalam diriku membuatku bahagia menjadi DIRIKU SENDIRI .

16122018
Mei – DEPOK

I Feel Free ….. Berbagi Pengalaman Psikodrama di Jakarta Timur


Salam Berbagi.
Salam Psikodrama.
Salam Psikologi Kita.
Camera – Roll – Action
Peran apa saja, bebas mainkanlah !!
Salah ? ….Boleh !!
I’m Here untuk meng-explore diri sendiri.

And Now yang saya rasakan ? Perasaan tenang, bisa berekspresi ….and yeaah, ….i feel free.

Bye. I’M 💃

 

I’M seorang peserta Psikodrama di Jakarta

%d bloggers like this: